Saya : “Good morning, thank you for calling Goodway Vacation Club Jakarta. Ikhsan speaking, may I assist you?
Tamu : “Tolong carikan hotel di Gili Trawangan dong, mas.”
Saya : “Sudah punya referensi hotelnya, bu?”
Tamu : “Dicarikan aja yang bintang empat.”
Saya : “Untuk berapa malam, bu?”
Tamu : “Dua malam.”
Saya : “Baik bu, mohon diinformasikan terlebih dahulu nomor keanggotaan dan nama lengkapnya..”
Tamu : “Nomor keanggotaan saya…dst…dst..”
FABANA.id- Jakarta. Begitulah model percakapan via telepon yang sering saya gunakan saat bekerja, tiap hari. Dan Gili Trawangan adalah salah satu destinasi yang sering saya dengar saat membantu tamu kami ingin berlibur bersama keluarga. Pulau tersebut datang bersama gelombang frekuensi yang masuk ke dalam telinga saya lalu memantul ke syaraf ingatan saya.
Itu sebabnya, kosa kata “Gili Trawangan” begitu melekat di pikiran saya. Pernah suatu ketika, saya membantu pemesanan hotel di Gili Trawangan untuk tamu kami dari Bali. Beliau adalah seorang pengusaha wedding boutique yang cukup besar, dia juga seorang lulusan sarjana kepariwisataan, sehingga tidak heran jika beliau sangat mengerti mekanisme detail pemesanan hotel.
Wanita mapan ini ingin dicarikan penginapan di Gili Trawangan dengan kriteria bintang empat, harga terjangkau dan dekat pantai, dan saya sarankan di hotel J. Ia langsung menanggapi bahwa hotel tersebut jauh dari pelabuhan ke sisi utara pulau dan meminta yang di daerah dekat pasar seni atau bisa juga di turtle sanctuary.
Ringkasnya, melalui bantuan teknologi online, disetujuilah penginapan X, sebuah hotel berbintang tiga dengan harga terjangkau, serta fasilitas yang cukup memadai. Malam saat beliau di hotel, saya dihubungi bahwa hotel tersebut jauh dari gambaran sebenarnya di internet, ditambah lagi banyak cicaknya. Tamu saya komplain dan ingin diatur ulang penginapannya, malam itu juga! Suatu permintaan yang sulit dilakukan saat di luar kantor.
Pengalaman ini justru memberikan efek perenungan buat saya, kenapa tamu saya yang dari Bali ini begitu terobsesi dengan Lombok, terutama Gili Indah? Apakah sebegitu indahnya kah hingga melebihi Bali, atau, bagaimana? Maka dari perenungan inilah timbul rasa penasaran saya untuk mendapat jawabannya. Officially, pengalaman bekerja menjadi pintu masuknya keinginan saya berwisata ke Lombok.
Hasrat berwisata ke Gili Trawangan ini mendapat momentumnya saat suhu politik di Jakarta meningkat. Kobar api perseteruan antar pendukung di dunia maya memercik hingga ke dalam realitasnya. Nada-nada persaingan begitu kasat dan relevan antara yang ada di medsos dengan spanduk-spanduk jalanan, rumah ibadah, dan di jalanan umum, belum lagi, ditambah dengan intervensi media massa nasional dan lokal.
Setiap orang tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Perenungan lagi buat saya: kondisi tanpa kendali ini bukan berarti saya kehilangan kedamaian; bahwa saya masih bisa meraih kedamaian di luar sana; bahwa masih ada sesuatu yang bisa saya kendalikan dan saya wujudkan, yaitu: perjalanan wisata ke Gili Trawangan.
Saya putuskan tema kegiatan wisata ini adalah backpacking. Seminggu sebelum Hari H pemilukada, saya booking tiket kereta api Jakarta-Surabaya untuk hari Rabu, tanggal 19 April, dengan asumsi saya akan sampai ke kota tersebut pada hari Kamis pagi, dan berkesempatan naik Ferry dari Tanjung Perak ke Pelabuhan Lembar, Lombok, pada sorenya. “Sempurna!”, begitu pikir saya…
Pada tiga hari sebelum keberangkatan ke Surabaya, saya ingin kepastian rencana backpacking ini tidak terganggu. Saya menelepon ASDP Surabaya dan dijelaskan bahwa pemesanan tiket Ferry tidak bisa dilakukan via online serta jadwal keberangkatan Surabaya-Lombok tidak lagi tiap hari Kamis, tetapi diganti menjadi tiap  Sabtu sore… Sial!