Sebagai salah satu pesepakbola elit dunia, pencapaian karir Juan Mata terbilang hebat. Gelandang kelahiran 28 April 1988 ini bermain di beberapa klub besar Eropa dan berhasil mendapat sederet gelar baik untuk klub maupun negaranya. Gelar paling prestisius dalam lemari trofinya tentu saja Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 bersama negeri Matador. Selain itu ia juga mengoleksi medali juara Liga Champions Eropa (bersama Chelsea) dan Liga Europa (Manchester United).

Sisi lain pria yang hanya bertinggi badan 170 cm ini (termasuk pendek untuk ukuran Eropa) adalah keberhasilannya menggondol gelar akademik dalam dua bidang sekaligus yaitu Sport Science dan Pemasaran. Kedua gelar sarjana tersebut diraihnya sembari aktif bermain sepakbola. Mata juga rajin menulis di blog pribandinya juanmata8.com. Biasanya ia menulis minimal seminggu sekali mengenai hasil pertandingan bersama klubnya atau hal-hal lain yang menarik. Situs ini terbit dapat dikunjungi dalam dua bahasa yakni Inggris dan Spanyol.

Di tanah air pun ada beberapa pemain sepakbola nasional yang gemar menulis. Tidak sekadar menulis status di media sosial, tetapi menuangkan pikirannya dalam artikel berupa esai di blog pribadinya layaknya Juan Mata. Menulis sebuah artikel atau esai sedikit lebih rumit daripada tulisan singkat di medsos. Setidaknya sang penulis harus memiliki cara berpikir yang runut dan logis serta dapat menerjemahkannya dalam susunan kalimat yang sesuai dengan struktur bahasa yang baik dan benar.

Ivan Lanin, pakar internet yang tak kenal lelah mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia mengatakan bahwa bertutur dengan bahasa secara baik dan benar melatih seseorang untuk berpikir runut dan teratur. Baik dalam menyiapkan konsep maupun saat menuangkannya dalam tulisan atau bicara. Kemampuan berbahasa tidak serta muncul begitu saja, tetapi lahir dari kebiasaan yang terus dilakukan berulang-ulang hingga menancap di dalam alam bawah sadar (subconscious mind). Ary Ginanjar Agustian menyebutkan sesuatu yang tertanam dalam alam subconscious akan terjadi secara otomatis dalam perilaku dan perbuatan seseorang.

Bambang Pamungkas  sampai saat ini bisa dibilang legenda hidup sepakbola Indonesia. Pemain yang akrab disapa Bepe ini merupakan pemegang rekor gol terbanyak untuk tim nasional Indonesia dengan 37 gol dari 85 penampilan. Sayangnya catatan ini tidak mungkin bertambah lagi karena Bepe sudah memutuskan pensiun dari timnas lepas gelaran Piala AFF 2012 silam.

Memang seiring bertambahnya usia, Bepe tidak lagi bermain reguler di klub Persija Jakarta. Kondisi fisik seorang pria 38 tahun nyatanya tak sekuat saat masa jayanya dahulu. Namun perlu diingat bahwa pada era puncak performanya dulu, Bepe terkenal sebagai penyerang haus gol. Senjata andalannya adalah sundulan maut dan lompatannya yang tinggi, walau badannya tidak tinggi-tinggi amat.

Walau hanya menjadi penghangat bangku cadangan belakangan ini, tetap saja jiwa kepemimpinan Bepe di lapangan masih dibutuhkan timnya. Dia menjabat sebagai deputi dari kapten utama Ismed Sofyan, sesama pemain senior di tim Macan Kemayoran. Sebagai seorang pemimpin dalam tim, Bepe dikenal mempunyai kedewasaan, kemampuan komunikasi yang baik di dalam serta luar lapangan.

Kemampuan komunikasi Bepe, selain handal berbicara di depan orang banyak (public speaking) ia juga mahir mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Sejak tahun 2007 ia sudah rajin menulis di blog pribadinya bambangpamungkas20.com. Banyak hal yang Bepe tuangkan dalam tulisan seperti pandangannya tentang sepakbola nasional, tinjauan pertandingan, kejadian menarik sehari-hari hingga kuliner.

Kumpulan tulisan tersebut ditambah dengan beberapa tulisan lain telah diterbitkan sebanyak dua kali yaitu: Ketika Jemariku Menari (terbit 2011) dan Pride (2014).

Rekan setim Bepe yang punya hasrat menulis serupa adalah Andritany Ardhiyasa adalah, penjaga gawang andalan Persija dan Timnas Indonesia. Si Bagol—panggilan akrabnya—menulis di andritany26.blogspot.co.id tentang berbagai hal, kebanyakan juga mengenai sepakbola. Hanyasaja frekuensi bagol menerbitkan tulisannya di blog tidak sesering Bepe atau Juan Mata.

Andritany dan Kurnia Meiga

Andritany dan Kurnia Meiga.
Foto: Striker.id

Publikasi terbaru Andritany salah satunya adalah tentang kerinduannya akan sosok Kurnia Meiga, sahabat akrab sekaligus rivalnya memperebutkan posisi nomor satu di bawah mistar gawang timnas Garuda. Meiga beberapa bulan belakangan harus menepi dari arena karena menderita penyakit yang misterius.

Andritany dan Meiga usianya tidak beda jauh. Keduanya semasa belajar di Sekolah Olahraga Ragunan, Jakarta merupakan sohib karib, bahkan tinggal sekamar. Berposisi sama selaku penjaga gawang, membuat para pelatih timnas harus menanggung dilema berat karena harus memilih di antara keduanya. Meiga punya kelebihan reflek dan antisipasi sempurna dengan postur tinggi ideal. Sedangkan Bagol bertubuh lebih pendek dan gempal dengan kemampuan mirip Meiga, tapi punya nilai plus ketenangan menghadapi tekanan serta kharisma sebagai pemimpin. Ban kapten Persija pasti melilit di lengannya saat Ismed dan Bepe berhalangan tampil. Andritany juga punya kemampuan olah bola yang baik dengan kakinya, tidak kalah dengan pemain outfield selain kiper. Beberapa kali kemampuan gocekan dan umpannya membantu timnya keluar dari tekanan (pressing) pemain lawan.

Epilog

Cara bertutur (story telling) Bepe dan Andritany di blognya terbilang bagus dan mengalir. Mereka berupaya membeberkan apa yang ada di pikiran mereka secara teratur. Maka tak heran tulisan mereka rata-rata cukup panjang.  Sedangkan setiap terbitan Juan Mata relatif lebih singkat. Nilai plus Mata adalah konsistensinya menerbitkan tulisan setiap minggu, tiap hari Senin, hampir tidak pernah absen sejak ia membela Manchester United.

Manusia sebagai makhluk sempurna dibekali berbagai kecerdasan. Howard Earl Gardner saat mengemukakan Teori Kecerdasan Ganda (multiple intelligences) mengelompokkan kecerdasan tersebut menjadi 9 macam; visual spasial, naturalis, musikal, interpersonal, kinestetik jasmani, intrapersonal, linguistik, logika matematika dan eksistensial . Semua jenis intelegensia itu ada dalam diri manusia, hanya saja kecerdasan yang menonjol dalam setiap manusia berbeda-beda tergantung bawaan genetis, pendidikan serta pengaruh lingkungan.

Seorang olahragawan seperti Mata, : Bepe dan Bagol memang menonjol kecerdasan kinetis jasmaninya. Tetapi olahraga juga memerlukan kecerdasan lain contohnya logika, visual, interpersonal dan liguistik untuk  bisa menerjemahkan taktik dan menanggapi kondisi pertandingan yang selalu berubah-ubah.

Dalam kehidupan, tidak adil misalnya kita terlalu mengagung-agungkan nilai di ijazah saja. Memang nilai akademis penting, tetapi jangan sampai kita seperti memakai kacamata kuda, mengindahkan kecerdasan-kecerdasan lainnya yang penting untuk mengarungi hidup.

Karena pintar di sekolah belum berarti pintar menjalani hidup.

Wess…

Foto utama: juanmata8.com