Fabana.id. Mendengar kata wali kelas, dengan serta merta, pikiran kita akan mengarah pada sosok berusia sekitar 40-an tahun, atau lebih tua, sangar, atau berwibawa. Namun tidak demikian halnya di Kulliyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor/Gontor. Di lembaga ini, wali kelas 1–6 berusia sekitar 21–25 tahun, hampir sebaya dengan muridnya, hanya terpaut usia sekitar 3–5 tahun. Akan tetapi jangan tanya peranan dan kiprahnya, sungguh menakjubkan. Berikut ceritanya.

Wali kelas di KMI PM Gontor dipilih oleh Direktur KMI berdasarkan rekam jejaknya sejak yang bersangkutan menempuh pendidikan di jenjang KMI hingga perjalanannya sebagai guru setamat KMI. Kecuali prestasi belajar, rekam jejak dalam hal akhlak sangat diperhatikan, sebab, bagi Gontor, guru adalah nyawa pendidikan, yang harus menjadi teladan bagi siswanya, lahir maupun batin. Meskipun prestasi belajarnya rata-ratanya tidak terlalu menonjol, alias cukup, namun akhlaqnya baik, dia dapat terpilih menjadi wali kelas. Yang juga penting, prestasi pelajaran utamanya (Dirasah Islamiyyah dan Bahasa (Arab/Inggris) bagus.

Dalam tradisi Gontor, wali kelas 1 harus berasal dari guru, minimal, tahun kedua, dipilih berdasarkan kedewasaan secara keilmuan maupun psikologis. Sebelumnya, sosok itu, kemungkinan, sudah pernah menjadi wali kelas 2 atau 3. Sedangkan wali kelas 2–6 dipilih dari guru tahun ketiga sampai tahun keenam. Makin tinggi kelasnya makin tinggi pula tahun mengajar wali kelasnya. Untuk wali kelas 6, dipilih guru-guru tahun keempay atau atasnya, atau mereka yang sudah menyelesaikan sarjananya.

Yang juga menarik, wali kelas, yang juga mahasiswa, itu tidak mesti dipilih dari mahasiswa atau sarjana Fakultas Tarbiyah (Ilmu Pendidikan) Universitas Darussalam (perguruan tinggi milik PM Gontor), melainkan juga dari fakultas Syari‘ah, Usuluddin, Ekonomi Islam, atau program studi di lingkungan Fakultas Humaniora. Yang jelas, mereka telah memiliki pengalaman mengajar dan pengalaman menjadi wali kelas sebelumnya.

Mengapa pemilihan wali kelas di KMI Gontor tidak linier, tidak reguler? Gontor memang beda, memiliki tradisi tersendiri dalam hal ini, tradisi keteladanan. Meskipun masih muda, bidang studinya juga bukan dari lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan, mereka adalah orang-orang yang pernah dididik dengan cara serupa oleh wali kelasnya terdahulu. Maka, dalam mengemban amanah, wali kelas itu mengandalkan tradisi, apa yang dulu wali kelasnya lakukan untuk mendidik muridnya, begitu pula dia mendidik muridnya sekarang.

Sebelum mengemban amanah, para wali kelas itu telah mendapat pengarahan dari Direktur KMI. Selebihnya, seolah, mereka bekerja dengan insting. Masing-masing wali kelas dibekali buku besar, yang berisi segala variabel yang terkait dengan kelas yang dipimpinnya. Di antara isinya, daftar murid, daftar guru pengajar semua mata pelajaran, asal daerah murid, asal abjad kelas sebelumnya, dsb. Sebagai catatan, di Gontor diberlakukan gradasi kelas berdasarkan abjad. yakni kelas B, C, D, E, F, G, dst. Siswa yang duduk di kelas B adallah siswa yang terbaik prestasi belajar di kelas sebelumnya, diikuti abjad-abjad di bawahnya.

Hal lain yang dilakukan wali kelas adalah berdiskusi, bertukar pikiran dan pengalaman dengan wali kelas lainnya, baik yang satu tingkat kelas, maupun wali kelas di atasnya. Kecuali itu, untuk memotivasi murid, agar dekat, mudah dididik, dan diarahkan, berbagai macam cara dilakukan wali kelas. Ada yang membuat video klip tentang aktivitas kelasnya, sejak awal tahun hingga pertengahan tahun; ada yang mengajak muridnya berpuasa Senin-Kamis; melakukan tahajjud bersama, atau memanggil murid-murid tertentu ke kamarnya. Ya, mudahnya, di Gontor, guru dan murid sama-sama beasrama penuh, sehingga kapan saja wali kelas memanggil murid, atau murid ingin bertemu wali kelas, mudah dilakukan.

Wali kelas di Gontor

Suasana belajar malam (muwajjah) saat ujian di Gontor.
Foto: gontor.ac.id

Yang rutin dan wajib dilakukan, setiap malam, usai shalat Isya’, setiap kelas mengadakan “muwajjah” (‘belajar malam bersama wali kelas’) di kelas-kelas yang telah ditentukan, berlangsung pukul 20.00–21.30 WIB. Saat itu, setiap murid boleh membawa buku apa saja yang ingin dipelajari, atau ditanyakan kepada wali kelasnya. Terkadang, di akhir waktu belajar malam, wali kelas memberikan motivasi (bahasa Gontornya “tasyji‘”) kepada muridnya, tentang wawasan keilmuan, cerita tentang orang besar atau hebat (ilmuwan), atau yang lainnya. Masing-masing wali kelas memiliki cara tersendiri. Sekali lagi, mereka meniru apa yang pernah dilakukan oleh wali kelas mereka terdahulu. Menjelang ujian, belajar malam bisa berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Pada saat ujian lisan, wali kelas mengumpulkan muridnya, untuk belajar, di depan kamarnya. Namun tidak lagi ketika berlangsung ujian tulis.

Begitulah wali kelas di KMI Gontor, mengemban amanah berdasarkan pengalaman dan keteladanan wali kelas terdahulu. Wali kelas-wali kelas terdahulu juga meneladani wali kelas sebelumnya. Memang. di Gontor, keteladanan diturunkan dari generasi ke generasi, sejak mula pertama KMI didirikan hingga sekarang. Itu pula yang membuat kualitas Gontor masih terjaga. Bagi penulis, yang mengagumkan, ada cita-cita mulia dari para guru di Gontor. Mereka ingin terpilih menjadi wali kelas 6, kelas tertinggi di KMI Gontor. Mungkin di kelas ini kesan akan jauh lebih mudah terbentuk, Begitu banyak aktivitas di kelas tertinggi ini yang membuat wali kelas sangat dekat dengan para muridnya, yakni membimbing pagelaran seni Panggung Gembira, aktivitas Fathu al-Mu‘jam (‘mencari kosa kata dalam kamus bahasas Arab), Fathu al-Kutub (‘belajar mengkaji kitab klasik’), dan Tarbiyah Amaliyah, yakni ujian praktik mengajar bagi seluruh siswa kelas 6. Semuanya memerlukan bimbingan yang intensif dari wali kelas. Kesan pun terbentuk, dan begitu lekat.

Kesan terhadap wali kelas, yang begitu mendalam, itu akan terbawa ke ujung dunia mana pun. Jika bertemu, meskipun sang murid sudah lebih dahulu melanglang buana, dengan gelar uang disandang lebih tinggi dari wali kelasnya, rasa ta‘zhiem kepada wali kelas itu tidak luntur. Kesan itu juga tidak hanya dirasakan oleh para murid, melainkan juga para wali murid. Suatu kali, pernah, penulis membaca di sebuah media sosial, seorang ibu memajang foto anaknya dengan wali kelasnya, dengan tambahan komentar, “Anakku bersama wali kelasnya yang hebat.” Mengharukan. Mungkin ibu itu merasakan, anaknya yang dulu kurang bernyali, menjadi bernyali setelah ditangani wali kelas tersebut, santun, berilmu, dan lebih taat kepada orangtua. Wallahu a’lam. Yang jelas, masih banyak mutiara terpendam di Gontor belum tertulis dan terpublikasikan. Saya ingin menulisnya.

Oleh:  Drs. Nasrullah Zainul Muttaqin

Foto: Adegan film Negeri 5 Menara (courtesy KG Production)