Pendidikan Holistik

Foto: Umacademy

Pendidikan di Indonesia belum menyentuh nilai-nilai holistik yang mulai terlupakan.

Tidak usah terlalu latah membombardir potret dunia pendidikan Indonesia saat ini dengan hujatan dan ujaran yang mendeskreditkan, serta perilaku saling menyalahkan satu sama lain. Lupakan sejenak tentang polemik yang melanda, yang tidak pernah ada ujungnya.

Pendidikan di negeri ini hanya saja belum menyentuh nilai-nilai holistik, suatu konsep pendidikan yang menitikberatkan pada penjelajahan nalar dan asa setiap individu dalam menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui korelasi mutualis terhadap masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Pendekatan holistik yang diberdayakan masih tumpul, belum tajam dan maksimal. Hingga mampu memotong stigma negatif yang tumbuh di dalam impian para peserta didik.

Perlu diingat bahwa dalam pendekatan holistik terdapat “Mata Bijak” yang senantiasa melihat dan memandang semua manusia, dari suku atau ras manapun secara utuh dan memiliki hak yang selaras. Pendekatan ini dikonstruksi dari unsur-unsur, kognitif, afektif dan perilaku.

Perlu sentuhan artistik pada tiap unsur, agar tidak kaku dan monoton, yang malah menjadi perangkap bagi jiwa-jiwa yang haus ilmu pengetahuan. Jika dikaji lebih mendalam pada unsur perilaku terdapat beberapa esensi yang membentuk perilaku itu sendiri, antara lain adalah konatif, volisional dan normatif.

Perilaku konatif merupakan konsep perilaku yang dijalin dari kecendrungan-kecendrungan tanggapan motorik emosional terselubung, mengandung tujuan secara tersirat. Perilaku volisional adalah kebalikan dari konatif. Di mana tujuan itu bermanisfestasi secara gamblang, terang-terangan demi mengejar objek bernilai yang dikenali maupun bisa dikenali. Sementara perilaku Normatif melahirkan corak dalam pencapaian tujan yang didasari pada prinsip-prinsip yang bersifat abstrak.

Ketiga esensi ini saling berhubungan dan menguatkan satu sama lain, agar tercipta tujuan yang kokoh dalam berperilaku dan memaknai pendidikan sebagai wadah yang menciptakan kesimbangan hidup dari nilai-nilai dasar kemanusiaan yang bersifat intuitif. Menyeluruh, utuh, dan bermartabat.

“Cari yang kurang, lalu lengkapi… cari yang rusak kemudian perbaiki. Bukan mengotak-atik yang kurang, lantas menciptakan kekacauan yang berlipat ganda. Bicara dan tindakan kongkit adalah solusi, suara lantang dan pecah tanpa eksekusi hanya angin lewat tanpa permisi”.

Oleh: Taufik Uzumaky, pegiat sastra & praktisi pendidikan dari Tabalong, Kalimantan Selatan

 

Foto: kbknews.id