“Coba Dhul, cek perubahan Surabaya semenjak dipimpin Risma?” Begitu pesan grup WA di smartphone saya.

FABANA.id-Surabaya. Tidak ada ingatan saya tentang kota ini kecuali saat studi tur semasa STM, yaitu: panas mengungkup. Tapi, semenjak saya check out dari My Studio hotel, lalu berjalan kaki hingga sampai di jalan Yos Sudarso, di hari itu, cahaya siang kota Surabaya begitu ramah. Sepanjang jalan Yos Sudarso cukup padat namun sedikit pejalan kaki di trotoar. Dari sekian banyak momen di depan gedung DPRD Kota Surabaya, hanya satu yang menjadi perhatian saya : tidak satu pun mobil yang bersedia mengambil jalur pengendara sepeda. Amazing!

Saya musti singgah di Surabaya selama tiga hari dua malam, karena jadwal keberangkatan kapal ferry ke Lombok ada di Sabtu sore. Selama penantian itu, saya tinggal di daerah Dharmawangsa II, sebuah area yang dikenal sebagai salah satu wilayah kosan kampus B Universitas Airlangga. Saya menempati kamar kosan yang cukup besar dengan fasilitas lengkap (kipas angin, queen size bed, dan lemari), serta terpisah dari kamar milik sepupu teman saya. Semua itu saya nikmati free on charge. Beruntungnya saya.

Saya pun segera membuat rencana perjalanan wisata di Surabaya. Saat mengecek beberapa objek wisata via online, saya menyadari bahwa ekonomi di kota pahlawan sedang bergerak baik, rupanya; ketiga brand besar ojek online melakukan promosi besar-besaran secara serentak.

Bayangkan saja, perjalanan berjarak lebih dari dua kilometer, seperti dari Zangradi Ice Cream hingga ke Masjid Muhammad Cheng Ho, hanya senilai kurang dari lima ribu rupiah. Kemudahan fasilitas transportasi ini lah yang diharapkan dari sebuah kota besar, hingga jemari saya tak kuasa memencet tombol reservasi perjalanan tersebut.

Sekilas, Masjid Muhammad Cheng Ho tidak terlihat keberadaannya. Hal itu dikarenakan posisi bangunan berada di bagian utara komplek PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia), sehingga bangunan bertingkat bagian selatannya menutupi bangunan masjid. Ketika melangkah masuk ke dalam komplek, saya rasakan nuansa teduh memancar yang ternyata berpusat pada bangunan merah dengan 8 Pat Kwa di atasnya.

Bentuk bangunan hanya seluas 9×11 meter, namun benar-benar mencirikan kebudayaan Tiongkok. Fungsi masjid diperkuat dengan hadirnya lapangan olahraga dan kegiatan belajar-mengajar, sedangkan kesan masjidnya diperkuat dengan lafadz berbahasa Arab dan beberapa ornamen Cina. Lebih jelasnya, tanah seluas 3070 M2 tersebut merupakan hasil hibah dari H.M Trisnoadi Tantiono dan H.M.Y Bambang Sujanto untuk Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia. Melalui kehadiran Masjid Muhammad Cheng Ho, akulturasi di Surabaya mendapatkan simbolnya, menurut saya.

Perjalanan saya berlanjut ke jembatan Suramadu. Dibantu seorang kakek pengendara ojek online, saya menelusuri jalan menuju bagian utara kota Surabaya. Di bagian ini, saya menyaksikan sisi urban fringe ibukota. Kemacetan, kesimpangsiuran lalu lintas jalan, konvoi truk-truk berat, debu asap knalpot, teriakan Bonek mania, lapak-lapak besi di trotoar jalan, dan stereotip orang Madura di Surabaya.

Kakek yang membantu saya berkendara menyebut mereka sebagai Englis (bukan pronounce: english). Sayangnya, sang kakek menolak memberitahu saya arti sesungguhnya dari Englis meski sudah diminta berkali-kali. Masih ada banyak istilah lain, menurut sang kakek. Semuanya diciptakan oleh sebagian besar warga Surabaya, dan bermakna negatif. Tetapi saya malas untuk mendalaminya lebih lanjut, karena meredam konflik semacam ini adalah tantangan pejabat setempat ke depannya.

Jembatan yang saya tuju adalah penghubung dua pulau dan memanjang hingga 5000 meter lebih melintasi selat. Sejatinya, jembatan Suramadu adalah jalan tol. Tetapi, kendaran roda dua kami masuk tanpa dikenai biaya. Belakangan saya tahu, peraturan gubernur Jawa Timur membebaskan biaya masuk tol bagi pengendara motor di Suramadu untuk mengurangi kemacetan yang terjadi, terutama menjelang Iedul Adha.

Beberapa taman hiburan hadir untuk mendukung landmark ini sebagai destinasi wisata. Sayang, beberapa aspek kurang mendapatkan perhatian, terutama untuk hal berupa publikasi. Perlu diketahui bahwa biaya ojek saya untuk sekali thawaf di sana (Masjid Cheng Ho – Jembatan Suramadu – Bangkalan – Jembatan Suramadu – World Trade Center Surabaya) hanya sebesar Rp 50.000,-. Prioritas lain tampaknya menguras perhatian pejabat terkait ketimbang faktor wisata di jembatan terpanjang se-Indonesia ini. Entahlah.

Program untuk usahawan kecil di Surabaya juga menarik untuk disimak. Saya mendapati informasinya melalui jalan-jalan saya ke Pasar Pagi Tugu Pahlawan. Dulunya, pasar kaget ini hanya beroperasi di hari libur, di pukul 5 – 11 Wib. Sekarang, waktu operasional di tambah hingga Senin-Jumat, pukul 5 – 9 pagi. Banyak dari para pedagang menjual jenis-jenis pakaian murah, dan kebanyakan bekas. Tapi sepanjang pengamatan saya, kualitasnya masih bagus. Banyak juga penjaja makanan kecil di sana yang tentu tidak kalah nikmat, serta penjual aksesoris-aksesoris lain. Kegiatannya hampir mirip dengan Pasar Senen di Jakarta.

Saat bergerak masuk ke komplek Tugu Pahlawan, saya menemukan fakta kota Surabaya yang disebut sebagai Kota Pahlawan. Sisa-sisa reruntuhan berdiri di selatan komplek tugu. Pada tiang rerentuhannya tertulis kata-kata perjuangan yang senantiasa terawat untuk diabadikan. Sedangkan di area timur, koleksi kendaraan masa-masa perjuangan diperagakan. Beberapa meter kemudian, akses masuk menuju museum di bawah langsung bisa saya temui.

Sebagaimana perannya, di museum tersebut terdapat diorama, serta koleksi semasa agresi militer asing di tahun 1945, seperti : buku harian Bung Tomo, perlengkapan senjata pasukan Inggris, dokumentasi foto, serta koleksi bambu runcing. Takjub saya ketika mengetahui bahwa para pahlawan tersebut mampu menghabisi ribuan pasukan Inggris hanya berbekal bambu runcing.

Jujur saja, saya tidak dapat mendeskripsikan museum ini dengan majas yang saya ketahui, karena ketakjuban saya berlanjut dengan kehadiran beberapa remaja berseragam sekolah, di pagi hari Sabtu, pukul delapan. Mereka datang tidak dengan cekikan manja, narsis berlebihan, atau sikap hedon ter-update produk sinetron Indonesia. Gelagat mereka adalah gelagat terpelajar; datang sambil memperhatikan dengan seksama satu persatu koleksi museum. Tak berselang lama, rombongan studi tur anak-anak TK berbaris masuk ke museum 10 November. Kondisi museum pun hiruk pikuk.

Melalui pengalaman berkunjung ke Museum 10 November, muncul premis bahwa stereotip kepahlawanan kota Surabaya akan selalu terjaga. Stereotip itu tidak harus negatif. Mungkin ada yang belum tahu bahwa di bawah tugu pahlawan terkubur para pejuang tanpa nama, serta dekat dari area komplek terdapat titik 0 Km kota Surabaya. Di titik itulah peristiwa 10 November 1945 nan heroik bermula. Ada yang tahu titik 0 Km itu berada? Saya tahu.

Kota Surabaya memiliki simbol Hiu dan Buaya, dipenuhi warna-warni bunga, taman-taman, sungai yang bersih dari sampah, danlandmark kepahlawanan. Pelabuhan Tanjung Perak pun kini memiliki fasilitas pelayanan layaknya standar bandara internasional. Saya tidak terlalu mengenal Surabaya. Namun saya yakin, Surabaya kini mengalami peningkatan positif yang drastis sebagai sebuah kota besar.