Fabana.id. ‘Pesantren’ merupakan trademark lembaga pendidikan tradisional Indonesia, yang eksistensinya terus berkembang hingga saat ini.

Kata siapa mondok dan belajar di pesantren itu out of date alias ketinggalan zaman? Justru pesantren mampu menkolaborasikan dua kultur pendidikan, Klasik dan modern.

Ditinjau dari sisi klasik, istilah pesantren terbentuk dari kata “santri” yang sebenarnya bukan berasal dari kosakata Bahasa Arab, maupun istilah pendidikan dalam dunia islam. Melainkan berakar dari bahasa sansekerta, yaitu “sastri” yang artinya melihat huruf.

Menurut Zamakhasyari Dofier dalam penelitiannya, kata santri berasal bahasa India, yang berarti sarjana ahli kitab suci agama Hindu.

Dalam pendapat lain juga disebutkan bahwa kata santri juga berasal dari kata bahasa jawa “cantrik” yang bermakna mengikuti seorang guru kemana guru pergi menetap.

Dari berbagai pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa istilah “pesantren” merupakan produk asli Indonesia. suatu proses akulturasi, untuk menanamkan nilai-nilai ajaran islam dalam kehidupan masyarakat kala itu.

Menjaga dan mengembangkan eksistensi pesantren, berarti memegang dua tongkat kesimbangan, melestarikan khazanah budaya Indonesia dan menghargai titik peluh perjuangan para ulama terdahulu dalam menyebarkan Islam di bumi nusantara.

Seiring berjalannya waktu beberapa lembaga pendidikan pesantren tidak menutup mata pada perkembangan zaman yang semakin gesit, banyak pesantren yang tidak hanya membekali santrinya dengan ilmu agama, namun juga ilmu pengetauan umum dan wawasan kekinian. Agar kelak para santri tidak gagap tatkala berhadapan dengan kemajuan zaman yang bergerak bahkan tiap detiknya.

Dua kolaborasi ini merupakan suatu entitas yang mewujudkan eksotisme budaya dalam ranah pendidikan di Indonesia, yang melahirkan Daya pikat khas bagi setiap Orang tua untuk memasukan anaknya ke pesantren. Para Orang tua ingin anak mereka memiliki kesimbangan dalam menjalani kehidupan, tidak buta terhadap pengetahuan agama untuk bekal di akhirat kelak, dan juga mampu berkompetisi untuk urusan duniawi tanpa mengabaikan aturan yang sudah ditetapkan dalam agama.

Namun ironisnya, dewasa ini bermunculan stigma di mata Orang yang kurang memahami pesantren itu sendiri. Kerancuan tumbuh dimana-mana, karena tidak adanya pemahaman yang mendalam. Pondok pesantren dianggap menjadi tempat tumbuhnya paham radikalisme oleh sebagian pihak, dan oleh pihak lainnya memang benar adanya menjadikan pesantren sebagai wadah doktrinasi dan penanaman ideologi bahwa syariat Islam harus ditegakkan dengan pertumpahan darah.

Jati diri pesantren sebagai representasi kebudayaan Indonesia pudar oleh pemahaman yang keliru. Tidak usah menjastifikasi bahwa cikal bakal radikalisme bersumber dari pesantren, dan sebaliknya tidak usah menjadikan pesantren sebagai basis gerakan perjuangan yang konyol, Kalau hanya untuk memecah belah NKRI.

Karena pesantren di Indonesia hadir untuk mengikat simpul ajaran Islam denga nilai-nilai kebangsaan.

Karena pesantren hadir untuk perkembangan Islam di Indonesia yang berbudaya.

Karena pesantren adalah kedamaian bagi Indonesia.

Karena melestarikan pesantren berati menjaga keutuhan bangsa.

Karena pesantren adalah Indonesia.

Oleh: Taufik Uzumaky, Praktisi pendidikan berdomisili di Tabalong, Kalimantan Selatan