Sejak kelahirannya di muka bumi tahun 1907, gerakan pramuka selalu membawa inovasi.  Sesuai jamannya, tentu.

Bagi anak siswa sekolah dasar seperti saya, dua puluh tahun lalu, Pramuka amatlah menyenangkan karena banyak permainannya. Namanya juga Pramuka Siaga, tingkatan pramuka termuda untuk anak usia 7-10 tahunan. Walau begitu, diajarkan juga tentang kemandirian dan kepemimpinan seperti pemilihan ketua regu.

Selain itu, seragam Pramuka warna coklat itu bikin pemakainya merasa gagah dengan aneka logo dan atribut yang menempel di seragam. Di lengan sebelah kanan ada lencana wilayah Kalimantan Selatan dan nomor gugus depan SD kami. Sedangkan di lengan kiri menempel tanda regu bergambar elang yang merentangkan sayap ke atas, siap bermanuver untuk memangsa korbannya di daratan. Adapun regu teman-teman perempuan, memakai nama bunga atau tanaman.

Ada kalanya keceriaan itu luntur seketika saat awan mendung di langit yang menggelayut menurunkan rintik hujan. Mau tak mau kami harus masuk ke dalam kelas, padahal apel pembukaan latihan pun belum sempat terlaksana. Kecewa.

Ibu guru pembina Pramuka rupanya tidak hilang akal. Kami mengadakan apel di dalam kelas! Akal anak SD saya terkaget-kaget melihat kenyataan upacara bisa dilakukan di dalam ruangan. Bendera latihannya ditaruh di depan papan tulis. Sampai saat ini apel dalam kelas ini masih melekat dalam ingatan saya.

Pionering Gontor Pramuka Inovasi

Pionering tiang bendera berbentuk singa bikinan Gugus Depan kami di pesantren dulu (Gudep 15089/9). Membangkitkan kenangan.
Foto: riyadi01.blogspot.co.id

Seiring berjalannya waktu, saya pun terus ikut kegiatan Pramuka di pesantren hingga sempat jadi pembina Pramuka. Barulah saya sadar bahwa Pramuka bukan hanya permainan, kemah, dan kegiatan di alam bebas saja, tapi Pramuka juga membentuk mental positif, termasuk inovasi dan kreativitas. Apel indoor hanyalah bagian kecil dari itu semua.

Modifikasi dari Pendidikan Militer

Sejak awal, kemunculan gerakan kepramukaan adalah wujud dari pemikiran inovatif dan kreativitas. Adalah Lord Robert Baden-Powell yang mengadakan perkemahan selama seminggu bersama 20 orang anak di pulau Brownsea, Inggris pada awal Agustus 1907. Selama berkemah, ia mengajarkan petualangan di alam terbuka, kebersamaan dan kemandirian. Materi tersebut ia modifikasi dari pengalamannya melatih tim pengintai pada saat ikut serta dalam peperangan di Afrika bersama angkatan bersenjata Kerajaan Inggris. Hingga kemudian ia menyusun buku “Scouting for Boys” yang menjadi pedoman kepramukaan di negeri Ratu Elizabeth ini. Sebuah langkah inovatif untuk mendidik dan mengarahkan para remaja beraktivitas positif.

Gerakan kepramukaan ini menyebar ke penjuru dunia termasuk Indonesia yang waktu itu belum merdeka. Pada mulanya kepramukaan–dulu lebih dikenal dengan istilah “kepanduan”– diperkenalkan oleh kolonial Belanda. Namun dalam perkembangannya, malah menjadi alat perjuangan kemerdekaan. Hampir setiap organisasi besar memiliki kelompok pandu masing-masing, seperti Muhammadiyah yang membentuk Hizbul Wathon (1918) dan Nahdlatul Ulama  yang merintis Pandu Ansor (1924). Begitu pula kelompok pergerakan nasional seperti Boedi Oetomo mendirikan Nationale Padvinderij pada 1921; Jong Java di Solo membina Jong Java Padvinderij (1922), Pemuda Sumatra membentuk Pandu Pemuda Sumatra (1926) serta Sarekat Islam yang mendirikan Sarekat Islam Afdeeling Pandu (1927). Hingga akhirnya pada 14 Agustus 1961, semua gerakan kepanduan ini disatukan dalam Gerakan Pramuka Indonesia.

Baden-Powell

Lord Baden-Powell dan para Pramuka binaannya.
Foto: scout.org

Lembaga pendidikan pun demikian adanya. Baik di sekolah Belanda seperti MULO dan HBS maupun pondok pesantren. Para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, sejak awal berdirinya tahun 1926 sudah menjadikan kepramukaan bagian dari pendidikan. Sebab pendidikan sejati itu meliputi seluruh aspek murid baik intelektual, mental, spiritual dan fisik. Sayangnya semakin modern hidup manusia, pendidikan dipersempit maknanya menjadi sekadar pendidikan di dalam kelas untuk mendapat nilai tinggi yang tertulis di ijazah saja.

Generasi muda memiliki energi yang berlebih. Menurut para ahli kejiwaan, sebenarnya tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah mereka yang mempunyai energi lebih yang harus disalurkan. Karena berbagai hal seperti kondisi keluarga dan pengaruh lingkungan, akhirnya penyalurannya pun menjadi negatif. Begitu pula sebaliknya, jika energi itu dialihkan menjadi kegiatan positif tentu akan menjadi baik.

Metode kepramukaan mengajarkan banyak hal di antaranya: belajar  sambil melakukan (learning by doing), kegiatan menarik dan menantang, di alam terbuka, berkelompok, bermasyarakat, bekerjasama dan berkompetisi secara sehat.  Bentuknya begitu banyak, dari baris-berbaris, tali temali, sandi, P3K, perkemahan, kegiatan sosial hingga jelajah alam yang kesemuanya pengejawantahan dari Dasa Dharma, sepuluh sikap terpuji yang harus dimiliki Pramuka. Dasa Dharma ini merupakan adaptasi versi Indonesia dari Scout Promise & Law, kode etik dan perilaku Gerakan Pramuka Internasional.

Misi Gerakan Pramuka adalah mendidik generasi muda dengan nilai luhur Kepramukaan, agar ikut serta membangun dunia dan masyarakatnya yang lebih baik, “creating the better world“.

Dicetuskan pada World Scout Conference ke 35 di Durban, Afrika Selatan tahun 1999.

Gak Ketinggalan Zaman

Karakter insan kreatif dan inovatif hampir serupa dan saling berkaitan. Orang yang kreatif mampu berpikir ataupun melakukan tindakan yang bertujuan untuk mencari pemecahan sebuah kondisi secara cerdas, berbeda , tidak umum, orisinil, serta membawa hasil yang manfaat. Sedangkan kemampuan inovasi adalah kemampuan mengasilkan sesuatu yang baru.

Dua mentalitas ini amat dibutuhkan dalam menghadapi kompetisi hidup di era tanpa batas dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Tertinggal sedikit saja, maka kita akan tersuruk di posisi buncit. Inilah yang digembleng dalam Kepramukaan.

Tengok saja Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang mengkampanyekan gerakan jurnalistik daring (online) Pramuka Pos, “Pramuka adalah Kantor Berita”. Seorang Pramuka dituntut harus menjadi agen perubahan dengan memanfaatkan jaringan internet yang begitu luas. Jurnalisme di sini tidak terbatas pada tulisan saja, tetapi juga merambah multimedia seperti gambar, video dan Radio Sahabat Pramuka.

Akhirnya…

Terucap, dirgahayu Gerakan Pramuka Indonesia. Semoga dapat terus menciptakan dan menggerakkan perubahan bangsa, Negara, dan masyarakat Indonesia.

Prok… prok… prok…