FABANA.id – Ada hal yang menarik di dalam diri kita, yaitu mengenai peran Ilmu dan pengetahuan dalam proses membangun sikap dan watak manusia. Kita sering bertanya-tanya, kenapa ada orang berpendidikan tinggi tapi tingkah lakunya buruk, tidak mencerminkan dari apa yang telah dicapainya, atau ada sosok yang religus dan begitu dihormati, menguasai hukum-hukum dan disiplin ilmu agama, tapi perkataan dan sikapnya sering membuat orang sakit hati, bertindak semaunya dan apa yang disampaikannya kontradiktif dengan apa yang diperbuat.

Pada pembahasan kali ini, saya pisahkan terlebih dahulu antara ilmu dan pengetahuan, agar kita dapat menemukan titik terang mengenai gejolak ilmu dan pengetahuan dalam diri manusia sebelum menuju entitas dari ilmu pengetahuan Secara impersonal.

Hakikat pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui dari penjelajahan objek tertentu di masa lalu yang pernah kita kenal dan alami, kemudian dihubungkan  dengan masa sekarang ataupun masa yang akan datang. Pengetahuan adalah peti harta karun dalam diri kita yang akan memperkaya kehidupan baik secara langsung maupun tidak. Posisi kita sebagai Homo Faber turut dibantu dengan keberadaan pengetahuan, untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Pemahaman mendalam tentang hakikat pengetahuan merupakan ‘Tools of Improvement’ atau alat yang dapat kita gunakan dalam mengembangkan mental ke arah yang lebih baik dan alat untuk memahami kecendrungan prilaku dan sikap orang lain, tanpa mendakwa dan menghakimi secara membabibuta.

Ada tiga landasan pengetahuan, yaitu; Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi. Ontologi menyelami makna terdalam dari keberadaan sesuatu, Epistimologi menjelaskan bagaimana sesuatu bisa ada dan terjadi dan Aksiologi membicarakan tentang manfaat dari sesuatu. Tiga komponen tersebut adalah pondasi yang menguatkan dan menjaga eksistensi pengetahuan, dan juga untuk menunjang berkembangnya pengetahuan dari waktu ke waktu.

Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, hanya saja lebih tajam dan rinci. Ilmu terbentuk dari usaha kita berfikir lebih jauh, yang tersusun secara sistematis berdasarkan pada suatu metode, yang menggunakan penelaahan dan bukti-bukti empiris untuk memperkuat tiga landasan yang menjadi jalan dalam proses mencapai pengetahuan yang lebih luas. Semenara Ilmu Pengetahuan adalah gabungan dari ilmu dan pengetahuan, yaitu kesadaran manusia dalam upaya menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan kualitas pemahaman kita atas aktivitas fisik di dalam kehidupan.

Mari kita masuk pada realitas kehidupan di sekitar kita, seharusnya ilmu dan pengetahuan yang sudah kita miliki mampu menuntun kita kepada arah hidup yang baik dan benar, bukannya malah keluar dari wilayah kebenaran yang sudah disepakati dari sudut pandang sosial, agama, moral dan kemanusiaan. Lantas kenapa terjadi anomali atau penyimpangan dari ilmu dan pengetahuan yang sudah tumbuh dalam diri seseorang? Kenapa masih banyak orang yang bertindak semaunya tanpa ada batasan, bertindak impulsif, mengabaikan pengetahuannya? Misalnya; dia tahu mengambil sesuatu yang bukan miliknya adalah salah, dia tahu bahwa perbuatannya itu merugikan orang lain, bahkan pada skala yang besar dapat merugikan bangsa dan negaranya. Namun masih saja dia melakukan perbuatan itu, padahal pengetahuannya sudah mencapai nilai-nilai yang berkaitan dengan prilaku buruk tersebut.

Ada faktor lain yang tidak disadari telah merusak dan menggerogoti kinerja dari Ilmu dan Pengetahuan. Pertama adalah tumbuhnya ego dalam diri manusia, yaitu munculnya ambisi mencapai dan mendapatkan sesuatu, dengan menonaktifkan notifikasi ‘benar-salah’ yang ada di dalam dirinya. Segala hal yang dianggap adalah tujuan terbaik untuk diri sendiri akan terus dikejar, tanpa peduli benar atau salah, yang penting hasratnya terpenuhi. Kedua adalah terjadinya korelasi yang kusut antara akal pikiran dan hati nurani. Ilmu dan pengetahuan hanya berkuasa di wilayah akal saja tidak diproses sampai ke hati, yang mempunyai peran untuk mempertimbangkan mana yang pantas dan mana yang tidak dan menyentuh sisi sosial kemanusian.

Dua faktor tersebut adalah benalu, jika terus dibiarkan akan membuat kesadaran untuk melakukan hal yang baik menjadi mati dan membuat Ilmu pengetahuan hanya menjadi teori belaka, bahkan lebih parah lagi, pengetahuan hanya jadi fantasi di alam mimpi. Coba kita renungkan untuk apa manusia selama dalam sejarah kehidupannya berfikir, menemukan dan menciptakan jika tidak untuk menuju kepada kehidupan yang baik, kehidupan yang berbudaya, bermartabat, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Mulailah meluruskan lagi kekusutan antara akal dan hati nurani, sehingga teori di alam ilmu pengetahuan dapat bekerjasama dengan hati nurani, sebagai penyeimbang dari perbuatan dan tindakan yang dilakukan. Karena kita dipercayakan oleh Tuhan untuk mengelola bumi ini agar menjadi lebih baik  bukan berbuat kerusakan, dan ilmu pengetahuan dianugerahkan bukan sebagai identitas sosial semata, yang menunjukan siapakah yang paling pintar dan hebat, tapi untuk membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang layak sebagai pemegang kendali di muka bumi.

 

Oleh: Taufik Uzumaky, Founder Planet English Course, Tabalong, Kalimantan Selatan