Tak berlebihan rasanya, jika dikatakan bahwa santri adalah sebuah manifestasi dunia akademik yang dari tangan para santri diharapkan lahirnya karya-karya ilmiah yang berguna bagi masyarakat luas.

FABANA.id. Menurut Nurcholish Madjid kata ‘santri’ berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu ‘sastri’ yang artinya melek huruf. Sedangkan, Zamkhsyari Dhofier, seorang peneiliti jebolah Australian National University yang juga merupakan alumni Pesantren Al-Amin, mengatakan bahwa kata ‘santri’ dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.

Selain atribut akan ‘keshalehan’, santri juga diasosiakan dengan istilah-istilah dunia akademik lainnya. Pun demikian, santri juga sangat lekat dengan dunia literasi. Kitab kuning adalah bukti nyata bagaimana santri mampu membimbing umat dengan karya-karya tulis yang tidak lekang oleh waktu.

Sosok seperti Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah buktinya. Siapa yang tidak kenal dengan penulis kawakan Banten satu itu. Bukan hanya di Indonesia, bahkan karya-karya tulisnya dikenal dunia. Syeikh Nawawi merupakan seorang santri yang sangat gemar menulis.

Kepakaran Syeikh Nawawi tidak diragukan lagi. Syekh Umar Abdul Jabbar, ulama asal Mesir, dalam kitabnya Al-Durus min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih bi Al-Masjidil al-Haram menulis bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik.

Tak berlebihan rasanya, jika dikatakan bahwa santri adalah sebuah manifestasi dunia akademik yang dari tangan para santri diharapkan lahirnya karya-karya ilmiah yang berguna bagi masyarakat luas.

Karya Santri Kontemporer

Jika berbicara tentang santri dan dunia kepenulisan rasa-rasanya tak lengkap bila tidak menyebut dua tokoh kontemporer yang lainnya, yaitu Habiburrahman El-Shirazy dan Ahmad Fuadi. Habiburrahman terkenal dengan Novel Ayat-ayat Cinta-nya dan Ahmad Fuadi terkenal dengan Negeri Lima Menaranya, kedua penulis tersebut merupakan santri yang sangat produktif menulis.

Dengan memberikan teladan tadi, dimaksudkan bahwa santri memiliki peran penting dalam kancah penulisan dan perbukuan, sebagai kontribusi bagi masyarakat banyak. Hal ini, yang mengilhami diadakannya Santri Writer Summit 2017, sebuah konferensi santri skala nasional tentang isu kepenulisan di Indonesia yang digagas oleh Santrinulis.

Tujuan diadakannya pertemuan ini adalah untuk mengajak santri untuk aktif dunia tulis-menulis seperti yang banyak dicontohkan figur-figur di atas. Melihat pentingnya isu ini, Santri Nulis ingin menularkan virus gemar menulis ke santri seantero Nusantara.

Dengan acara Santri Writer Summit 2017 ini para santri Indonesia diharapkan mampu berkontribusi tidak hanya melalui mimbar-mimbar ceramah tapi juga melalui buku-buku.

Santri Writer Summit 2017 ingin membumikan makna santri yang berarti ‘buku-buku’ seperti disebutkan dimuka sehingga akan lahir Syeikh Nawawi yang lainnya, Habiburrahman yang lainnya dan Ahmad Fuadi yang lainnya di masa yang akan datang.