bumi-quranPertengahan 2014 lalu, saya bersama beberapa rekan berkesempatan untuk Silaturrahim ke kediaman alm H. Bisri Ilyas (Raja Properti Gresik). Dengan niat “Ngaji Bisnis”, belajar dari pengalaman beliau memulai bisnis properti. Ternyata H. Bisri bukanlah anak dari seorang yang kaya raya, “Saya tidak sampai selesai di Gontor. Berhenti saat kelas 3 KMI karena terkendala biaya,” ujarnya. “Akhirnya saya pulang dan mencari peluang bisnis. Saya temukan di properti, karena semua orang pasti butuh rumah dan mencari itu,” imbuhnya, kemudian diam mengingat masa lalu.

Saya sampaikan bahwa kami akan mendirikan pesantren. Dan saat ini ingin mengembangkan usaha, supaya dapat membebaskan lahan dan memulai pembangunan. Saat itu, tanah pesantren yang terbebas baru sepertiganya. Bukannya gembira, nada beliau agak meninggi dan menjawab, : “Kamu terlalu tinggi, yang jadi fokusmu apa, pendidikan atau bisnis?” Saya jawab: “pendidikan, seperti Gontor, bisnis untuk support saja, sehingga mandiri.” “Jika seperti itu, kamu fokus di pendidikan saja, buat pesantren yang baik dan cari orang yang mau membiayainya!” tegas H. Bisri.

“Bentak”kan H. Bisri masih terngiang hingga wafat beliau pada bulan Ramadhan lalu. Rentang waktu 2 tahun ini, saya isi dengan pengembangan pendidikan dan dakwah al Qur’an. Pembangunan pesantren, belum menunjukkan hasil. Tanah sudah terbebas, namun belum berdiri bangunan apapun. “Pesantrenmu yang membangun adalah masyarakat.” Ujar salah satu pengasuh pesantren yang berdiri di atas 100 ha tanah wakaf, disela-sela mengisi pembekalan al Qur’an untuk santri-santrinya.

Saat memulai Pesantren, saya selalu berkiblat pada Gontor. Bukan Gontor sekarang, melainkan Gontor generasi pertama, berdiri tahun 1926. Rentang dasawarsa pertama adalah bagian pondasi, karena Trimurti berkata bahwa perubahan terjadi dalam rentang dasawarsa. Pondasi awal Gontor dibangun menjadi 3 jangka. Jangka Tahun pertama, kedua dan ketiga.

Jangka Tahun pertama telah dimulai dengan Tarbiyatul Athfal, dan sukses mendidik anak-anak sekitar Gontor dan menanamkan nilai-nilai keIslaman dikalangan orang tua. Jangka Tahun Kedua pun sukses dengan terjunnya 75 muballigh binaan Gontor di tengah-tengah masyarakat. Dan Jangka Tahun Ketiga, telah berhasil dengan berdirinya beberapa asrama dan 4 ruang kelas. Dibangun pula bersama masyarakat Balai Pertemuan Kaum Muslimin (BPKM) yang sekarang dikenal menjadi BPPM.

Pesantren Alam Bumi al Qur’an tidak serta merta ada. Terdapat sebuah wasiat yang tak terucap dari alm H. Fadli, abah saya. Permintaan ini saya ketahui saat mengutarakan niat ingin membeli sebuah lahan untuk pesantren kepada ummi. Saat itulah, beliau bercerita bahwa abah dulu pernah menginginkan putranya mendirikan pesantren. Diperkuat juga oleh seorang kyai, sahabat abah, kalau saya harus mendirikan pesantren, entah di Surabaya atau Jombang. Hal ini pun, baru terdengar saat lahan sudah diberi uang muka.

Tahun 2011 akhir, saya memulai mengajar anak-anak mengaji, di rumah orang tua, tanpa embel-embel TPQ, tak berplang. Yang merintis ummi, dengan santri tidak lebih dari 30 anak sejak tahun 1987. Tahun 2012, lahirlah metode Burhany, cara cepat belajar membaca al Qur’an sistem 9 jam.

Saat itu, jumlah santri tiap tahun bertambah, dari 30 hingga 200 santri hingga saat ini. Maksimal, untuk sebuah kampung Tambak Dalam Baru, di Surabaya. Mulailah banyak TPQ, pesantren atau lembaga lainnya yang ingin menggunakan metode Burhany. Dan sekarang sudah lebih dari 4000-an guru menggunakan metode ini. Burhany berkembang dengan metode lainnya, seperti menulis dan memahami al Qur’an (STQ). Dan insya Allah, akan muncul beberapa metode lainnya.

Saat ini, Pesantren Alam Bumi al Qur’an “terpaksa” menerima santri, karena ada beberapa santri yatim-dhuafa’ yang perlu diberdayakan, meski harusnya dibuka tahun 2017. Untuk menaungi santri inilah, kami harus ‘numpang’ di Peterongan, Jombang. Tak salah, jika kami namakan ‘Pesantren Alam’ bukan ‘Pondok Pesantren’, karena dari alamlah kami bernaung. Beratapkan langit, beralaskan Bumi. Saat hujan tidak kepanasan, begitupula saat cuaca panas, tidak kedinginan. Yang terpenting, tetap istiqamah di jalur pendidikan, ikhlas bersyukur pada Tuhan Semesta Alam.

 

Oleh: Ahmad Ghozali Fadli*
Penulis adalah kontributor di Fabana.id sekaligus Pengasuh Bumi al Qur’an, Jombang, Jawa Timur