Fabana.id – Pak Kiai berorasi dengan lantang di atas mimbar pesantren, “Jika pesantren dituduh jadi sarang teroris, apakah mereka mau kalau kita bilang bahwa SMP dan SMU itu sarang koruptor?”

Gemuruh. Orasi Kiai mendapat aplaus dari para santri dan hadirin.

Momen ini terjadi saat isu terorisme dari pesantren mencuat sejak beberapa tahun silam. Buntutnya banyak santri dan tokoh pesantren ditangkapi karena tuduhan berbuat makar.

Teror meninggalkan jejak kengerian dan rasa takut dalam benak masyarakat. Tak jarang banyak orang tak bersalah harus meregang nyawa menjadi korban. Meski teror sebegitu mengerikannya, korupsi tidak kalah bahaya dibanding terorisme. Korupsi merusak pola pikir dan membuat hati seseorang diselubungi pekatnya niat jahat.

Kita sepakat bahwa kondisi negara sedang limbung digerogoti korupsi. Biang korupsi ada di mana-mana, termasuk di pemerintahan. Pengusaha dan masyarakat awam pun ikut terlibat, menyuburkan lingkaran korupsi jadi bulatan tak berujung. Kita sama-sama tahu lah, praktek rasuah ini masih jamak kita temui di sekeliling kita dari oknum polisi, pejabat kantor kelurahan hingga para elit di gedung parlemen.

Dari mana para koruptor ini berasal? Ya, mayoritas dari mereka dulunya mengecap bangku sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan. Berarti sistem pendidikan kita gagal mencetak orang-orang baik, malah menelurkan koruptor. Memang tidak semua alumni sekolah jadi para bedebah, masih ada yang jadi orang baik. Tapi mereka koruptor tengik ini menguasai pos-pos penting di negara kita sehingga semuanya terhisap dalam kubangan dosa ini.

Wajar saja Pak Kiai tadi berang atas tuduhan teroris tak berdasar itu. Padahal pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sudah ada sejak Indonesia belum merdeka malah sebenarnya terbilang ‘lebih sukses’ dibanding sekolah yang berada di bawah naungan pemerintah lewat kementerian pendidikan. Masih banyak pesantren yang tidak mengikuti kurikulum pemerintah dan menerapkan silabus sendiri. Kalaupun ikut kurikulum nasional, biasanya ada pelajaran tambahan lagi sesuai dengan identitas pesantren. Biaya operasional pun pesantren memperolehnya secara mandiri, tidak menyusu kepada anggaran belanja negara.

Salahnya menteri Pendidikan? Tidak sepenuhnya.

Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei, kita selalu berputar pada masalah pendidikan Indonesia seperti tak kunjung habis. Problematika ini laksana simbol kuno Ouroboros yang menggambarkan ular melingkar memakan ekornya sendiri. Tak berujung.

Masalah pendidikan memang bukanlah remeh temeh. Problem pendidikan di negara kita adalah sebuah urusan yang terpaut dengan keberlangsungan Indonesia itu sendiri. Isu pemerataan pendidikan, kesejahteraan dan kualitas guru, fasilitas dan infrastruktur adalah kemuskilan yang tak ada habisnya.

Sepenuhnya tidak salah jika pemerintah berfokus pada lembaga sekolah dan segala sistem pengajaran yang menjelimet itu. Karena pengajaran di sekolah adalah salah satu bagian penting dari pendidikan yaitu menekankan pada pengetahuan dan keterampilan. Sekolah lewat kurikulumnya juga sudah berupaya mendidik berbagai aspek lainnya seperti iman, takwa, budi pekerti, kesehatan jasmani dan rohani. Tapi harus diakui porsi aspek-aspek pendidikan lain itu porsinya sangat minim, tak sebesar pengetahuan dan intelektual.

Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki moral negeri ini. Meski tidak bijak, bongkar pasang kurikulum adalah salah satu ikhtiar pemerintah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945 yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 bukan hanya bikin orang pintar, tapi memoles semua aspek dalam diri manusia.

Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Manusia yang ingin dibentuk oleh negara adalah yang bertakwa serta berbudi luhur. Barulah setelah itu meraih pengetahuan dan keterampilan. Jika pengetahuan dan keterampilan diraih tanpa menyertakan iman dan takwa maka etika dan moral akan diterabas sesuka hati. Sekarang contohnya sudah terjadi di sekitar kita.

Apa yang harus Kita Lakukan

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa? Kalau hanya merutuki pemerintah dan ujian nasional saja tidak akan menyelesaikan masalah. Kita juga harus ikut andil meringankan kerja pemerintah dalam mendidik. Tapi bagaimana caranya? Saya bukan guru, cuma pedagang di pasar, hanya karyawan swasta dan berbagai keraguan lainnya.

Seperti yang disinggung di atas, pendidikan tidak hanya tentang bagaimana meraih nilai UN terbaik lalu lolos seleksi di universitas ternama. Kita bisa ikut ambil bagian dengan mendidik sekitar memberi contoh kepada lingkungan dari hal yang paling kecil, membuang sampah di tempatnya, misalnya. Syukur-syukur bisa ikut mengajar di kelas.

Bagi yang sudah berkeluarga, maka dapat mendidik dengan memberi contoh perbuatan dan perkataan yang baik kepada anak. Pernah saya bertemu dengan anak kecil yang dimarahi ibunya karena berkata “sialan”. Saat ditegur, anak tersebut protes, “Aku dengar Papa ngomong ‘sialan’ kemarin di rumah. Masak aku ga boleh?” ujarnya sambil terisak. Biarpun sang ibu marah-marah bagaimanapun, anak itu tidak akan mudah berubah sikapnya karena ironisnya orang yang melanggar perbuatan itu adalah ayahnya sendiri.

Ary Ginanjar Agustian, menyebutkan bahwa penanaman nilai dan budaya di keluarga, perusahaan, masyarakat hingga pemerintah sangat tergantung dengan perilaku pimpinan dalam organisasi tersebut. Jika perbuatan pimpinan berlawanan dengan budaya yangia koar-koarkan, justru akan mengundang sikap antipati dari anggota organisasinya. Sedangkan Brian Tracy menyebut ciri pemimpin yang baik adalah selalu menjadi teladan dalam perbuatan (leading by example) bahkan saat tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Percayalah, hal baik meskipun remeh, akan menular dan ditiru oleh orang lain. Begitupun dengan perbuatan buruk. Tauladan dengan perbuatan lebih baik dari khotbah sampai mulut berbusa-busa.

 

Foto utama: easternbiological.co.uk