kampus-gontorBerapa Banyak Dana APBN yang Diberikan ke Gontor?

Pertanyaan itu disampaikan seorang wartawan salah satu media nasional ternama yang ikut dalam rombongan kunjungan Presiden Joko Widodo dalam rangka peringatan puncak 90 tahun Pondok Modern Gontor, 19/9/2016 lalu.

Wartawan menanyakan itu kepada Hidayat Nur Wahid (HNW) dalam sebuah kesempatan door stop di depan kediaman Pimpinan PM Gontor hanya berkisar sekitar satu jam sebelum kedatangan Presiden Joko Widodo.

Ada banyak pertanyaan kepada HNW diantaranya; Gontor sudah berusia 90 tahun, apa sumbangsihnya terhadap Indonesia? Apa tantangan Gontor ke depan jelang usianya yang hampir satu abad.

Semuanya dijawab dengan lancar. Tiba giliran pertanyaan soal APBN tadi HNW terlihat menghela nafas sejenak, lalu menjawabnya”Hanya sedikit APBN yang diberikan ke Gontor, mungkin hanya sekian nol persen, sebab pondok ini punya prinsip berdikari dengan asas kemandirian,” kata HNW.

Bagi sebagian alumni Gontor yang tahu isi dalam Gontor mungkin akan menilai pertanyaan2 wartawan itu sangat menukik. Bisa jadi juga timbul sentimen negatif dengan pertanyaan pertanyaan yang cukup sensitif itu.

Tapi itulah dunia jurnalis, bisa dimafhumi wartawan bertanya seperti itu sebab mereka memang orang awam yang hanya melihat Gontor dari kulitnya saja bahkan bisa jadi itu adalah kunjungan pertamanya ke Gontor dan belum sempat mempelajari Gontor secara mendalam.

Ditambah lagi dengan naluri pertanyaan kritis yang akan selalu dimunculkan para pencari berita.Kira-kira motif wartawan bertanya soal dana APBN ke Gontor mungkin mereka melihat betapa megahnya gedung-gedung yang dimiliki Gontor.

Apalagi dalam kunjungan Presiden lalu para wartawan menyaksikan megahnya gedung-gedung di Universitas Darussalam (UNIDA) juga gedung-gedung di Kampus Gontor 1 sendiri sampai-sampai Presiden Jokowi pun kaget dan saat menyampaikan sambutan mengatakan, “Setelah helikopter mendarat jujur saya kaget ketika sampai di UNIDA saya pikir itu sudah pondoknya tapi ternyata itu Universitasnya dan pondoknya lain lagi. Pondok ini sangat besar,” kata Jokowi.

Pertanyaan soal dana APBN ini jg ramai di media sosial setelah beberapa tokoh semisal Zulkfli Hasan memposting di facebook foto kunjungannya ke Gontor bahkan di facebook Presiden Jokowi sendiri ada yg berkomentar, pondok Gontor sangat megah jangan Gontor terus yang dibantu.

Beruntungnya sekitar satu pekan setelah peringatan 90 tahun Gontor, Majalah Tempo membuat kejutan dengan menurunkan edisi laporan khusus tentang Gontor dan seluk beluknya termasuk soal kemandirian ekonomi yang dimiliki Gontor.

Tempo kurang lebihnya menggambarkan betapa Gontor ini bukan hanya sistem lembaga pendidikannya yang mandiri tetapi juga mandiri secara ekonomi.

Ini dibuktikan dengan luasnya tanah wakaf yang dimiliki Gontor, banyaknya unit usaha mulai dari toko bangunan, selep, depot air minum dan puluhan unit usaha lainnya yang dimiliki Gontor dan dikelola secara profesional sekaligus dijadikan sebagai salah satu aspek pendidikan bagi santri dan guru2 di pondok Gontor.

Pendidikan artinya, lewat unit2 usaha itu santri2 Gontor setidaknya diperlihatkan tata cara pengelolaan bisnis yang profesional hingga kelak bisa jadi modal ilmu bisnis bagi mereka jika ingin terjun ke dunia bisnis setelah jadi alumni.

Berdikari juga jadi salah satu filosofi Gontor hingga jangan beranggapan megahnya bangunan di Gontor karena banyaknya APBN yg digelontorkan ke Gontor.

Alumni Gontor yang jeli dengan hitung-hitungan ekonomi kemungkinan akan merasa bahwa hutang mereka ke Gontor bukan hanya hutang telah dididik, diasuh dan hutang keilmuan saja tetapi jg berhutang materi ke Gontor

Betapa tidak, cost pendidikan di Gontor dengan biaya pendaftaran sekarang tak lebih dari 5 juta dan biaya bulanan tak lebih dari 1 juta dengan fasilitas selengkap itu, full kegiatan dan makan tiga kali sungguh itu sangat murah.

Bandingkan saja dengan sekolah lain di Jabodetabek yang saat ini rata-rata pendaftarannya berkisar 15-20 juta dan biaya bulanan rata-rata 1 juta perbulan.

Jika bukan karena subsidi silang yang diberikan Gontor kepada santri2nya tdk mungkin biaya di pondok itu segitu. Bahkan subsidi Gontor ke santrinya sdh berlangsung sejak puluhan tahun.

Beberapa alumni 60 an dan 70 an pernah bercerita bahwa dahulu ada gudang padi di dekat masjid Gontor. Tumpukan padi itu hasil dari panen sawah2 wakaf yg dimiliki Gontor dan dari situ para santri makan setiap hari.

Pasca peringatan 90 tahun Gontor, isu kemandirian ekonomi dan sinergi di bidang bisnis antar alumni Gontor terus bergulir. Melahirkan sebuah komunitas baru bernama FORBIS (forum bisnis) IKPM Gontor.

Ini adalah wadah resmi sinergi antar pengusaha alumni Gontor yang berada di bawah naungan Pimpinan Pusat (PP) IKPM Gontor.Forbis digagas oleh PP IKPM GONTOR, sebuah wadah yang diinisiasi menjadi pusat informasi, edukasi, konsultasi, mentoring, networking serta sinergi antar sesama alumni

Terpilihlah ketua umum Forbis IKPM lengkap dengan formatur bidang-bidang yang sudah ditentukan. Penggalangan pengusaha2 dari berbagai jenis bidang usaha juga telah dilakukan, terkumpul 100 an lebih pengusaha alumni Gontor yang siap bersinergi saling membantu dan membesarkan.

Forbis IKPM pun siap dilaunching dengan pelantikan pengurus yang rencananya akan digelar pada Sabtu, 22 Oktober 2016 Pukul 09.30 WIB di Hall Book and Education Stage (IIF) JIExspo, Kemayoran, Jakarta. Pelantikan akan dihadiri Pimpinan PM Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal dan PP IKPM Gontor.

Lahirnya komunitas baru ini patut didukung setidaknya untuk menegaskan kemandirian keluarga besar Gontor yang memang sejak di Gontor telah dididik agar memiliki jiwa berdikari dan mandiri secara ekonomi.

Pada akhirnya, semoga keberkahan dan limpahan rejeki dari Allah SWT selalu diberikan ke Gontor beserta keluarga besarnya. Amin. (Wallahu A’lamu Bisshowab)

 

Oleh: Husein Sanusi*

*Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2000, anggota Jurnalis Alumni Gontor (JAGO).