Salah satu jebolan lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang kiprahnya bagi Indonesia tidak diragukan lagi adalah Hasyim Muzadi. Pendiri dan Pengasuh Pondok Al Hikam Malang tersebut adalah Ketua Umum PBNU ke4 setelah Abdurrahman Wahid (Gusdur).

Sebagai bekal bagi generasi penerus bangsa. Almarhum yang Allah panggil pada 16 Maret 2017 lalu meninggalkan pesan dalam kata pengantar buku tetralogi Trimurti dan Pondok Modern Gontor  yang ditulis oleh Muhammad Husein Sanusi DKK diterbitkan oleh Etifaq Production.

Berikut catatan dari Abah Hasyim, begitu ia disapa:

Budaya pendidikan berbasis pondok pesantren merupakan salah satu karunia Allah kepada bangsa Indonesia yang wajib kita syukuri. Bagaimana tidak, dalam kondisi sosial masyarakat yang mengalami degradasi keteladanan, kemanusiaan, serta keilmuan, pondok pesantren tampil sebagai salah satu solusi untuk menjawab tantangan itu.

Kerusakan multi dimensi telah menyeruak ke permukaan masyarakat, sehingga tidak mungkin diatasi hanya melalui dimensi transformasi ilmu (ta’lim) saja, namun harus pula dibarengi dengan transformasi akhlak (ta’dib) melalui keteladanan, serta mujahadah dalam upaya menjemput hidayah.

Faktor yang ketiga menjadi yang terpenting, karena tanpa hidayah, ilmu hanya menjadi informasi tanpa aksi, dan keteladanan hanya menjadi kisah heroik yang turun temurun.

Kurikulum pesantren mencakup hampir seluruh aspek kehidupan, bukan hanya kurikulum sempit yang terbatas pengajaran di kelas, sehingga seorang santri menjaga akal pikir, tingkah laku, dan hatinya sekaligus baik di dalam kelas, maupun di luar kelas.

Hal ini dikarenakan pengajaran hanya bagian dari kehidupan, maka pendidikan harus lebih luas daripada hanya sekedar pengajaran. Inilah cara pesantren memahami dan menerapkan pendidikan berbasis karakter. Totalitas pendidikan inilah yang menjadikan pendidikan pesantren berpeluang lebih besar dalam kesuksesan pendidikan bangsa dan negara.

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan salah satu pesantren yang menjiwai konsep ini, santri dididik mulai dari bangun pagi hingga tidur malam hari, Gontor mendidik kehidupan dengan sebuah kurikulum yang tidak terpengaruh akreditasi, bahkan tidak terpengaruh oleh suasana penjajahan.

Selama sebuah cara mendidik diyakini kebenarannya, maka hal itu akan diterapkan di Pondok Gontor. Benar-benar keikhlasan mutualisme, keikhlasan kiai yang mendidik yang dibalas dengan keikhlasan santri yang dididik. Keikhlasan ini, bahkan terpancar dari Ibu Sudarmi – Nyai Santoso (ibu trimurti) sebelum Pondok Darussalam Gontor berdiri, seperti yang telah dituliskan di dalam buku ini.

Akhirnya, dalam umur pondok yang sudah menginjak 90 tahun ini, saya mengapresiasi buku sejarah yang ditulis dengan bahasa ringan yang bisa difahami oleh seluruh kalangan masyarakat ini, mudah-mudahan menjadi amal jariyah yang berkah, dan berdoa semoga Allah senantiasa menanamkan keikhlasan kepada pondok ini sehingga langgeng hingga Hari Akhir nanti. Allahumma amin.

Wassalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Depok, 8 Agustus 2016

KH. Ahmad Hasyim Muzadi