FABANA.id – Santrinulis merupakan komunitas bagi para santri yang ingin menyalurkan minta menulis serta ingin berkarya. Para anggota tidak hanya dilatih, tapi juga dituntun hingga bisa menerbitkan buku. Oktober lalu Santrinulis sukses mengadakan 1st Santri Writer Summit di Depok yang diikuti oleh 250 peserta dari seluruh Indonesia.

Perhelatan tersebut menghadirkan Ahmad Zayadi Direktur Pendidikan Diniyah dan Pontren Kementerian Agama RI, penulis kaliber nasional seperti Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, Prie GS dan para tokoh santri muda berprestasi.

Saiful Falah, founder platform kepenulisan ini berharap kegiatannya akan terus berlanjut di masa datang dan menjaring lebih ribuan santri Nusantara.

Berawal dari hobinya mengisi majalah dinding pesantren, Saiful Falah keranjingan menulis. Tulisannya semakin mendapat apresiasi saat ia bergabung menjadi salah satu staf redaksi majalah pesantren Ummul Qura’, Bogor, tempat ia belajar pada awal 2000-an.

Sebagai staf redaksi, tugasnya tidak cuma menulis dan menyunting artikel, bahkan sampai harus turun ke lapangan mengurusi pencetakan majalah.

“Pengalaman luar biasa karena bisa mengalami proses penerbitan majalah dari A sampai Z,” ujarnya saat berbincang dengan Fabana di sela-sela acara Santri Nulis di UI, akhir Oktober 2017 silam.

Santri Writer Summit 2017

Santri Writer Summit 2017 di kampus UI Depok. Foto: Santrionline

Menjelang kelulusan saat duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah, keluarganya mendapat cobaan dengan PHK yang menimpa ayahnya. Dengan hilangnya salah satu sumber penghasilan tetap keluarganya juga berimbas kepada Saiful. Cita-citanya untuk kuliah pun harus surut.

Tak patah arang, lelaki kelahiran Bogor, 27 September 1982 mengabdi di almamaternya sebagai ustaz sembari mencari peluang untuk kuliah dan terus giat menulis. Setelah 5 tahun barulah ia bisa mengecap bangku perguruan tinggi.

“Sejak lulus Aliyah tahun 2001, baru 2006 saya bisa kuliah,” kenangnya.

Penerbitan bukunya yang berjudul “Jemput Surgamu” oleh Penerbit Republika pada tahun 2011 menjadi salah satu titik tolak hidupnya. Ia mulai sering diundang mengisi pelatihan, seminar menulis dan bedah buku di pesantren. Falah baru menyadari bahwa kalangan santri memiliki antusias yang tinggi di bidang literasi. Mereka sudah cukup terasah menulis di majalah dinding dan buletin pesantren yang berskala kecil.

Meski ia sendiri merasa belum jadi apa-apa, para santri merasa dirinya adalah salah satu contoh sukses penulis dari kalangan pesantren. Mereka pun ingin mengikuti langkahnya agar karya mereka bisa terbit dan dibaca oleh khalayak ramai. Go public.

Lalu terpikirlah olehnya untuk membuat media yang dapat mewadahi semangat menulis santri. Akhirnya portal bernama Santrinulis.com resmi meluncur pada 28 Oktober 2012. Tujuan Santrinulis.com adalah untuk mewadahi semangat menulis santri. Agar mereka bisa berbagi dan saling menginspirasi, tanpa batasan ruang dan waktu karena memakai platform internet.

Ternyata rencana tidaklah berjalan semulus yang diinginkan. Para santri di pesantren tidak memiliki keleluasaan menggunakan komputer apalagi internet. Sedangkan Santrinulis.com hanya bisa diakses melalui jaringan internet. Maka terjadi stagnansi dan kekurangan kontributor tulisan.

Ia dan kawan-kawan pun merubah model pendekatan. Untuk melengkapi platform online, tahun 2013 Santrinulis membuat program tatap muka (offline) bernama 30HMB (30 Hari Menulis Buku). Hasil dari program ini, peserta diharapkan dapat membuat buku dalam waktu 30 hari. Pengikutnya berasal dari kalangan yang lebih luas, tidak hanya santri. Tercatat ada siswa umum, mahasiswa dan guru. Mereka diberi bekal ilmu menulis dan praktik menjadi kontributor website Santrinulis.com. Partisipan dengan nilai yang memenuhi syarat akan diterbitkan bukunya.

Berbarengan dengan kesibukan sosok yang biasa dipanggil Kang Falah itu menyelesaikan pendidikan doktoral dalam rentang 2015 hingga 2016, Santrinulis.com sempat berjalan di tempat. Riset disertasi sangat menguras waktu dan pikirannya.

Program Kelas Menulis Intensif (KMI) selama 3 bulan, menandai geliat kembali Santrinulis tahun 2017 dengan. Antusias partisipan terbilang tinggi. Peserta terjauh bahkan berasal dari Pesantren Darul Lughah wa Da’wah, Bangil, Jawa Timur. Hingga akhirnya diadakanlah 1st Santri Writer Summit.

Sehari-hari Falah berprofesi sebagai Guru di pesantren modern Ummul Quro Al-Islami dan dosen di Institut Ummul Quro Al-Islami, Bogor. Menjadi pendidik merupakan cita-citanya sejak kecil. Hal ini terinspirasi dari Ibu Eti Rohaeti gurunya semasa Sekolah Dasar.

“Ibu Eti adalah kepala sekolah sekaligus menjadi wali kelas kami. Ibu Eti mengajarkan kepada saya nilai-nilai kasih sayang. Beliau tidak sungkan menggendong siswanya yang menangis. Beliau pun tidak segan mengurusi siswa yang buang air di celana baik air kecil pun besar. Sejak saat itu saya berniat menjadi penerus bu Eti”, ujarnya seperti yang dikutip dari KampusGw.com.

Beberapa karya Falah yang sudah terbit antara lain: Jemput Surgamu; Guru adalah Ustadz; Rindu Pendidikan dan Kepemimpinan M. Natsir; dan Parents Power yang diterbitkan Republika. Sedangkan yang lain diterbitkan Santrinulis Publishing, yaitu Semut Dream; Motisantri; Pesantrenku; dan Nulis Yuk. Terakhir adalah DARE: Dream, Action, Role Model and Evaluation, dirilis oleh EMIR Erlangga Grup.

Jika sedang menggarap buku, ia menghabiskan waktu 10 jam untuk 8  halaman  per harinya. Untuk sebuah artikel yang lebih ringan, ia menyelesaikannya dalam 1 jam.

“Waktu menulis terbaik adalah setelah sholat subuh,” saat ditanya waktu favoritnya menulis.

Target yang ingin dicapai oleh Kang Falah adalah menelurkan ribuan penulis.Sebelum mencapai angka ribuan tersebut, langkah awal untuk jangka pendek adalah 10 penulis lahir dan menerbitkan buku dari Santrinulis selama setahun ini.

“Salah satu yang membuat saya bahagia adalah saat bertemu dengan orang-orang yang punya semangat atau passion yang sama (tentang menulis),” pungkasnya.