Imam Turmudi

Imam Turmudi dan Keluarga

Sosok yang satu ini selalu ceria. Saat kru Fabana.id mewawancarainya via telepon, terasa semangatnya yang meletup-letup di seberang sana. Panjang lebar ia bercerita perjalanan hidupnya sejak merantau ke Ponorogo, terbang ke Mesir hingga menetap di Yogyakarta sejak 2014.

“Sekarang saya sedang menyelesaikan magister Ekonomi Islam di Universitas Gajah Mada program studi Ekonomi Islam. Tesis saya meneliti tentang manajemen wakaf,” tutur ayah dari satu putera ini.

Ia lahir 24 Oktober 1987 dari keluarga pendidik yang sederhana di Ciamis, Jawa Barat. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas di Pondok Pesantren Darussalam Gontor tahun 2006, Imam melanjutkan kuliah di almamater yang sama. Saat itulah terbersit keinginan untuk kuliah di salah satu universitas tertua dunia, Al Azhar di Kairo, Mesir.

“Bagi saya hal ini (kuliah di Mesir, red) terasa hampir mustahil. Kuliah di Ponorogo saja nilai saya jeblok tidak karuan. Bahkan dosen saya bilang bahwa nilai saya dipakai buat beli gorengan pun gak laku,” kenangnya sambil terkekeh. “Tapi saya tetap bersikukuh ingin kuliah ke luar negeri,” tambahnya.

Merasa tidak sepintar rekan yang lain, Imam pun belajar keras hingga jungkir balik. Di masa-masa persiapan, ia membaca buku sebanyak-banyaknya, memperlancar bahasa Arab hingga menghafal beberapa juz Al Qur’an.

Imam pun lulus tes awal yang diadakan Kementerian Agama RI bersama Kedutaan Besar Mesir di Indonesia. Tes awal ini memungkinkan ia berangkat dengan biaya sendiri. Untuk diketahui bahwa agar mendapat beasiswa penuh di Al Azhar, calon mahasiswa harus mengikuti beberapa tahap tes. Sedangkan yang lolos tes awal bisa berangkat dengan akomodasi mandiri.

Dengan bantuan berbagai pihak, termasuk orang tuanya, Imam pun sampai di Mesir akhir 2007. “Saya diterima di fakultas Ushuluddin (Islamic Theology, red),” tutur Imam. “Setahun kemudian saya pindah ke fakultas Syariah dan Hukum karena tertarik dengan Ekonomi Islam.”

Pada awalnya Imam merasa kesulitan, tapi ia berpegang pada wasiat Kyai untuk berusaha sekuat tenaga, dengan izin Allah semua halangan akan teratasi. Seperti kata pepatah Arab, Man Jadda Wajada. Siapa bersungguh-sungguh akan mendapat hasilnya.

“Konsekuensi pindah fakultas adalah mengulang studi setahun lagi. Berat memang tapi pesan Kyai sewaktu pesantren selalu jadi motivasi saya,” ujar Imam.

Sempat Jadi Sopir

Demi menunjang kehidupan di negara orang, Imam melakukan berbagai pekerjaan sampingan. Berbagai profesi ia jalani dari agen pulsa, pelayan restoran hingga sopir pribadi. Ia juga aktif sebagai penyiar Qommunity Radio, radio internasional berbasa Indonesia berbasis internet.

“Tujuan saya bekerja adalah agar tidak membebani orang tua. Kebetulan waktunya juga pas di sela jam kuliah dan yang penting halal. Alhamdulillah setelah setahun saya juga mendapat bantuan beasiswa dari lembaga sosial setempat,” tuturnya.

Setelah menggondol gelar sarjana, Imam kembali ke kampung halaman di Lakbok, Ciamis.  Imam pun membantu pengelolaan yayasan pendidikan Al Amin yang dirintis ayahnya, H. Lilik Muhammad Amin. Imam juga mendirikan kursus bahasa Arab dan Turki di kota tersebut.

“Pengalaman di Pondok sebagai staf Penggerak Bahasa semasa jadi santri rupanya sangat membantu. Saya jadi mengerti teori pembelajaran bahasa asing yang efektif.” kata Imam.

Sembari aktif di medan pendidikan, realita di lingkungannya membuat Imam prihatin. Ia memperhatikan banyak masyarakat sekitar dengan ekonomi lemah terjerat dalam kubangan kemiskinan. Kondisi ini berdampak negatif dalam kehidupan sosial. Berbagai kejahatan pun dapat muncul akibat kesejahteraan penduduk yang timpang. Bagi Imam, kenyataan ini sungguh menyedihkan.

Hal inilah yang membuatnya ingin melanjutkan kuliah mendalami ekonomi Islam. Sebab ia meyakini bahwa Islam punya teori ekonomi yang komprehensif dan bisa memberdayakan umatnya seusai yang digariskan dalam kitab Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Jika umat sejahtera, maka otomatis Indonesia pun akan maju dan sejajar dengan bangsa lain.

Salah satu instrumen pemberdayaan taraf hidup masyarakat adalah wakaf. Sayangnya dewasa ini wakaf belum berfungsi sepenuhnya. Padahal wakaf dapat bersifat produktif dan menghasilkan.

Misinya setelah lulus S2 jelas; kembali ke Ciamis karena sudah banyak PR menanti. Selain mengurus sekolah Al Amin, ia bercita-cita membangun sebuah lembaga keuangan syariah. “Bentuk lembaganya kemungkinan adalah Baitul Mal wat Tamwil (BMT) agar dapat menyentuh masyarakat sekitar. Alhamdulillah juga kami sudah punya lahan wakaf seluas 14 hektar yang siap dimanfaatkan,” tukasnya. (my)