Dikotomi ilmu agama dan ilmu umum seringkali menyempitkan jarak pandang. Hal tersebut yang menyimpulkan anggapan bahwa ilmu agama hanya dimiliki oleh para orang yang belajar di Pondok Pesantren. Pun demikian, terjadi anggapan bahwa ilmu umum hanya dikuasai oleh orang yang belajar bukan di pondok pesantren.

Anggapan tersebut, sepatutnya sudah mulai ditinggalkan di era digital saat ini. Anugerah Festival Film Santri 2017 yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia menjadi jawaban dan bukti konkret bahwa tidak ada dikotomi dalam ilmu.

Seorang yang belajar di Pondok Pesantren pun dapat menguasai dan menekuni dunia sinematografi. Sebanyak 118 peserta dari berbagai Pondok Pesantren di Indonesia mengikuti ajang perlombaan film.

Menurut Plt Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil saat membacakan sambutan Menteri Agama RI pada Malam Anugerah Festival Film Santri 2017 di Aula H.M. Rasidji Kementerian Agama. Adanya festival ini diharapkan akan dapat menjadikan dunia seni dan perfileman sebagai media dakwah keislaman.

“Film merupakan kreasi insan-insan yang memiliki daya kreatifitas seni yang sangat tinggi, yang sangat bisa jadi itu menjadi media dakwah keislaman,” jelas Abdul Djamil dikutip dari laman resmi kemenag.go.id Sabtu (26/03).

 

Ke depan, film santri sejenis ini diharapkan lebih optimal sebagai bagian dari instrument pengembangan dakwah dan sosialisasi ajaran keislaman.

Djamil melanjutkan, penyelenggaran event lomba film pendek ini  mematahkan asumsi bahwa pondok pesantren tabu akan perfilman. Maklum, selama ini pondok pesantren kaya akan talenta para santrinya.

“Pondok pesantren tidak hanya fasih dalam membaca kitab kuning atau literatur keagamaan saja, tetapi juga memiliki daya kreatif dan imajinasi artistik yang jadi di atas rata-rata,” terang mantan Rektor IAIN Walisongo Semarang ini.