Menurut Kak Seto, media sosial telah membuat jangkauan para predator kian luas. Mereka tak mengenal usia, tingkat pendidikan, maupun ekonomi. Makanya kami selalu anjurkan jangan mudah mengekspos foto-foto anak. Ini bisa jadi sasaran predator.

 

Sejak 47 tahun, Seto Mulyadi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) tidak pernah bosan terjud di dunia anak-anak. Meski usianya sudah 66 tahun, namum semangatnya pantang pudar. Selain masih sanggup push-up sebanyak 80 kali.

Usianya terbilang tak muda lagi, 66 tahun. Tapi ayah empat anak dan satu cucu ini masih sangat energik menekuni profesinya yang seolah hanya bersentuhan dengan hal-hal menyenangkan, penuh canda, dan tawa anak-anak. Apalagi keceriaan seolah tak pernah lepas dari wajahnya. Padahal, pekerjaannya acap kali bersinggungan dengan kejadian tragis yang menimpa para anak.

Seperti beberapa waktu lalu ketika diminta menjadi saksi ahli Kepolisian Daerah Metro DKI Jakarta, Kak Seto bertemu dengan empat pelaku pengelola grup Facebook, Official Loly Candy’s 18+. Ia juga sempat menonton video yang diunggah para pelaku. Menurut dia, video itu berisi perbuatan yang sangat kejam kepada anak.

Kasus itu menjadi sorotan masyarakat karena menguak fenomena gunung es masalah kekerasan seksual terhadap anak. Bayangkan saja, grup itu berisi lebih dari tujuh ribu pengguna aktif yang mengunggah video atau gambar pornografi anak.

Polisi menemukan ada sekitar 600 konten video dan gambar pada grup itu. Anggota yang aktif tidak hanya dari dalam negeri, tapi luar negeri hingga Amerika Serikat. Yang lebih tragis lagi, dua dari empat pelaku pengelola grup tersebut ternyata masih berumur 17 tahun.

LPAI saat ini berusaha bergerak dari bawah untuk meningkatkan kewaspadaan para orang tua terhadap predator anak. Ia berharap lingkungan, mulai dari Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) bisa berpartisipasi aktif menjaga keselamatan anak.

Dikutip dari Beritagar.id,  Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Kak Seto mengungkapkan kegelisahannya soal penanganan pelaku pedofil. Aturan yang memberatkan sudah ada, tapi pada pelaksanaannya belum pernah para pelaku dikenai hukuman maksimal.

Berikut kutipan wawancaranya:

Kasus grup Facebook Official Loly Candy’s 18+, apakah pelaku terbatas di Jakarta saja?
Kami dari LPAI berharap bukan hanya Polda Metro saja yang mengungkap pelakunya, tapi polda-polda se-Indonesia. Penyebaran gambar-gambarnya sudah menjangkau wilayah internasional.

Pelanggaran apa saja yang dilakukan oleh para pelaku?
Ada dua. Pertama, anak-anak diperkosa, dieksploitasi secara seksual. Kedua, hasil gambarnya diunggah ke media sosial dan disebar begitu saja. Anak dipermalukan. Wajah mereka pun tidak ditutup. Itu sangat kejam.

Ada motif bisnis dari perbuatan pelaku?
Jelas. Sekali unggah mereka dapat US$15 dolar (sekitar Rp199.800). Kemudian untuk menjadi anggota harus aktif. Artinya, mereka mencari korban-korban berikutnya. Ini perbuatan sangat keji sekali.

Pelakunya terhubung dengan sindikat pedofil internasional?
Bisa jadi, karena hanya sindikat yang bisa memberikan iuran untuk gambar-gambar seperti itu. Makanya harus dilawan bersama. Selain polisi, mohon juga masyarakat dan keluarga waspada.

Empat pelaku Official Loly Candy’s 18+ yang ditangkap, ada yang di bawah umur dan ada juga perempuan.
Ini menunjukkan pelaku kekerasan terhadap anak tidak pandang usia. Mereka sebenarnya korban lingkungan yang tidak kondusif sehingga melakukan perilaku menyimpang tersebut.

Pelaku yang 17 tahun dan laki-laki mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual. Yang perempuan di bawah umur mungkin melakukan itu karena ada reward-nya. Bisa juga karena pacarnya pelaku sehingga dia membantu. Mungkin dia juga tidak punya rasa solidaritas terhadap sesama jenisnya. Yang jelas, ujungnya adalah uang.

Korbannya ada berapa?
Yang berwenang menyebutkan itu kepolisian. Sebelum kasus ini muncul di media, saya melihat sendiri video adegan-adegan yang sangat mengerikan itu. Bayangkan, anak umur tiga tahun bisa diperlakukan seperti orang dewasa. Jadi, sudah sampai hal yang sangat sadis dan penuh dengan kekejaman.

Bagaimana mengenali anak yang menjadi korban kekerasan seksual?
Kalau anak sudah tidak komunikatif lagi dengan orang tua, bisa menjadi tanda. Sebaliknya, para orang tua juga jangan memosisikan diri sebagai bos. Yang terjadi sekarang kan seperti ini. Anak harus gini-gitu. Padahal mereka tidak bisa diperlakukan seperti itu. Mereka butuh teman dan orang yang bisa mengeri perasaan dan permasalahannya.

Sebagai contoh, Emon di Sukabumi yang menyodomi lebih dari 100 anak. Separuh korbannya membela Emon dan mengatakan dia memberikan perhatian dan kasih sayang yang tidak mereka peroleh dari orang tua di rumah. Jadi, sekarang ini orang tua memang ditantang berlomba dengan para predator di luar sana. Anak lebih dekat dengan orang tua atau predator?

Apa yang dilakukan LPAI sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual anak?
Sejak 2014 kami terus kampanye pada keluarga, membuat seminar dan roadshow juga. Intinya, membangun komunikasi yang akrab dan efektif antara orang tua dan putra-putrinya. Ada kampanye yang kami buat agar orang tua tidak mudah marah, menjewer, membentak, dan sebagainya.

RT dan RW juga kami dorong untuk membentuk satuan tugas sahabat anak atau perlindungan anak. Jadi, kalau ada masalah di lingkungannya, jangan enggak peduli. Contohnya, kasus Engeline. Kiri-kanan rumahnya tahu kok Engeline diperlakukan seperti itu, tapi diam saja.

Padahal dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak ada pasal yang mengatakan, siapa saja yang tahu ada kekerasan terhadap anak dan diam saja, bisa dikenakan sanksi penjara lima tahun.

Bagaimana mengaktifkan RT dan RW?
Pemberdayaan masyarakat sangat penting. Kalau hanya mengandalkan polisi, terlambat. Ini yang kami rintis.

Kami sudah lakukan ini di tiga kabupaten dan kota. Kota pertama adalah Tangerang Selatan, Banten yang mendapat rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena setiap RT dan RW dilengkapi satuan tugas perlindungan anak. Lalu, di Banyuwangi, Jawa Timur dan Bengkulu Utara, Bengkulu.

Kalau menurut temuan LPAI, tren kekerasan seksual anak dari tahun ke tahun naik atau turun?
Ini fenomena gunung es. Jadi, kalau jumlahnya terus bertambah berarti ada peningkatan kesadaran masyarakat. Mereka mulai berani melapor.

Memang banyak kasus yang tidak dilaporkan?
Sering para keluarga dari kelas menengah ke atas tidak mau melaporkannya. Malah disembunyikan, ditutup-tutupi. Ini justru membuka peluang kasus semacam ini terus terjadi. Jumlah kasus kekerasan anak sebenarnya banyak.

Ketika kami bertemu aktivis perlindungan anak dari Inggris, mereka tertawa mendengar jumlah kasus kekerasan anak di Indonesia sekitar dua ribu kasus per tahun. Di Inggris yang penduduknya tidak sampai 100 juta jiwa, kasusnya bisa mencapai ratusan ribu per tahun.

Berarti budaya melapor masalah ini di masyarakat belum ada?
Belum. Ini yang terus kami kampanyekan. Masyarakat harus berani melapor supaya tidak membuka celah lebar bagi para pelaku untuk melakukannya lagi.

Kadang anak juga tidak berani melapor.
Kami juga memberi pelatihan ke anak untuk berani mengatakan tidak, kabur atau lari dari pelaku. Tapi ini harus ada simulasi. Anak harus terlatih untuk berani melawan, memukul, dan mengigit kalau bertemu dengan predator.

Modus predator anak saat ini seperti apa? Apakah mereka banyak mengincar anak dari media sosial?
Dengan adanya media sosial memang jangkauan mereka menjadi lebih luas. Mereka dengan mudah mengajak anak-anak bersahabat. Makanya kami selalu anjurkan jangan mudah mengekspos foto-foto anak. Ini bisa jadi sasaran predator. Anak bisa diajak bertemu oleh para predator ini hanya karena foto. Lalu, diculik.

Nah, polisi baru bisa menyatakan anak hilang kalau sudah satu kali 24 jam peristiwanya. Bayangkan, dalam rentang waktu tersebut anak bisa dibawa keluar kota sampai luar negeri. Dia bisa diperdagangkan, dijual organ tubuhnya, dieksploitasi secara seksual, dan lainnya. Ini kadang harus terus diingatkan.

Seto Mulyadi:Foto: Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id

Seto Mulyadi:Foto: Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id

Di mana kota di Indonesia yang paling tidak ramah anak?
Ha-ha-ha…. Saya tidak boleh menyampaikan itu, nanti ada yang tersinggung.

Oke, kalau kota ramah anak seperti apa?
Lembaga paling bawahnya, yaitu RT dan RW, guyub dan penuh komunikasi. Ada tempat yang ramah anak, seperti RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di Jakarta dan taman-taman di Solo. Petugas disebar di lokasi tersebut dengan pakaian preman untuk mengawasi para anak. Itu sudah menunjukkan lingkungan ramah anak. Jadi, mereka berani keluar rumah, jauh dari tindak kekerasan.

 

Apa yang paling mendesak dilakukan pemerintah saat ini?
Saat pemerintah SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pada 2014 sebenarnya sudah ada Gerakan Nasional AKSA (Anti Kekejaman Seksual terhadap Anak). Tapi sekarang mana gerakan itu?

Kalau dari sisi peraturannya apakah sudah cukup membuat pelakunya jera?
Sekarang gini aja deh. Undang-undang perlindungan anak sudah direvisi dua kali. Revisi terakhir ada pemberatan sanksi.

Yang kebiri itu?
Pertama, kebiri. Kedua, pemakaian chips supaya para predator ini bisa dimonitor berada di mana saja. Ketiga, hukuman seumur hidup. Keempat, hukuman mati. Sampai sekarang apa sudah ada pelaku yang dikenakan hukuman itu? Belum. Kalau ingin menimbulkan efek jera ya aparat hukum harus memberlakukan aturan tersebut.

Hukuman kebiri pun masih menjadi kontroversi.
Petunjuk teknisnya belum ada sampai sekarang. Sementara itu, yang harus menjalankan proses pengebirian harus dokter. Tapi IDI (Ikatan Dokter Indonesia) tidak mau melakukannya karena melanggar undang-undang dan sumpah dokter. Lantas, siapa pelaksananya?

Jadi, menurut Kak Seto hukuman kebiri yang ada sekarang pun belum jelas?
Apapun itu harus segera ada pelaksananya, misalnya dokter dari pihak militer. Tapi yang lebih penting, selain kebiri, ada hukuman seumur hidup dan mati kalau perlu.

Masalah kedua, wajah para pelaku ini jangan ditutup-tutupi. Kasus kemarin (Official Loly Candy’s 18+), wajah mereka di Polda Metro Jaya ditutup. Dibuka dong. Teroris dan koruptor saja dibuka. Kecuali di bawah umur ya. Pelaku pelecehan seksual perlu ditunjukkan ke masyarakat. Ini loh, hati-hati dengan manusia ini.

Seberapa bahaya para predator ini dibanding teroris?
Loh, ini juga merusak sebuah generasi. Para korbannya kemudian jadi pelaku kok. Korban perempuan biasanya penuh permasalahan psikologis. Ada yang bunuh diri, ada juga yang kemudian melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya.

Penanganan apa yang tepat untuk para korban?
Harus diterapi, dibawa ke psikolog. Kami makanya mendesak pemerintah daerah, dari dinas kesehatan atau dinas sosial, mau membiayainya. Biaya ke psikiater dan psikolog tidak murah. Para orang tua juga tidak dalam posisi menyalahkan anak atau mengungkit-ungkit peristiwa yang membuat dia tidak nyaman.

Kekerasan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Dulu ada peristiwa Robot Gedek. Kalau menurut Anda, sebenarnya apa yang salah?
Sistem pendidikan. Saat ini pendidikan diterjemahkan hanya sebatas membuat anak pintar matematika, rangking, berprestasi akademik yang bagus. Tapi kita lupa isi pendidikan seharusnya bukan itu, tapi etika dan estetika. Ini yang tidak diajarkan anak sejak usia dini.

Mengapa etika dan estetika?
Karena mengajarkan anak bersopan satun, keindahan, bertutur kata, melalui keteladanan. Bagaimana anak bisa bersikap sopan kalau orang tua atau gurunya kasar, marah-marah, dan main bentak? Ada orang tua menyuruh anaknya senyum begini, “Ayo senyum! Gitu aja enggak senyum.” Anak bisa membalas, “Loh, ayah atau ibu juga tidak senyum.” Ha-ha-ha….

Perlu ada lembaga untuk menjadi leading sector soal ini?
Kalau soal pendidikan ya Kemendibud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Di sana sudah ada yang mengurus pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan informal ini yang mengatur pengajaran anak usia dini dan masyarakat.

Kalau bisa, mohon Kemendikbud membuat buku, misalnya pendidikan seksualitas dan agama, supaya ada panduan bagi orang tua untuk mengajarkan ke putra-putrinya. Dengan demikian pendidikan anak Indonesia di rumah bisa sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Berapa rata-rata pengaduan kekerasan seksual terhadap anak yang diterima LPAI setiap bulan?
Mungkin sekitar 20 kasus. Kadang-kadang pengaduan juga ada lewat telepon saya.

Pelaku kekerasan seksual cenderung bergerombol atau individu?
Bisa dua-duanya. Pelaku Offical Loly Candy’s 18+ yang usia dewasa sempat kami tanya kenapa menyasar anak. Dia menjawab, anak-anak gampang dibohongi, bisa dibujuk, bisa diiming-imingi. Kami tanya lagi, kalau anak tidak mau bagaimana. Ya paksa, katanya.

Karena itu, para orang tua perlu melindungi anak dengan sepenuh hati. Bukan sekedar melarang anak tidak boleh ke mana-mana, tapi hatinya harus dilindungi. Anak harus merasa nyaman bercerita kepada orang tuanya.

Ada ciri khusus predator anak seperti apa?
Tampang kayak saya bisa jadi predator kok. Kadang dia bisa begitu baik. Beberapa yang ditangkap, wajahnya seolah dia bisa dipercaya sepenuhnya oleh orang tuanya. Jadi, mohon waspada. Itu yang harus selalu ditanamkan ke anak-anak. Ajarkan anak untuk menolak kalau dipegang oleh orang tak dikenal, terutama di bagian dada dan sekitar celana.

Tingkat pendidikan atau ekonomi pelaku mempengaruhi?
Enggak. Ada yang sarjana juga menjadi predator. Kembali lagi, sebetulnya bukan masalah pendidikan formalnya, tapi etika dan moral.

Sumber