Luqman Hakim

Luqman Hakim

Sepuluh tahun sejak meninggalkan Pondok Pesantren Darussalam Gontor tahun 2006,  Luqman Hakim merasakan betul bahwa didikan selama jadi santri sangat berperan membentuk pribadinya dalam mengarungi lika-liku dunia.

Salah satu falsafah pendidikan pesantren yang jadi pegangannya adalah keikhlasan. Ikhlas berarti menjadikan semua perbuatan kita hanya untuk dan demi Allah swt semata. Bagi lelaki yang biasa dipanggil “Bang De” oleh koleganya ini, keikhlasan adalah inti kehidupan. Jika perbuatan dilakukan untuk meraih simpati seseorang atau mendapatkan keuntungan material, maka tidak ada nilainya.

“Tanpa keikhlasan segala amal dan perbuatan kita sia-sia belaka, akan menguap bak buih di lautan,” ujar pria asal Sambas, Kalimantan Barat ini saat dihubungi Fabana.id.

“Begitu pula apabila kita diterpa musibah atau fitnah. Jika kita ikhlas, maka segala problematika itu terasa ringan karena kita meyakini bahwa inilah ketentuan dari Allah swt yang pasti ada hikmah di baliknya”, tambahnya.

Selepas menyelesaikan tugas sebagai guru selama setahun di Pondok Modern Darul Ma’rifat, Kediri, Luqman merantau ke Jakarta tahun 2008. Di ibukota ini, semula ia berencana melanjutkan kuliah. Namun alih-alih mengenyam bangku perguruan tinggi, roda takdir justru membawanya ke jalan lain. Sempat bekerja pada H. Asep Subandi, pengusaha yang juga kakak kelasnya di Pondok, hingga bertemu pasangan hidup dan menikah.

Setelah anak pertamanya lahir, Luqman pun kembali ke Sambas, kampung halamannya.

“Saya lalu bergabung di Pondok Pesantren Muhammad Basyuni Imran, sebuah lembaga pendidikan yang cukup tua di Sambas. Walau sudah berdiri sejak 1979, kondisinya saat itu cukup memprihatinkan. Pendidikan berjalan apa-adanya, santrinya sedikit dan tidak terurus dengan baik,” kenangnya.

Lalu Bang De mengajak seorang adik kelasnya mengabdi di lembaga pendidikan ini.

“Alhamdulillah perlahan-lahan pesantren ini mulai bangkit. Animo masyarakat menyekolahkan anaknya di sini juga meningkat,” ungkap lelaki yang gemar menumbuhkan jenggot ini.

Luqman (kanan) sebagai relawan di Aceh

Luqman (kanan) sebagai relawan di Aceh

Tahun 2010 kami memberanikan diri menghadap KH. Abdullah Syukri Zarkasyi di Gontor. Niat kami adalah minta wejangan beliau untuk pengembangan Pondok Basyuni sekaligus memohon bantuan tenaga pendidik.

“Respon Pak Kyai Syukri sungguh mengejutkan saya. Beliau malah menyuruh saya untuk mendirikan Pondok Pesantren sendiri,” staf keamanan pusat organisasi Pelajar Pondok Modern Gontor tahun 2006 ini berkisah.

Ustadz Syukri berpendapat bahwa dengan membangun pesantren sendiri, Luqman dapat menerapkan idealismenya secara total dan menyeluruh.

Pesan Kyai ini selalu terngiang di benaknya. Hingga pada tahun 2012, Luqman mengundurkan diri dari Pondok Basyuni. Berkat bantuan berbagai pihak, ia dapat membeli lahan seluas 9.200 m persegi di Sambas.

Proses pembangunan masjid Darul Mukhlisin

Proses pembangunan masjid Darul Mukhlisin

“Sebenarnya tanggung sih, 800 m2 lagi tanah itu kan  genap 1 hektar. Tapi sebagai permulaan tak apalah, semoga nanti bertambah. Pondok ini kami namakan Darul Mukhlisin,” jelas ayah dari 5 anak ini.

 

Dari namanya Darul Mukhlisin yang berarti “Rumah orang-orang ikhlas” ini, Luqman berharap jadi ajang pengabdian hamba-hamba Tuhan yang Ikhlas dalam membangun umat dan bangsa.

Perlahan tapi pasti, pembangunan pondok yang dinamakan Darul Mukhlisin ini berjalan. Diawali dengan masjid seluas 20 x 22 m, kelas dan asrama.

“Mohon doa teman-teman, Insya Allah kegiatan belajar mengajar akan dimulai tahun 2018 dengan membuka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan SLTP” harapnya.

Selain merintis pondok dan mengajar, Bang De juga aktif sebagai relawan di Peduli Muslim, sebuah lembaga sosial nasional.

“Desember lalu kami berangkat ke Pidie, Aceh yang dirundung musibah gempa”, tutur Luqman yang sedang menunggu kelahiran anak ke-enamnya. (my)