sumner gambar: tempo.co

sumner gambar: tempo.co

Baca bagian 1 di sini

Karena profesi keguruan yang menjanjikan ini, maka anak bangsa yang berbondong-bondong memilih fakultas keguruan sebagai jembatan masa depan mereka datang dari berbagai latar belakang, baik itu keluarga cerdas, sedang, kurang cerdas, kaya, sederhana bahkan miskin.

Diversifikasi latar belakang ini pula yang menjadikan profesi ini tidak ekslusif tapi inklusif, terbuka bagi setiap warga negara tanpa memandang latar belakang. Namun, di antara sekian banyak anak bangsa ini, ada segelintir orang yang terbawa arus untuk ikut dalam hingar bingar dunia pendidikan, meskipun hal ini bukan atas keinginan mereka.

Otoritas orang tua yang menginkan anak mereka meraih masa depan gemilang menjadi aktor utama dalam membentuk orang-orang yang tanpa sengaja ‘terjerumus’ di dunia ini. Tanpa memerhatikan minat, bakat dan potensi anak, mereka langsung memasukan anak mereka untuk kuliah di fakultas keguruan. Walhasil, anak tersebut yang merasa dipaksa, tidak betah bahkan di tengah jalan banyak yang banting setir. Namun, adapula yang berhasil melewati seleksi alam di pendidikan keguruan universitas. Namun, karena memang track record mereka yang masuk ke fakultas keguruan adalah paksaan, maka menjadi guru pun bagi mereka adalah sebuah paksaan. Guru-guru macam ini akan merasa tidak enjoy dalam menjalankan profesi mereka dan memiliki sifat-sifat negatif sebagai guru seperti tidak adanya idealisme, kecakapan dalam mengajar, aspek profesionalitas guru, dll. Sehingga, tatkala berkecimpung dalam dunia mengajar sehari-hari tampak banyak yang harus dibenahi dari sikap mereka yang pada level ekstrim menjadi sebuah problem gunung es yang seringkali dinamakan: problem profesionalisme Sumber Daya Manusia pendidikan.

Di antara sekian juta penduduk negeri ini yang berprofesi sebagai pendidik, ada segelintir dari mereka yang memang mendedikasikan profesi ini sebagai pengabdian bagi negara dan agama. Bagi mereka, berkecimpung dalam dunia pendidikan adalah perjuangan dalam mencerdaskan bangsa. Mereka ingin ikut serta memberikan kontribusi bagi negeri ini dan menjadi bagian dari solusi keterpurukan bangsa.

Guru tipikal seperti ini sadar bahwa pendidikan adalah jawaban dari lemahnya daya saing bangsa dengan negara-negara lain. Pendidikan adalah usaha wajar dan logis dalam memberikan solusi bagi permasalahan bangsa yang terus menggunung. Namun, mereka juga sadar bahwa pendidikan yang dapat memberikan solusi adalah pendidikan yang mengedepankan kualitas, beretika, dan beradab.

Karena memang tujuan awalnya adalah dedikasi terhadap bangsa, maka materi bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangan mereka. Mereka bukan bekerja karena mereka dibayar tapi karena mereka mencintai dan menghayati pekerjaan ini. Kalau toh pemerintah memberikan mereka kesejahteraan, maka mereka anggap bahwa hal ini adalah penghargaan terhadap perjuangan mereka dalam mencerdaskan bangsa.

Tipikal guru seperti inilah yang akan mengurai benang kusut pendidikan Indonesia. Sejauh apapaun pemerintah melangkah dalam memberikan kebijakan-kebijakan pendidikan dalam rangka perbaikan sistem pendidikan nasional akan menemui kegagalan dalam tahap implementasi apabila tidak disertai dengan meningkatnya guru-guru masa depan yang memiliki idealisme seperti ini. Maka, jika anda seorang guru, dosen, calon guru, atau calon dosen serta menginginkan menjadi solusi atas kesemrawutan sistem pendidikan nasional, mengapa tidak memilih untuk menjadi guru yang ikhlas mendedikasikan pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian bagi ummat dan negara? (*)

Oleh: M. Syahruzzaky Romadhoni*

*Penulis adalah kontributor rubrik edukasi Fabana.id.