Wejangannya akan selalu tertanam dan menjadi penyegar hati ini.

Hati tiba-tiba bergetar mendengar nasihat ustaz Gontor satu ini Dr Dihyatun Masqon. Wajahnya menampakkan semangat. “Erdy kamu kelas berapa?” tanya beliau memegang pundak saya sambil berjalan.

Ketika itu saya menempuh pendidikan di kelas VI Kulliyyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Gontor tahun 2002. “Kamu harus menjadi teladan bagi adik-adikmu. Ajarkan mereka bagaimana berbahasa Inggris dan Arab yang baik, karena keduanya akan menjadi bekal masa depan,” kata dia. Saya menganggukkan kepala, tanda menerima wejangan tersebut.

Setelah selesai menempuh pendidikan di KMI, kami masih bertemu di Insitut Studi Islam Darussalam (ISID/sekarang menjadi Universitas Darussalam/Unida). Di sini beliau banyak memberikan motivasi mengenai tantangan kehidupan.

Globalisasi tak dapat dibendung. Arus informasi, budaya, dan berbagai komoditas asing akan masuk. “Kalian, mau atau tidak, harus siap menghadapi itu semua,” kata dia yang ketika itu mengenakan jas, sambil menggerakkan tangan kanan.

Globalisasi mengharuskan semua orang untuk selalu belajar dari buku, pengalaman, dan tokoh-tokoh. Siapa pun tak boleh diam. “Ingatlah selalu nasihat Iqbal, on this road halt is out of lace. Static condition means death. Those who moved have gone ahead. Those who terried even a while will be crushed,” pesan dia.

Ketika bertemu siapa pun beliau tak lupa memberikan motivasi agar kelak anak didiknya menjadi insan bermanfaat. Setelah itu beliau akan berbicara tentang berbagai persoalan dengan penuh keakraban. Ketika bertemu siapa pun beliau selalu menunjukkan senyum, membuat yang ditemuinya bersemangat.

Ustaz Dihyatun merupakan kebanggaan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dia menempuh pendidikan tinggi di sejumlah universitas luar negeri: Internatonal Islamic University Pakistan, al-Azhar Mesir, dan Aligarh Muslim University. Dia fasih berbicara dan menulis Arab, Inggris, India, dan sejumlah bahasa asing lainnya.

Keilmuan dan ketawadhuannya membuat santri dan siapa pun yang mengenalnya menjadi segan. Bagi sesepuh dan petinggi Pondok, dia adalah inspirasi, sehingga (alm) KH Imam Subakir Ahmad menikahkan Dr Dihyatun dengan putrinya Roshda Diana.

Dua orang ini menjalani kehidupan penuh cinta dan kemesraan. Ustazah Dian, begitu santri biasa memanggilnya, menemani sang kekasih yang terbaring di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, hingga tutup usia hari ini.

Sedih hati ini. Begitu cepat dia meninggalkan kefanaan dunia. Padahal hati gersang ini masih sangat membutuhkan wejangan dan nasihat Dr Dihyatun penggugah semangat. Tak jarang saya dan teman-teman mengingat dan mengagumi beliau dalam berbagai pembicaraan.

Allah sangat menyayangi Dr Dihyatun. Sang Pencipta ingin agar beliau segera berada di dekat-Nya, menyebut asma-Nya setiap saat. Semoga engkau masih tetap menasihati dan mendoakan santri dan alumni Gontor. Kita akan bertemu di Barzakh.

Selama di dunia, jasad memang telah tiada, tapi wejangannya akan selalu tertanam dan menjadi penyegar hati ini. Selamat jalan Ustaz Dihyatun….Selamat jalan.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati; bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (al-Baqarah:154).

 

Oleh: Erdy Nasrul (Jurnalis Republika untuk Masalah-Masalah Keislaman/Redaktur Islam Digest). Tulisan dimuat di Republika.co.id.

Foto: Gontor TV