Akidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber dari akidah Islam. Yang dimaksud dengan adalah dengan menjadikan akidah Islam sebagai standar penilaian

Fabana.id. Berbicara kondisi pendidikan saat ini, memang belum bisa dikatakan baik. Masih banyak pekerjaan rumah yang musti dibereskan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab. Hal itu disebabkan karena peserta didik yang menempuh pendidikan formal di negeri ini,  tidak mencerminkan sesuatu yang patut dibanggakan. Mungkin tidaklah semua demikian, namun sebagian dari peserta didik setidaknya mencerminkan suatu pekerjaan rumah yang tidak bisa dianggap remeh.

Pemerintah sebagai pihak penyelenggara pendidikan, tentu sangat sadar dengan apa yang terjadi di akar rumput. Pemerintah pun sadar akan adanya perbedaan yang mencolok antara keinginan menjadikan peserta didik sebagai lulusan yang berkualitas, dengan realitas lapangan yang justru berkata sebaliknya. Dan hal ini musti dicarikan penyebab sekaligus solusinya.

Jika mau berkata jujur terhadap pelaksanaan pendidikan saat ini, tentulah semua paham bahwa pelaksanaan pendidikan saat ini dibentuk berdasarkan sebuah paradigma sekuleristik. Artinya antara pendidikan agama dan pendidikan non-agama (Sains dan Teknologi) harus benar-benar dipisahkan. Karena keberadaan agama merupakan disintegral dengan keberadaan sains dan teknologi.

Jika ditelusuri secara historis, jejak awal pemisahan pendidikan agama dengan sains dan teknologi bisa ditemukan pada sejarah Eropa Barat di abad pertengahan. Saat itu kekuasaan kaum agamawan yang berpusat di gereja mendominasi hampir di semua lini kehidupan. Tak terkecuali pada bidang sains dan teknologi.

Penemuan dari Galileo Galilei dan Copernicus yakni mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet (heliosentris) dan bukan bumi (geosentris), ternyata harus bertabrakan dengan dogma gereja. Disebabkan Galileo Galilei dan Copernicus tidak mau mengubah pendapatnya, akhirnya mereka dihukum mati. Dari sanalah ide sekulerisme mencuat. Para ilmuwan dan negarawan pun akhirnya menyimpulkan, bahwa jika ingin maju masyarakat harus meninggalkan agama; atau membiarkan agama tetap di wilayah ritual peribadatan. Sementara wilayah duniawi (politik, iptek, ekonomi, tata sosial kemasyarakatan) harus steril dari agama.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan kejadian kelam di Eropa Barat dengan munculnya ide sekularisasi, menjadi layak untuk dialamatkan kepada negeri ini? Apakah negeri ini pernah terjadi perseteruan antara ilmuwan dengan kaum agamawan? Tentu dalam sejarah Indonesia tidak pernah ada perseteruan tersebut. Maka ini menjadi satu kejanggalan jika pendidikan dengan paradigma sekuleristik menjadi solusi bagi pendidikan saat ini.

Paradigma Pendidikan Alternatif

Islam sebagai sebuah agama yang sempurna dan paripurna tentu menjadi salah satu solusi alternatif yang musti dilirik. Dengan berbekal mayoritas muslim di negeri ini, Islam tidak akan menjadi sesuatu yang dirasa berbahaya. Apalagi dalam konteks pendidikan.

Islam sendiri selama masa kejayaannya pernah tercatat memiliki pendidikan yang menghasilkan para ilmuwan dan agamawan yang terkemuka. Sebut saja Imam Syafi’i, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Imam Al-Ghazali dan sederet nama yang sampai dengan saat ini karyanya masih menjadi rujukan utama dunia pendidikan. Tercatat pula selain sederet ulama dan ilmuwan, Islam pun menghasikan sekolah unggulan di masanya. Sebut saja Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Al-Mustanshiriyah di Baghdad, Madrasah Al-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Di antara madrasah-madrasah tersebut yang terbaik adalah Madrasah Nizhamiyah. Dan sekolah tersebut menjadi standar bagi daerah lainnya di Irak, Khurasan (Iran) dan lainnya.

Satu yang menjadi pembeda dari capaian pendidikan Islam adalah bukan hanya menghasilkan ilmuwan dan agamawan sekaligus madrasahnya, namun hasil pendidikan Islam juga berhasil menjadikan peserta didik sebagai orang yang berkarakter. Bisa dilihat Ibnu Khaldun atau Abu Zayd ‘Abdur-Rahman bin Muhammad bin Khaldun Al-Hadrami (1332-1406 M) yang berasal dari Tunisia adalah seorang polymath yang menguasai banyak kehalian sekaligus. Beliau adalah seorang astronom, geografer, matematikawan, sejarawan, sosiolog, ekonom, negarawan, dan tak lupa ia juga seorang hafidz, dan fuqaha.

Bahkan sejarawan terkenal Inggris Arnold J Toynbee menyebut Muqaddimah adalah karya terbesar dalam filsafat sejarah yang pernah dibuat pikiran manusia sepanjang masa. Selain Arnold J Toynbee, sejarawan Inggris lainnya, Robert Flint menulis bahwa Plato maupun Aristoteles belum mencapai jenjang keilmuan setaraf Ibnu Khaldun (Ahmad Sastra, 2014). Sesuatu yang sulit ditemukan saat ini selain ia sebagai ilmuwan besar namun ia juga menjadi seorang agamawan.

Rahasia utama dibalik kejayaan pendidikan Islam kala itu bukanlah pada sarana dan prasarananya. Bukan pula pada kondusivitas politik dalam dan luar negerinya. Melainkan paradigma pendidikan yang dibangun dan diterapkan.

Paradigma pendidikan Islam tentu berasaskan pada akidah Islam. Akidah ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar-mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.

Namun begitu, penetapan akidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber dari akidah Islam. Islam tidak memerintahkan demikian. Lagi pula hal itu tidak sesuai dengan kenyataan, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan terlahir dari akidah Islam. Yang dimaksud dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah dengan menjadikan akidah Islam sebagai standar penilaian. Dengan istilah lain, akidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan. (M. Ismail Yusanto, et al, 2014)

Disamping asasnya yang diperhatikan, juga tujuan dari pendidikan itu pula yang tidak kalah penting. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni: berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, dan mengusai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai.

Kerpibadian Islam merupakan gabungan dari pola pikir dan pola sikap islami. Keduanya merupakan konsekuensi logis yang harus dimiliki oleh setiap individu  muslim. Apalagi dalam kaitannya dengan dunia pendidikan. Maka pembentukan kepribadian Islam sangat menunjang dari segi karakter individu yang dihasilkan.

Aplikasi dari pola pikir islami adalah tatkala individu menghasilkan sebuah keputusan berdasarkan timbangan atau kaidah-kaidah Islam (halal-haram). Sedangkan aplikasi pola sikap islami adalah tatkala akalnya sudah mengetahui akan halal-haramnya suatu perbuatan, maka semua perbuatannya mengikuti hukum-hukum yang sudah ditetapkan. Tidak ada pilihan lain bagi dirinya kecuali mengikuti hukum-hukum yang berlaku. Ketika antara pola pikir dan pola sikap tersinergi secara alami, maka dipastikan individu yang dihasilkan akan menjadi individu yang berkarakter.

Selanjutnya adalah menguasai tsaqofah Islam. Tsaqofah Islam bisa disederhanakan menjadi ilmu-ilmu tentang keislaman seperti: fikih, hadist, al-Quran, dsb. Kenapa semua itu musti dipelajari? Karena selain dari konsekuensi keimanan, ilmu-ilmu tersebutlah yang akan diterapkan di setiap lini kehidupan. Sehingga apa yang dipelajari sesuai dengan realitas di lingkungannya.

Terakhir yakni mengusai ilmu kehidupan atau sains dan teknologi. Di dalam sumber-sumber hukum Islam memang tidak semua ilmu dijelaskan secara spesifik. Contohnya adalah ilmu kehidupan atau sains dan teknologi. Maka dari itu untuk menghasilkan lulusan yang baik adalah tatkala ia sudah berkarakter, ia pun menguasai sains dan teknologi.

Ketiga hal ini yakni kepribadian Islam, tsaqofah Islam, dan sains dan teknologi harus terintegral satu sama lain. Tidak boleh terpisah antara satu dengan yang lain. Karena ketiga hal itu merupukan tujuan dari terlaksananya pendidikan Islam. Yang menjadi masalah adalah tatkala sains dan teknologi saja yang difokuskan sedangkan yang lainnya tidak. Maka yang terjadi adalah ia pintar namun tidak memiliki akhlak yang baik.

Permasalahan pendidikan saat ini adalah kurangnya lulusan yang berkarakter. Namun seringkali lulusan yang berkarakter sendiri tidak pernah didefinisikan lebih jelas dan spesifik. Karakter seperti apa yang hendak dibangun? Maka dengan adanya pendidikan Islam yang sudah dipaparkan di muka, menjadi sebuah solusi alternatif dari kebuntuan akan solusi untuk menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Bukan hanya penguasaan sains dan teknologi saja, melainkan juga memiliki karakter kuat sehingga menjadi pribadi-pribadi yang unggul.

Oleh: Hilman Nawawy
Seorang Creative Director. Pernah berkarya dalam dunia sinema bersama Wesal TV.
Aktif menjadi Content Creator di kanal Youtube.

Foto: New York Times