Fabana.id – Jakarta. Begitu kami tiba, tukang bangunan berusia setengah baya itu mengelupaskan lapisan cat pada pintu Masjid Jami Angke memakai alat semacam pahat kecil.

“Catnya berlapis-lapis, Mas, ada sekitar 7 lapis cat. Sudah ngabisin tujuh rol amplas juga tuh,” ujarnya saat Fabana menyapa. Terlihat ada bekas lapisan warna hijau, coklat hingga hitam di daun pintu.

Pintu utama masjid adalah salah satu objek perbaikan. Tidak diketahui dengan jelas, apakah pintu kayu ini ada sejak dua setengah abad silam atau atau ada sejak pemugaran di tahun-tahun berikutnya. Yang jelas, sekarang terlihat warna coklat asli dari pintu tersebut.

Ternyata saat kami datang, ada proyek pemugaran Masjid Jami Al Anwar Angke oleh organisasi Lingkar Lingkar Warisan Kota Tua Jakarta (Lingwa). Organiasi nirlaba ini diisi oleh para pemerhati sejarah Jakarta yang peduli akan warisan sejarah di ibukota ini. Pemugaran masjid ini adalah program revitalisasi pertama mereka.

Kondisi masjid memang agak memprihatinkan, meski warga sekitar juga melakukan perbaikan. Beberapa bagian masjid yang terbuat dari kayu terlihat sudah lapuk. Perbaikan ini tidak merubah bentuk aslinya sebagai cagar budaya.

Makam Syekh Liong Tan, Angke. Masjid berusia dua setengah abad.

Jejak Arsitek Tionghoa

Pak Berty Sinaulan, salah satu anggota Lingwa dalam artikelnya di Kompasiana menyebutkan bahwa alasan mereka memugar masjid ini adalah karena keunikan dan nilai sejarahnya. Selain salah satu saksi penyebaran Islam di Batavia, arsitektur masjid ini merupakan perpaduan serasi antara berbagai budaya yaitu Nusantara, Arab dan –yang dominan—Tionghoa. Pelajaran dapat dipetik bahwa di masa lalu keragaman masyarakat bumi pertiwi tidaklah membuat mereka terpecahbelah, tapi bersatu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Tak heran meski berada di gang kecil yang hanya muat sepeda motor dan dikelilingi pemukiman padat, masjid ini tetap memancarkan keunikannya. Lokasi masjid ini terletak di jalan Pangeran Tubagus Angke Gg. Mesjid Angke, Tambora, Kota Jakarta Barat.

Tercatat, masjid ini memiliki beberapa nama di masa lalu; Masjid Kampung Bali, Masjid Angke, Masjid Al Mubarak hingga Al Anwar yang eksis hingga kini.

Interior Masjid Angke

Beberapa sumber menyebut bahwa masjid ini didirikan oleh Nyonya Tan Nio pada 1621 M, seorang Tionghoa muslimah yang mewakafkan hartanya untuk masjid ini. Sedangkan yang merancang bangunannya adalah Syekh Tan Liong yang juga seorang peranakan Cina. Di sebidang tanah itu juga terdapat pemakaman para bangsawan Kerajaan Banten.

“Kakek buyut saya dari dulu menjadi pengurus makam dan masjid ini,” tutur Pak Abyan, salah seorang pengurus masjid yang kami jumpai sedang ikut memugar komplek makam.

Sedangkan keterangan berbeda melalui tulisan berbahasa Arab yang terukir di atas pintu utama bagian dalam menyebut bahwa masjid ini berdiri pada tanggal 26 Syaban 1174 H yang bertepatan dengan 2 April 1761 M. Kemungkinan informasi terakhir ini adalah tanggal pemugarannya.

Kawasan Angke sejak dulu merupakan tempat tinggal berbagai etnis di Batavia. Pernah menjadi pemukiman orang-orang Bali, Banten, Tionghoa dan berbagai kelompok pribumi lainnya.

“Menurut yang dituturkan para pendahulu kami, kampung Angke ini ditakuti Belanda karena para pemberontak berkumpul di sini. Dulu kampung ini berada di luar pinggiran Batavia karena orang Belanda tinggal di dalam kota yang sekarang jadi kawasan Kota Tua. Bagi Belanda sih menyebutnya pemberontak, tapi bagi orang kita mereka adalah pahlawan,” tambahnya.

Salah satu tokoh pejuang yang pernah ada di Angke adalah Pangeran Hamid Al Kadrie dari Kesultanan Pontianak. Beliau diasingkan Belanda di Batavia karena dianggap membahayakan kekuasaan kolonial di Kalimantan Barat. Akan tetapi putra dari Sultan Syarif  Abdurrahman Al Kadrie ini malah membantu perlawanan masyarakat Betawi saat itu. Pangeran yang wafat pada tahun 1854 M ini dimakamkan di bagian timur masjid dan masih sering dikunjungi para peziarah.

Alamat: Jalan Pangeran Tubagus Angke Gg. Mesjid Angke, Tambora, Kota Jakarta Barat.