Prinsip efisien dan tidak membuang waktu. Banyak dari para leader memberi tugas anak buahnya mengerjakan suatu pekerjaan dengan tujuan agar anak buahnya dapat belajar.

 

FABANA.id-Jakarta. Generasi millennial merupakan aset masa depan bangsa Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2030, sebesar 70% dari usia produktif negeri ini, mayoritas datang dari generasi millennial.

Ini adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga 2000. Jika dilihat dari jumlah populasi
penduduk negara-negara kawasan Asia tenggara, Indonesia menjadi kunci jumlah penduduk produktif terbanyak. Dari 10 negara anggota ASEAN diperkirakan jumlah penduduknya mencapai 625 juta dan 23% nya adalah generasi millennial dari Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Yoris Sebastian, penulis buku “Generasi Langgas, Millennials Indonesia” berpendapat bahwa jika kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak bagus, maka bonus demografi yang sering dibicarakan akan berdampak pada beban demografi.

“Tapi sebaliknya, jika kualitas generasi millennials itu bagus, maka akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia yang bagus pula,” jelas Yoris saat peluncurkan bukunya di Jakarta.

Buku tersebut ditulis berdasarkan riset di 5 kota, ia mendapat gambaran yang luas mengenai generasi yang di tahun 2020-2030 akan mencapai usia produktif.

Pendiri OMG Consulting ini berujar bahwa, generasi millennial memiliki ciri yang unik dibandingkan baby boomers atau gen X. Seringkali ciri tersebut bertentangan dengan dua generasi sebelumnya tersebut.

Beberapa ciri millennial yang perlu diperhatikan supaya tidak salah perspektif adalah: Prinsip efisien dan tidak membuang waktu. Banyak dari para leader memberi tugas anak buahnya mengerjakan suatu pekerjaan dengan tujuan agar anak buahnya dapat belajar.

“Namun, tidak bagi generasi millennial jika sudah ada contohnya, sebaiknya leader tadi memberinya contoh supaya lebih sangkil. Dan biasanya generasi millennial akan dapat mengerjakan yang lebih baik lagi,” jelas Yoris.

Generasi ini juga memiliki rasa solidaritas tinggi terhadap kelompok. Mereka cenderung membentuk komunitas. Misalnya, komunitas pelestarian budaya di Desa Panglipuran, Bali. Lalu dengan berkembanganya teknologi dan derasnya arus informasi, membuat milenial belajar mengenai apa yang perlu diadopsi sesuai dengan
karakter mereka masing-masing.

“Mereka tetap berproses dengan gaya mereka sendiri. Mereka bukan generasi instan, tapi generasi serba cepat,” tambahnya.

Dengan kemajuan teknologi dan informasi, banyak peluang dan pilihan yang bisa mereka ambil. Tidak hanya itu, mereka harus fokus pada ikigai atau a reason to wake up ach morning.

Orang Jepang percaya tiap orang memiliki ikigai. “Ini dimulai dengan pertanyaan, ‘bidang apa yang kamu sangat kuasai?’, lalu ‘apa yang kamu sukai?’, ‘apakah dunia membutuhkannya?’, sehingga ‘bisakah kamu menghasilkan uang dari hal itu?”, ujarnya.

Dilla Amran, yang ikut membantu Yoris dalam penulisan buku juga menyoroti tentang perpindahan
generasi millennial dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Menurutnya, ciri millennial adalah challenge seeker. Berbeda dengan generasi dahulu yang lebih memilih berada di comfort zone. Generasi millennial akan mencari sesuatu yang baru jika pekerjaan yang ada saat ini dianggap terlalu monoton. Mereka bukan tidak loyal, tetapi memilih hal-hal yang memang perlu disetiakan. Generasi millennial adalah generasi yang berani mencari hal baru.

“Mereka bukan generasi yang doyan pindah, tapi mereka berani mencari hal baru. Dan saat menemukan
perusahaan yang tepat, mereka akan setia di sana,” cetus Yoris.

 

Foto: Seismic.