tjokroaminotoRaden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, yang sekarang lebih dikenal dengan nama HOS Cokroaminoto, lahir di Desa Bukur Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1882. Kelahirannya  bertepatan dengan meletus Gunung Krakatau. Ayah Cokro merupakan seorang pegawai pemerintahan. Ia termasuk sebagai keluarga pejabat karena pamannya, R. M. Cokronegoro, pernah menjabat Bupati Ponorogo.

Cokro dikenal sebagai pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI), sebuah organisasi yang sangat terkenal sebelum kemerdekaan. Cokro meninggal pada 17 Desember 1934 di kota “Pelajar” Yogyakarta. Atas jasanya, ia dianugerahi Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Keppres No. 590 Tahun 1961 tanggal 9 November 1961.

Pada tahun 1924 Cokro menulis buku yang sangat terkenal hingga sekarang, “Islam dan Sosialisme”. Latar belakang penulisannya dikarenakan pada waktu itu terjadi pemilihan-pemilihan ideologi bangsa. Selain itu juga karena paham ideologi yang digagas para tokoh dunia sedang digandrungi oleh pemuda Indonesia, seperti sosialisme, Islamisme, kapitalisme dan liberalisme. Selain sebagai aktivis politik, Cokro seorang pemikir. Ia juga sering menyampaikan ceramah.

Buku “Islam dan Sosialisme”, merupakan salah satu master piece penting bagi Indonesia. Cokroaminoto menulis buku ini dalam bahasa Indonesia pada 1924, empat tahun sebelum Sumpah Pemuda. Sempat pula buku ini dicetak ulang, antara lain pada 1950 dan 1962.

Dalam buku ini, Cokroaminoto menggali “anasir-anasir sosialisme” dari khazanah Islam yang sumber dari teologis maupun dari pengalamannya. Ia menekankan bahwa sosialisme sejatinya terkandung dalam hakikat ajaran Islam. Menurutnya sosialisme yang ideal harus diarahkan oleh keyakinan agama (Islam). Cokro sangat yakin bahwa sosialisme Islam sangat sesuai untuk diterapkan di Indonesia

Cokro sebelumnya memulai dengan perjalanan intelektual dengan memeriksa konsep sosialisme dari Eropa, bahkan pemikiran Karl Marx, hingga konsep sosial politik yang berseberangan. Setelah mengajukan kritik atas gagasan pemikir Eropa, ia membandingkan temuannya dengan pemikirannya sendiri mengenai dasar-dasar sosialisme dalam Islam, dengan mendasarkan pada al-Qur’an dan Hadis.

Ia antara lain berpijak pada Surat Al-Baqarah ayat 213, bahwa perikemanusiaan itu adalah satu kesatuan. Pemikirannya ini, mengarah pada tatanan pemerintahan Nabi Muhammad dan para khalifah, terutama pada masa khalifah Umar. Saat itu, pemerintahan Islam berpijak pada nilai-nilai persatuan, ukhuwah islamiyah, kemerdekaan, dan persaudaraan.

*) artikel ini disarikan dari berbagai sumber.

Oleh: Tim Peringatan Hari Pendidikan Fabana.id