FABANA.id. Belum lama ini, tepatnya usai upacara Dirgahayu Republik ke 72 Indonesia di Universitas Bung Karno, Petinggi Partai Gerinda Prabowo Subianto menyinggung soal gaji wartawan yang menurutnya, gaji watawan itu kecil.

“Ya kami bela kalian juga para wartawan, gaji kalian juga kecil kan. Saya tahu karena kelihatan dari muka kalian. Muka kalian itu enggak bisa belanja di mal, betulkan? Jujur?” kata Prabowo sambil tertawa saat ditanya arti kemerdekaan oleh awak media.

Berbagai respon hadir dari kalangan, khususnya dari wartawan. Sebagian biasa saja, sebagian kurang terima. Apapun itu responnya, sejarah mencatat, Wartawan adalah profesi yang digeluti oleh para tokoh bangsa, guru bangsa dan pahlawan di negeri ini.

Saking pentingnya wartawan, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, sang guru bangsa pernah berujar kepada para murid-muridnya. “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”

Berikut deretan guru bangsa dan pahlawan negeri ini yang berprofesi sebagai wartawan:

1. Ki Hadjar Dewantara.

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh pendidikan berpengaruh bagi Indonesia. Lewat ‘mantra’ Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani, pendiri Taman Siswa ini menjadi guru bangsa yang karya-karyanya sangat relevan dengan barbagai zaman.

Namun, sebelum mendirikan taman siswa, Ki Hajar Dewantara mengawali karirnya sebagai penulis dan wartawan. Nama-nama surat kabar seperti De Expres, Oetoesan Hindai, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Midden Java dan Sediotomo menjadi tempatnya berkarya.

2. H. Agus Salim

Namanya dicatat sebagai Bapak Kepanduan Indonesia. Saat itu, pada era perjuangan kemerdekaan, pemerintah kolonial Belanda melarang organisasi kepanduan Indonesia memakai istilah padvinders dan padvinderij untuk gerakan kepanduan.

Kemudian, dalam kongres kepanduan Sarekat Islam I (2-5 Februari 1928) di Banjarnegara, Jawa tengah, Haji Agus Salim mengusulkan, kata padvinders diganti dengan “pandu” (penunjuk jalan) dan padvinderij diganti “kepanduan”. Istilah ini terus dipakai hingga didirikannya Gerakan Pramuka Indonesia tahun 1961.

Namun, tahukan Anda? Salah satu tokoh perumus Piagam Jakarta yang kemudian melahirkan Pancasila itu, sebelumnya adalah seorang wartawan. Kiprahnya dalam dunia media, membawa namanya menjadi Redaktur di Harian Neratja pada tahun 1951.

Beliau juga menjabat sebagai Pemimpin di Harian Hindia Baroe dan kemudian tak lama setelah itu, Agus Salim mendirikan Surat Kabar Fadjar Asia dan kemudian menjadi Redaktur Harian Moestika.

3. Danudirja Setiabudi

Cukup asing ya namanya? Kalau Ernest Douwes Dekker pasti cukup akrab bagi Anda. Ya, beliau adalah salah satu anggota dari  Tiga Serangkai, pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.

Kepiawaiannya menulis mengantarkan Dowes Dekker menjadi seorang wartawan di koran De Locomotief Semarang. Di media tersebut, beliau merintis kemampuan berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakan kolonial.

Begitu juga saat menjadi staf redaksi di Bataviaasch Nieuwsblad, 1907. Tulisan-tulisannya sangat membela kaum pribumi. Tahun 1908, Douwes Dekker menulis dua artikel yang tajam. Seri pertama dimuat di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant Februari 1908. Setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman Das Freie Wort, “Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie” (“Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda”) kemudian dimuat kembali di Bataviaasche Nieuwsblad.

Tujuh bulan kemudian pada akhir Agustus, seri tulisan berikutnya muncul di surat kabar yang sama, “Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen?” (“Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?”, versi Jermannya berjudul “Hollands kolonialer Untergang”). Kembali kebijakan politik etis dikritiknya. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa.

4. Adam Malik

Lahir dari keluarga pedagang kaya di Pematangsiantar, seperti halnya Ki Hajar Dewantara. Sebelum menjadi wakil presiden Ri ke2, karirnya dimulai dari wartawan. Koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo adalah media yang menjadi tempatnya berkarya.

Adam Malik juga tokoh yang ikut merintispendirian Kantor Berita Antara, yang saat itu berkantor di Buiten Tijgerstraat 38 Noord Batavia, sekarang Jl. Pinangsia II Jakarta Utara. Lalu pindah JI. Pos Utara 53 Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Pada Tahun 1941 bersama Djohan Sjahroezah, Adam diutus oleh Soemanang untuk membujuk Sugondo bersedia menjadi Direktur Antara. Setelah itu ditetapkan struktur pengurus Antara yang menempatkan posisi Adam Malik sebagai Redaktur merangkap Wakil Direktur Antara.

Sedangkan posisi Direktur dijabat oleh Soemanang. Saat itu, dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka para perintis Kantor Berita Antara menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional.

5. Mohammad Hatta

Perjuangan Hatta bagi kemerdekaan Republik Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Bahkan untuk urusan pribadinya sendiri rela ia nomer duakan. Sejarah mencatat, bahkan untuk menikahpun, beliau rela menunggu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada bulan Nopember 1945.

Bahkan, ketika ditangkap dan diasingkan di Digul dan Banda Neira oleh Belanda pada 25 Februari 1934. Kecintaannya pada Indonesia ia buktikan lewat tulisan-tulisan yang menggugah lewat berbagai koran-koran di Jakarta. Tulisannya, dikemas dengan tulisan yang tidak terlalu politis, meski membahas pertarungan kekuasaan di Pasifik, tujuannya untuk mendidikan para pembaca.

Dalam masa pengasingan itu, Hatta membawa semua buku-bukunya. Buku-buku itu yang menjadi teman setia Hatta untuk menungkan gagasan dan pikirannya lewat tulisan. “Dengan buku kau boleh memenjarakanku di mana saja, karena dengan buku aku bebas,” kata Hatta.

6. Buya Hamka

Selain novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) juga menulis berbagai tulisan diberbagai media. Termasuk Tafsir Al Azhar yang ditulisnya merupakan buah karya saat beliau berada di penjara.

Keterlibatan Hamka dalam dunia literasi dan jurnalistik saat tinggal di Medan. Saat itu, Hamka pernah menulis laporan perjalanannya ke Mekkah di surat kabar Pelita Andalas, tulisannya diminati banyak orang. Kemudian, pimpinan majalah Seruan Islam, Muhammad Ismail Lubis, juga meminta Hamka untuk menulis di medianya.

Selain menulis untuk surat kabar dan majalah lokal, Hamka juga menulis untuk Suara Muhammadiyah pimpinan Abdul Azis dan Bintang Islam pimpinan Fakhroedin. Saat tinggal di Makassar, Hamka juga meluncurkan majalah Islam Tentera sebanyak empat edisi dan majalah Al-Mahdi sebanyak sembilan edisi.

Bakatnya sebagai penulis ia asah saat bergabung di Koran Pedoman Masyarakat tahun 1935. Sebelumnya, oplah Pedoman Masyarakat 500 eksemplar. Setelah Hamka menjadi Pemimpin Redaksi pada 22 Januari 1936, oplahnya naik sampai 4.000 eksemplar.

Sebagai pemimpin redaksi, Hamka berhubungan dengan sejumlah tokoh pergerakan. Tulisan, media Pedoman Masyarakat merupakan sarana Hamka untuk bersuara dan menyatakan kebenaran.

7. Tirto Adhi Soerjo

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Tirto). Lahir di Blora pada tahun 1880, Tirto menjadi pelopor persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Tirot adalah orang pertama yang memakai surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum.

Beberapa surat kabar yang didirikannya, antara lain: Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Putri Hindia. Dimana Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena memakai bahasa Indonesia dan semua pekerjanya, mulai dari pengasuh, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah orang Indonesia asli.

Beliau berani menulis kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pas zaman itu. Di tahun 1973, pemerintah memberi gelar Tirto sebagai Bapak Pers Nasional dan di tanggal 3 November 2006 sebagai Pahlawan Nasional.