Habib Idrus Bin Salim al jufri - palu01Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufry dilahirkan pada hari senin 14 Sya’ban 1309 H / 15 Maret 1892 M di Tarim, Hadramaut, Yaman. Ayahnya adalah Habib salim bin Alwi bin Assegaf Al-Jufry, seorang mufti di Hadramaut, sedang ibundanya Syarifah Noer adalah putri Raja Wajo, Sulawesi Selatan yang bergelar Arung Matoa Wajo.

Sayyid Idrus dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama dan mencintai ilmu, sehingga pribadinya tumbuh sebagai pecinta ilmu, terutama ilmu-ilmu agama. Sejak kecil ia sudah menampakkan kelebihan-kelebihannya dan menjelang dewasa ia sudah memilki cakrawala berfikir yang luas. ia pun giat dan tekun menuntut ilmu. Kecintaannya pada ilmu, barangkali lantaran ia sangat terkesan akan nasihat salah seorang gurunya agar ia mampu menyamai ilmu kakeknya, Habib Alwy bin Saggaf Al-jufry, penyusun kitab Syarah Umdatu Salik.

Pada awalnya, ia hanya belajar kepada ayahnya. Dan ketika usianya mencapai 12 tahun, ia sudah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain ilmu agama, ia juga menguasai ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu falak dan aljabar. Lalu, ketika usianya menapak 19 tahun, ia mendapat amanah untuk menduduki jabatan yudikatif sebagai mufti di tanah kelahirannya. Jabatan itu membuatnya tercatat dalam sejarah sebagai mufti termuda.

Tahun 1926, ia menginjakkan kaki di Indonesia. Ini adalah kedatangannya yang kedua kali, sebab waktu kecil ia pernah ke Indonesia bersama sang ayah. Selain melepas kerinduan pada kampung halaman ibundanya di Wajo,  ia juga menjadikan Indonesia sebagai tempat berdakwah. Maka mulailah Sayyid Idrus mensyiarkan islam. Ketika itulah Sayyid Idrus mulai mengajar pertama kalinya. Mula-mula Sayyid Idrus mengajar di madrasah Jami’at Khair Jakarta, kemudian membuka dan memimpin Madrasah Al-Rabithah Al-Alawiyah di Solo yang kemudian berganti nama menjadi Yayasan Diponegoro.

Disisi lain, sebagai wujud kecintaanya terhadap ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Al-khairaat. Inilah sumbangsih nyata Sayyid Idrus kepada negeri ini. Al-khairaat dirikan di Palu, Sulawesi Tengah. Seiring berjalannya waktu, lembaga tersebut terus berkembang menjadi cabang-cabang hingga mencapai ratusan madrasah yang tersebar di kota-kota dan kampung-kampung di bagian Timur Indonesia. Sampai sekarang, madrasah Al-Khairat telah dilengkapi dengan perguruan Tingginya yang bernama UNISA.

Sayyid Idrus, ulama besar dan pelopor dakwah di Kawasan Timur Indonesia. Beliau wafat pada 12 Syawal 1349 H bertepatan dengan 22 Desember 1969 M. Sebelum wafat beliau berpesan agar pada setiap 12 Syawal para alumnus Al-Khairat yang disebut abna’ul Khairat dari segenap pelosok untuk menyelenggarakan silaturrahim.

Dari hari ke hari, warisan pendidikan dari Habib Idrus terus meluas. Kini, Al-khairaat telah menyebar ke 11 provinsi di kawasan timur Indonesia. Dari sebaran itu, tercatat ada sekitar 2.000 madrasah dan sekolah Al-khairaat yang kini eksis.

*) artikel ini disarikan dari berbagai sumber.

Oleh: Tim Peringatan Hari Pendidikan Fabana.id