Pada hari libur tanggal merah 17 Agustus, lihatlah bagaimana pasar, kantor, rumah sakit, atau apapun tempatnya yang masih dipenuhi orang bekerja. Begitu pula radio dan tv masih terus menayangkan acaranya di tanggal merah tersebut.

Orang yang merdeka adalah orang yang tetap bekerja ketika hari libur kemerdekaan, tanggal 17 Agustus. Mereka sanggup mengisi kemerdekaan kapan pun, meskipun hari libur. Bayangkan dedikasi mereka terhadap bangsa dan negara. Juga terhadap umat manusia.

Hari libur bukanlah penghalang untuk bekerja. Mereka terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Bagi mereka, setiap hari adalah tanggal hitam. Tidak ada kosa kata tanggal merah di pikiran mereka. Segala upaya pikiran dan tenaga dicurahkan agar terus bekerja. Bisa jadi negara ini amburadul jika mereka ikut meliburkan diri.

Lihatlah bagaimana pasar, kantor, rumah sakit, atau apapun tempatnya yang masih dipenuhi orang bekerja. Begitu pula radio dan tv masih terus menayangkan acaranya. Anda justru kaget jika menyetel tv kemudian tertulis: Maaf, kami tidak siaran karena hari libur. Bahkan jangan sampai negara ini libur juga. Kan aneh, jika negara Republik Indonesia meliburkan dirinya sendiri tepat saat hari kemerdekaannya. Maka kita harus bangga, meskipun hari libur, Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan segenap jajarannya, juga sampai tingkat gubernur, bupati, hingga lurah terus bekerja memikirkan rakyat meski hari libur. Ini adalah anugerah yang luar biasa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seandainya pun bangsa ini masih terjajah, kita pun pasti tetap akan bekerja. Bekerja tidak mengenal merdeka atau tidak. Merdeka, ya bekerja. Terjajah, ya bekerja. Bagaimana pun, bekerja adalah mendayagunakan segala pemberian Tuhan. Ya akal, ya waktu, ya tenaga. Semuanya. Jadi, jangan mengaitkan bekerja dengan hari libur. Keduanya adalah hal yang berbeda. Satu dengan yang lain tidak saling mempengaruhi.

Bekerja juga tidak mengenal waktu, bisa siang, bisa malam. Juga tidak mengenal tempat, bisa di hotel, di pinggir jalan, di pasar, di rumah, dan di mana saja. Pokoknya di hadapan kita terhampar luas potensi-potensi bekerja. Bahkan, duduk mengobrol sambil minum kopi juga bisa dimaknai bekerja. Anda jangan sampai terbebani dengan kata bekerja. Cintailah apapun pekerjaan itu, maka anda akan enjoy dan menikmatinya.

Bekerja juga jangan hanya dimaknai dengan kegiatan menghasilkan uang. Itu makna yang sangat sempit sekali. Coba sesekali anda pergi ke pantai, duduk-duduk sambil memandangi lautan yang sangat luas. Anda renungi mengapa laut airnya asin, mengapa ia diciptakan lebih luas dari daratan, mengapa ada berbagai macam hewan di laut yang hingga kini manusia masih saja menemukan spesies-spesies baru, mengapa samudera menyimpan banyak misteri di dalamnya, apakah manusia bisa hidup tanpa laut, mengapa laut kita luas tapi malah mengimpor garam, mengapa industri garam kita kalah bersaing dengan bangsa lain, dan ratusan pertanyaan lain yang bisa anda ajukan. Tak mengapa jika anda tak menemukan jawabannya, yang penting anda sudah berani melemparkan berbagai pertanyaan. Toh tak semua pertanyaan ada jawabannya di dunia ini. Meski tak ada hubungannya dengan uang, perenungan semacam itu termasuk bekerja.

Bisa jadi setelah anda merenung sekian kali, di tempat yang berbeda-beda, ide-ide kreatif akan muncul yang dapat berguna untuk umat manusia. Apalagi jika ide-ide tersebut bisa mengubah haluan peradaban, membangun sebuah paradigma baru, serta menyuguhkan inovasi, tentunya merupakan manfaat yang tak terkira banyaknya. Saya minta tolong jangan anggap ini sebuah motivasi, karena saya tak cocok jadi motivator. Bahkan dari segi tampilan pun tidak. Tapi saya mengajak anda semua untuk memaknai bahwa bekerja itu bukan tuntutan, melainkan kebutuhan untuk mendayagunakan anugerah Tuhan. Bahwa tiap detik begitu berharga, itu benar. Bahwa tidak akan ada waktu terulang, itu juga benar. Alangkah sia-sianya jika waktu yang dilalui kemudian dimaknai secara sempit, semisal falsafah time is money.

Tancapkan dalam diri anda bahwa kemerdekaan itu sebagai kedaulatan kreatif untuk menghasilkan karya. Bukankah diberi sebuah kesempatan hidup saja itu sudah luar biasa nikmatnya. Kecuali sejak di dalam pikiran anda telah berniat untuk merampas hak-hak orang lain, menindasnya, mencuri sebisa mungkin apa yang bisa dicuri, dan menipu siapa saja dengan segala upaya, maka anda sesungguhnya sedang melawan potensi bekerja. Dengan kata lain, anda sedang melepaskan kemerdekaan itu dari diri anda. Dapat juga dimaknai bahwa anda tidak dijajah oleh siapa pun, melainkan anda sendirilah yang menjajah diri sendiri.

Foto: Bisnis.com