Atas kerjasama Freeport Indonesia, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Komoro (LPMAK) menerapkan sistem sekolah berasrama untuk putra dan putri di Papua.

FABANA.ID – Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Komoro (LPMAK), sebuah lembaga kemitraan dengan dukungan Freeport Indonesia, memiliki lima sekolah asrama untuk putra-putri Papua. Hingga akhir tahun 2016, jumlah total siswa yang tercatat tinggal di kelima sekolah asrama mencapai 756 siswa.

Sekolah ini bertujuan untuk memberikan fasilitas akomodasi dan program pengayaan bagi anak usia sekolah dari wilayah yang terpencil, serta mempersiapkan pusat persemaian calon intelektual dan pemimpin masyarakat.

Berlokasi di dataran tinggi, LPMAK mendirikan Asrama Tsinga di kampong Beanekogom, Tsinga. Sedangkan di daerah pesisir pantai Kabupaten Mimika, tepatnya di Kaokanao, LPMAK mendirikan Asrama Bintang Kejora Putra dan Putri. Selain itu, terdapat pula asrama yang terletak di luar Kabupaten Mimika, yaitu Asrama Amor putra dan putri di Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

LPMAK mempercayakan pengelolaan asrama tersebut kepada institusi yang berkompeten di bidangnya. Sekolah Asrama Taruna Papua dikelola oleh Yayasan Mitra Citracendekia Abadi dari Jakarta. Asrama Tsinga dikelola oleh Yayasan Joronep, sebuah yayasan yang didirikan oleh anak-anak muda Amungme.

Asrama Solus Populi di Timika dan Bintang Kejora (Putra dan Putri) di Kaokanao dikelola oleh Keuskupan Timika. Sedangkan Asrama Amor (kependekan dari Amungme dan Kamoro), dikelola oleh Yayasan Binterbusih Semarang.

“Asrama-asrama yang dikelola Keuskupan Timika memfokuskan pada pembinaan dan pendidikan siswa Kamoro. Seleksi dilakukan oleh pengelola dengan bantuan pastor paroki setempat,” ujar Romo Gunawan dari Keuskupan Timika, Jumat (5/5).

Sekolah Asrama Taruna Papua yang terletak di Timika menerima siswa penghuni asrama dari tiga kampung orang Amungme di dataran tinggi Mimika, yakni Tsinga, Aroanop, dan Waa-Banti sejak tahun 2007. Namun sejak tahun 2013, Sekolah Asrama Taruna Papua juga menerima siswa Amungme dan Kamoro dari Timika dan sekitarnya.

Seleksi dilakukan oleh guru, pembina, dan tenaga kesehatan. Sekolah Asrama mengutamakan pada siswa Amungme dan Kamoro yang dipandang memiliki potensi dan berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Menurut pendiri Yayasan Mitra Citracendekia Abadi, Lucky Tanubrata, tantangan utama program Sekolah Asrama adalah pemahaman orang tua akan fungsi dan peran asrama. “Orang tua cenderung memandang asrama sekedar tempat penitipan anak,” kata dia.

Karena itu, lanjut dia, sangat penting untuk mengedukasi dan melibatkan orang tua dalam pembinaan dan pendidikan anak-anak. Untuk bentuknya, kata Lucky, dapat berupa pertemuan formal dan informal.

“Dalam pertemuan itu disampaikan berbagai hal seperti laporan perkembangan/kemajuan anak, penyampaian informasi pendidikan, sharing wawasan dan pengetahuan, hingga penanganan kasus anak-anak berkebutuhan khusus,” jelasnya.

Pria yang sudah bergerak di bidang pendidikan sejak tahun 1989 ini, telah memutuskan total membina anak-anak Amungme dan Kamoro di Timika. “Sangat penting mendidik anak dan harus dari sejak usia dini. Tingkat keberhasilannya akan tinggi,” pungkasnya.

Sumber