Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Semoga Samara yaa. Semoga Samawa yaa.

FABANA.id. Begitu diantara doa yang sering diberikan kepada para pasangan suami isteri yang baru menjalin ikatan pernikahan yang suci. Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan tiga kata ‘Sakinah’ ‘Mawaddah’ dan ‘Rahmah’ menjadi satu kata SAMARA, belakangan menjadi SAMAWA.

Apa bedanya?

Setiap dua huruf di depan kata ‘sakinah’, ‘mawaddah’ ‘rahmah’ diambil menjadi ‘SA-MA dan RA’ untuk membentuk sebuah kata baru yang mudah diucapkan dan simple penulisannya. Jadilah ‘SAMARA’ sebagai kosa-kata baru dalam tatanan bahasa Indonesia. Entah sudah masuk dalam kamus KBBI terbaru atau terdaftar di Pusat Bahasa atau belum. Perlu dicek kembali.

Sementara SAMAWA. Mungkin asbabun nuzulnya, karena waktu itu seorang ustad biasa mengucapkan doa semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Lalu seorang pemuda yang biasa hadir di acara resepsi pernikahan berasumsi bahwa akronim yang tepat untuk ‘sakinah’ ‘mawaddah’ dan ‘rahmah’ adalah SAMAWA.

Sebab kata ‘Wa’ ada di depan kata ‘rahmah’. Yang sering diucapkan oleh para ustad bukan ‘sakinah’ ‘mawaddah’ ‘rahmah’ tetapi ‘sakinah’ ‘mawaddah’ ‘warahmah’. Jadi, yang tepat adalah SAMAWA, bukan SAMARA.

Kemudian, penganut aliran akronim SAMARA protes. Kata ‘wa’ dalam ‘warahmah’ itu maksudnya ‘dan rahmah’. ‘Wa’ dalam bahasa Arab itu artinya ‘Dan’. Jadi, ‘wa’ itu kata sambung untuk kata ‘rahmah’ bukannya ‘warahmah’ tapi yang benar adalah ‘wa’ – ‘rahmah’. Lengkapnya ‘Sakinah’ ‘Mawaddah’ wa ‘Rahmah’. Kalau diakronimkan yang tepat adalah SAMARA, bukan SAMAWA.

Sakinah Tujuannya

Apapun aliran yang dipakai, entah itu SAMARA atau SAMARA. Ada baiknya mengecek kembali makna dari setiap kata tersebut. Apakah itu Sakinah? Apakah itu Mawaddah? Apakah itu Rahmah? Jika tiga kata tersebut merupakan rangkaian proses menuju sebuah pernikahan yang sejati. Berarti tujuan yang akan dicapai dalam pernikahan adalah Rahmah. Sebab, kata rahmah berada pada urut terakhir.

Ataukah ketiga kata tersebut hanya sebatas singkatan yang supaya indah didengar? Tanpa mempedulikan proses urutannya? Bisa jadi tujuan pernikahan adalah Mawaddah, bisa juga Sakinah, bisa juga Rahmah. Apapun itu goalnya, supaya indah di dengar maka disingkat dengan urutan: kata ‘Sakinah’ diurut pertama, kata ‘Mawaddah’ dideretan kedua dan ‘Rahmah’ diurutan paling akhir.

Akan tetapi, jika kita buka QS Ar Rum ayat 21 yang sering ditempel di undangan pernikahan. Ada dua kata yang disebut berurutan. Yaitu kata ‘Mawaddah’ dan kata ‘Rahmah’. Sementara kata ‘Sakinah’ dalam ayat tersebut tidak disebutkan secara gamblang. Hanya disebutkan kata ‘Li-Yaskunu ilaiha’. Tapi, jika merujuk pada asal kata Yaskunu, yang berasal dari ‘sakana-yaskunu’. Dapat dimengerti maksud dari Yaskunu tersebut adalah ‘sakinah’.

Sedangkan kata ‘sakinah’ yang ditulis secara gamblang dapat ditemukan dalam QS Al Baqarah 248, yang menjelaskan bahwa isinya Tabut adalah ‘sakinah’ peninggalan Nabi Musa dan Harun. Lalu ada dalam QS Al Fath: 4 dan 18. Yang menjelaskan bahwa Allah lah yang langsung memberikan ‘sakinah’ kepada orang yang beriman kepada Nya.

Yang menarik dalam QS Ar Rum ayat 21 ini ada pada kata ‘Liyaskunu Ilaiha’. Meski diletakkan sebelum kata ‘Mawaddah’ dan ‘Rahmah’ tetapi setelah kata ‘yaskunu’ ada kata ‘ila’ di sana. ‘Ila-iha’. Jika diartikan ke bahasa ‘ila’ itu artinya ‘ke’.

Sudah pasti jika ditanya mau kemana? Jawabannya saya mau pergi ke kebun, misalnya. Jadi, tujuan saya adalah untuk pergi ke kebun. Dengan adanya kata ‘ila’ dalam kalimat ‘Liyaskunu ilaiha’ dapat dimengerti bahwa tujuan dari pernikahan adalah Yaskunu atau sakinah. Jadi, sakinah adalah goal dari sebuah pernikahan.

Makanya, di desa saya dulu setiap bulan ada perkumpulan Keluarga Sakinah. Terdiri dari berbagai keluarga dari lintas profesi, partai, ormas dan golongan. Tujuannya, karena desa adalah kumpulan dari berbagai macam keluarga. Maka, yang perlu diperhatikan adalah setiap keluarga tersebut tetap dalam kondisi sakinah.

Jadi, jika kita sepakat bahwa tujuan dari pernikahan adalah Sakinah. Maka urutannya adalah ‘Mawaddah’, ‘Rahmah’ dan ‘Sakinah’. Kalau mau disingkat jadinya yaa MARASA.

Karena sudah menjalin ikatan suci pernikahan, maka otomatis pasangan suami isteri ingin selalu bersama dalam suka dan duka. Suasana kangen ingin cepat bertemu dengan orang yang dicintai inilah yang disebut dengan mawaddah.

Ada rasa bosan itu wajar, maklum puluhan tahun hidup bersama, rasa itu pasti ada. Tapi, karena diberi rahmah/rahmat oleh Allah dalam hidup. Maka, rasa bosan pun bisa diubah menjadi rasa cinta. Rahmat adalah sesuatu yang sudah kita terima dengan gratis di berbagai aspek kehidupan.

Misalnya, sang Ibu yang melahirkan anak, tanpa dibekali buku panduan cara menyusui, sang anak bisa langsung tahu teknik terbaik menyusui. Bisa bernafas dengan gratis, kedua bola mata masih utuh untuk melihat orang tua dan keluarga. Dipanggil nama dari jarak jauh, kuping kita masih mendengar, bisa menciup aroma masakan dengan sedap dan kulit yang tipis dijari masih bisa untuk meraba kualitas kain baju yang bagus.

Semua itu adalah rahmah/rahmat dari Allah yang disediakan kepada setiap manusia di bumi tanpa ada potongan nafas, tanpa biaya administrasi, tidak memerlukan pelatihan untuk mendayagunakannya apalagi sampai harus menggadaikan sertifikat tanah untuk membelinya.

Rahmat yang terbentang luas itulah yang menjadi bekal setiap pasangan suami isteri untuk terus menjaga mawaddahnya. Menjaga rasa cinta dan kasih sayangnya. Karena dua komponen ini, yaitu ‘Mawaddah’ dan ‘Rahmah’ sudah ada dalam setiap keluarga.

Maka, tugas selanjutnya adalah mendayagunakan bekal ‘Mawaddah’ dan ‘Rahmah’ untuk mencapai kehidupan keluarga yang ‘sakinah’

Jadi, doanya. Dengan bekal ‘Mawaddah’ dan ‘Rahmah’ semoga engkau mencapai keluarga yang sakinah. Amiin.

 

Wallahu A’alam Bishowab

 

Ilustrasi foto: Pixabay