borobudurIndonesia dengan kekayaan alamnya masih meninggalkan banyak misteri yang sampai detik ini semakin menarik untuk diikuti. Salah satu peninggalan di Indonesia yang mendunia adalah Borobudur. Sekilas, para wisatawan yang datang hanya melihat bongkahan batu dengan ukiran-ukiran yang indah.

Namun, tidak hanya itu saja. Borobudur memiliki serangkain sejarah panjang yang tidak berhenti untuk diteliti oleh berbagai pihak hingga sekarang. Mulai dari Fahmi Basya dengan temuannya yang menunjukan bahwa Borobudur sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman. Hingga temuan terbaru yang menyatakan bahwa candi seluas 2.500 m2 itu ternyata berada di tengah danau purba yang diperkirakan memiliki lebar sekitar 8 kilometer pada 10 ribu tahun yang lalu atau pada periode Kala Plistosen akhir.

Informasi tersebut dikutip dalam fanpage Atlantis Indonesia yang diunggap pada Jumat (14/10/2016). Dalam tulisan tersebut mengungkap bahwa danau raksasa yang menjadi tempat candi di Magelang itu hilang akibat proses alamiah dan non alamiah karena mengalami proses pendangkalan.

Temuan tersebut dapat ditunjukan buktinya dari material penutup endapan danau yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanik, tektonik, gerakan masa tanah dan batuan, serta aktivitas manusia. Bahkan, jejak lingkungan danau juga dapat ditelusuri dari relief candi dan troponin yang menunjukkan adanya lingkungan danau.

Seperti yang dikutip di otonomi.co.id, Direktur Utama Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero) Purnomo Siswoprasetjo menjelaskan. Pada tahun 1931, seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Daratan Kedu (lokasi Borobudur menurut legenda Jawa) dulunya adalah sebuah danau purba.

Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Ini sebuah hipotesa yang menjadi perdebatan hangat di kalangan para ilmuwan saat itu.

Van Bemmelen dalam bukunya The Geology of Indonesia menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini hingga lenyap.

“Fakta geologi juga memberi dukungan pada pendapat itu. Di sekitar candi terdapat sumur yang airnya asin. Tetapi yang sumurnya asin tidak di semua daerah, hanya di titik tertentu,” jelas Purnomo soal dugaan Borobudur dibangun di tengah danau purba.