Para pesepakbola top ini ternyata punya titel sarjana! Padahal dengan gaji milyaran, mereka bisa berleha-leha menikmati hidup.

FABANA.id. Profesi sebagai pesepakbola merupakan adalah salah satu pekerjaan impian di zaman industri olahraga sekarang. Di negara maju, berbekal kemampuan olah bola, seorang pesepakbola bisa meraih segalanya; uang, ketenaran hingga status sosial.

Lihat saja, di Eropa para pesepakbola sudah dianggap sebagai kelas ekonomi tingkat atas. Wajar, pemain tim papan bawah saja digaji ratusan juta per pekan (Per pekan lho! Bukan bulanan seperti kebanyakan kita). Apalagi para pemain elit, gajinya mencapai angka milyaran.

Ternyata, meski mapan secara ekonomi sebagian pesepakbola tidak lupa akan pendidikan. Lifelong learning alias belajar sepanjang hayat, demikian kampanye UNESCO. Dan memang, bagi para pesepakbola ini belajar adalah kebutuhan dan hasrat, bukan hanya mencari titel sarjana saja.

Pemain berteknik tinggi, dokter sekaligus doktor filsafat.

Socrates (Brasil)

Daftar nama ini kita mulai dari era 80an. Gelandang pengatur serangan yang punya nama sama seperti filosof Yunani,  Socrates, bermain sebanyak 60 kali bagi tim nasional (timnas) Brazil dan pencetak 22 gol dalam periode tahun 1979-1986. Ia juga beberapa kali didapuk sebagai kapten timnas Selecao.

Ketenaran di lapangan hijau tidak menyurutkannya semangatnya kuliah kedokteran di Ribeirão Preto Medical School , saat ia masih aktif sebagai pemain di liga Brasil. Walhasil, ia pun lulus sebagai dokter dan sempat membuka praktek setelah pensiun jadi pemain.

Tak puas dengan titel kedokteran, pria yang juga kolumnis di surat kabar ini menyabet gelar Ph.D di bidang Filsafat pada tahun 2004.

Bergkamp menenteng piala juara Liga Inggris musim 1997-1998.
Foto: Daily Mail

Dennis Bergkamp

Bersama klub Arsenal, ia meraih tiga titel juara Liga Inggris. Yang paling spektakuler adalah musim 2003-2004 saat tim bergelar Meriam London ini tak terkalahkan, hingga ia akhirnya pensiun tahun 2006 lalu.

Selain dari gol-gol indahnya, yang diingat dari Bergkamp adalah ketakutannya naik pesawat terbang. Ia pun dijuluki Non-Flying Dutchman. Namun tak banyak yang tahu kalau penyerang berambut pirang ini adalah sarjana Teknik Mesin dari University of Math, Inggris dan meraih titel B Sc.

Juan Mata Utamakan Pendidikan

Juan Mata membaca buku di saat senggang.

 Juan Mata

Begitu banyak gelar yang pernah dicicipinya; Piala Raja Spanyol, juara Liga Inggris, Piala FA, Liga Europa, Liga Champions, Piala Eropa hingga Piala Dunia! Sekarang pemain Spanyol ini bermain untuk klub elit, Manchester United. Pembawaannya kalem, namun umpan dan gocekannya mematikan lawan di lapangan.

Selama bermain di Liga Inggris, ia kuliah di jurusan pemasaran (marketing) dan ilmu olahraga di Universidad Camilo Jose Cela, Madrid. Jarak tidak menjadi kendala karena proses belajar Mata berlangsung via internet dengan para dosennya.

Padahal dengan gaji 140 ribu Poundsterling atau setara 2,2 milyar Rupiah per pekan, Mata bisa hidup santai tanpa bersusah sekolah.

“Memang sulit untuk membagi waktu. Namun, Anda tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah menjadi pesepakbola,” katanya kepada koran terkemuka Spanyol, El Pais.

Setuju, Mata!

Chiellini saat ujian tesis di hadapan tim penguji Prof. Pietro Paolo Biancone dan Professor Alberto Gallatari.
Foto: Juventus.com

Georgio Chiellini

Perawakan tegap bak tentara. Bermain tanpa kompromi, melibas siapapun penyerang lawan yang mengancam kotak penalti Juventus dan Timnas Italia. Selama beberapa tahun terakhir, ia merupakan salah satu bek andalan kesebelasan Nyonya Tua sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Di balik sosoknya yang kokoh, rupanya Chiellini baru saja menggondol gelar master di bidang studi Bisnis Ekonomi di Universitas Manajemen dan Ekonomi Turin, April 2017 barusan. Tesisnya yang berjudul “Model Bisnis Juventus Football Club dalam Konteks Internasional” meraih nilai cumlaude.

Pesepakbola Indonesia Gak Mau Ketinggalan…

Boaz Solossa Wisuda

Boaz Solossa
Foto: Goal.com

Kapten timnas Indonesia, Boaz Solossa adalah sarjana hukum lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura yang diwisuda tahun 2013 lalu. Bersama pemain Persipura lainnya seperti Roni Beroperay, Gerard Pangkali dan Feri Pahabol, Boaz tidak lupa akan pendidikannya.

Samsul Arif, penyerang timnas dan Persela Lamongan lain lagi. Ia kerap menulis di surat kabar lokal di kampung halamannya, Jawa Timur seperti Radar Bojonegoro. Tulisannya bukan hanya tentang Mengingat ia adalah alumni fakultas Ekonomi Universitas Bojonegoro.

Nama-nama lain…

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi pesepakbola yang bertitel sarjana. Sebut saja Andrei Arshavin (Rusia) lulusan fashion design dari University of Technology and Design St. Petersburg. Simon Mignolet, kiper Liverpool yang kuliah ilmu politik. Kapten Manchester City, Vincent Kompany asal Belgia, peraih master Administrasi Bisnis. Tak ketinggalan Yuto Nagatomo, pemain Jepang di Inter Milan yang menulis buku tentang ekonomi. Dan masih banyak lagi….

Kuliah dan diwisuda sebagai sarjana memang tidak menjamin seseorang bisa sukses dan mapan. Tapi melihat passion para pesohor lapangan hijau ini, menunjukkan bahwa belajar adalah kebutuhan hidup manusia. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa ilmu adalah harta yang paling berharga, yang takkan habis jika diberikan kepada orang lain.

Orang yang tak mau lagi belajar maka ia sudah kelewat sombong. Sebab semakin banyak belajar, maka kita akan menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“I’m still learning (sampai saat ini saya masih belajar)”
Albert Einstein