Pagi ini, ketika sang khotib berkata, “Dengan adanya Hari Raya Idul Adha ini, maka esensinya adalah menyembelih sifat kebinatangan dalam diri kita” Saya hanya manggut-manggut. Sebagai jamaah, saya tentu tak layak untuk memprotes khutbah tersebut. Akan tetapi, saya juga tidak bisa menerima sepenuh hati pernyataan itu. Bagaimana mungkin, sifat kebinatangan selalu dimaknai sebagai sebuah keburukan. Padahal, anjing adalah hewan setia. Ia tidak mengkhianati majikannya. Justru kucing yang sering kali dianggap hewan rumahan justru sering mencuri lauk tuannya.

Ketika seekor singa menerkam seekor rusa, apakah singa berubah menjadi sosok yang jahat? Padahal ia tidak bisa dikenai label baik buruk, karena ia sama sekali tidak dibebankan untuk itu. Bukankah hukum rimba merupakan sunnatullah.

Apalagi jika kerbau, sapi, kambing, dan domba, dikorbankan sebagai persembahan untuk Tuhan, apakah lantas mereka justru berlaku layaknya manusia, dimana sifat mereka tidak layak dicontoh oleh manusia sehingga manusia sendiri harus memojokkan mereka. Saya jadi bingung sendiri, manusia yang berbuat kenapa hewan yang disalahkan? Bukankah justru bagus jika manusia sanggup berlaku mencontoh sifat binatang misalnya dalam kesetiaan dan kesejatian menjalankan sunnatullah (hukum rimba)?

Seperti ungkapan, manusia jika perilakunya baik maka akan lebih tinggi derajatnya dari malaikat, tapi jika berperilaku buruk maka derajatnya lebih rendah dari hewan. Malaikat dan hewan tidak diberi pilihan, keduanya adalah makhluk kepastian. Sedangkan manusia adalah makhluk kemungkinan, diberi saham sekian persen untuk dapat memilih. Jadi stressing pointnya bukan tentang akal. Malaikat diberi akal tapi tidak diberi pilihan. Hewan tidak diberi akal dan pilihan, ia diberi insting. Justru titik beratnya apakah diberi pilihan atau tidak. Di hadapan manusia ada pilihan, mau berlaku baik atau buruk. Ada semacam saklar kemungkinan bagi manusia.

Maka manusia selalu bergelut dengan kemungkinan sepanjang hidupnya. Segala perilakunya selalu di antara pilihan-pilihan yang entah disadari atau tidak, bisa menjerumuskan dan menyelamatkannya. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri dapat menaruh dirinya dalam lorong-lorong kemungkinan tersebut. Pilihan selalu tersedia sepanjang ia hidup.

Maka seharusnya manusia tidak memojokkan hewan dengan sifatnya. Manusia sendiri yang harus sanggup menentukan pijakan hidupnya. Hewan hanya berlaku sebagai hewan.

Apalagi jika manusia berlaku keburukan kemudian menyalah-nyalahkan iblis dan setan. Sungguh saya tak sanggup membayangkan ketika di hari kiamat kelak, ketika manusia diadili oleh Sang Maha Hakim, kemudian dengan mudahnya menjawab, “Semua dosa ini gara-gara iblis, Tuhan.” Iblis tentu akan senyum-senyum geli sendiri mendengar pernyataan itu.

Tapi manusia juga tidak kehilangan akal, lantas berseloroh, “Baik, saya mengaku Tuhan, saya yang berbuat, bukan iblis. Tapi itu semua gara-gara dia menggoda saya. Namanya juga manusia, ya kadang-kadang tergoda juga.” Iblis tambah keras ketawanya.

Semakin terpojok, manusia akhirnya berkata begini, “Ya sudah, saya akui ini perbuatan murni saya, Tuhan. Tapi ini juga tidak murni kesalahan saya. Siapa suruh ketika di dunia, saya banyak berbuat buruk kok malah ditambah kenikmatan. Saya kan semakin tidak merasa salah. Coba kalau saya salah, langsung ditegur dengan musibah atau bencana, kan saya jadi tahu kalau perbuatan saya buruk.” Kini manusia berbalik menyalahkan Tuhan. Iblis malah diam. Ia pun tidak punya keberanian sebesar itu, apalagi ini pengadilan akhirat.

Malaikat yang menyaksikan itu bermacam-macam reaksinya. Ada yang menepuk-nepuk jidat. Ada yang geleng-geleng. Ada yang langsung membaca istighfar. Ada yang langsung mengelus dada. Bahkan ada beberapa yang pingsan di tempat.

Manusia jadi kikuk sendiri. Ia mencoba mengingat-ingat, apa perkataannya ada yang salah. Tapi toh sepertinya tidak ada. Tiba-tiba ia punya ide cemerlang. “Interupsi!” Malaikat dan iblis saling mengadu pandang. Cuma makhluk bernama manusia yang berani mengajukan interupsi di tengah-tengah sidang besar seperti ini.

“Mungkin ini juga bukan salah siapa-siapa, tapi salah mereka!” Manusia menunjuk sosok kerbau, sapi, unta, kambing, dan domba. “Coba dulu mereka tidak dijadikan sebagai binatang kurban, tentu tidak akan pernah ada kata-kata menyembelih sifat kebinatangan dalam diri manusia. Sehingga ketika berkurban, saya merasa sudah menghilangkan sisi kebinatangan dalam diri saya. Gara-gara mereka, saya GR bahwa saya sudah bersifat manusia, sudah tidak ada sangkut pautnya dengan segala sifat binatang lagi. Jadi, Tuhan, merekalah yang patut dipersalahkan atas segala keburukan yang saya perbuat.”

Tiba-tiba seekor kerbau menyeruduk manusia sekeras-kerasnya dari belakang hingga terlempar jauh, jauh sekali. Ya, namanya juga binatang. Mbok ya jangan sekali-kali bikin masalah dengan mereka.

Foto: Antara Jatim