Lewat sebuah perahu bernama Venture Capital atau Modal Ventura, pendanaan perdagangan tersebut tidak perlu lagi mengandalkan pinjaman dana dari industri perbankan. Hanya dengan modal ide yang kreatif, inovatif dan prospektif, generasi milenial sudah bisa sejajar dengan para pengusaha besar yang lebih dahulu berjalan.

FABANA.id. Wakaf, tahukah Anda apa itu wakaf? Ada banyak potensi dari wakaf yang bisa menjadi jawaban persoalan ekonomi bangsa ini. Tapi sebelum membahas lebih dalam mengenai wakaf dan terutama Wakaf Ventura. Mari kita lirik dahulu kondisi ekonomi di Indonesia dewasa ini.

Dalam tiga tahun terakhir ini geliat perekonomian di Indonesia semakin memperlihatkan perkembangan yang sangat signifkan. Walau sempat goyang dilanda krisis dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD hingga mencapai Rp 14.000 di 2015. Tapi, tidak menyurutkan aktivitas perdagangan di dalam maupun luar negeri. Dan tidak separah Yunani yang sampai kalangkabut atau seperti USA yang terpaksa shutting down aktivitasnya pada 2008 lalu.

Salah satu daya tarik yang memicu adalah sektor industri digital yang dipelopori oleh generasi milenial. Ditandai dengan muncul beragam usaha rintisan berbasis digital (startup) diberbagai sektor. Ibarat gadis desa yang ayu mempesona, ide-ide kreatif generasi milenial ini banyak dilirik oleh para bujang yang tinggal di kota hingga mancanegara. Tak tanggung-tanggung, kucuran dana hingga triliunan rupiah diberikan supaya dapat meminang sang gadis pujaan.

Lewat sebuah perahu bernama Venture Capital atau Modal Ventura, pendanaan perdagangan tersebut tidak perlu lagi mengandalkan pinjaman dana dari industri perbankan. Hanya dengan modal ide yang kreatif, inovatif dan prospektif, generasi milenial sudah bisa sejajar dengan para pengusaha besar yang lebih dahulu berjalan. Bahkan banyak pelaku usaha konvensional yang merasa terancam dengan kemunculan usaha berbasis digital tersebut.

Lah kok bisa? Tentu sangat bisa. Lihat saja para pelaku startup tersebut, baru berjalan dua tahun sudah bisa merebut pasar yang selama ini didominasi oleh pendahulunya. Tanpa perlu bangun hotel, sudah bisa berbisnis di sektor perhotelan. Tidak perlu beli armada  banyak sudah bisa berusaha di sektor transportasi.

Cukup membuat lapak dagangan di website sudah bisa berbisnis aneka barang. Tidak perlu lagi bangun toko di pinggir-pinggir jalan strategis. Ingin punya aset pertanian tapi tidak ada tanahnya? Dengan trobosan berbasis digital, semua orang punya kesempatan untuk investasi pertanian. Ingin mengasah ketrampilan mengajar, tapi tidak ada muridnya? Lagi-lagi lewat digital, kebutuhan murid dan guru bisa dipertemukan.

Maka, sekarang banyak anak-anak muda yang lebih bangga membubuhkan jabatan Co-Founder, Founder, CEO, COO, CTO atau Owner atas usaha yang ditintisnya di kartu nama. Atau saat presentasi dan bercerita di berbagai kesempatan dengan para kolega bisnisnya. Istilah lebih baik menjadi kepala ikan teri dari pada ekor ikan paus agaknya tepat untuk para kreator dan inovator bangsa ini.

Dari perkembangan itu, lalu muncul sebuah pertanyaan klasik. Siapa yang diuntungkan dengan pendanaan model modal ventura? Siapa yang berkuasa penuh atas ide dan perkembangan bisnisnya? Sejauah mana peran founder atas ide-ide yang ditelurkannya?

Baik investor maupun founder masing-masing diuntungkan, sebab keduanya saling membutuhkan. Supaya produktif, investor butuh ide untuk menanamkan dananya lewat sebuah bisnis yang prospektif. Pun demikian, tanpa pendanaan, ide-ide cemerlang dari para Co-Founder hanya berhenti di rapat internal dan terkungkung dalam kerangka pikirannya.