Siapa sangka, ternyata menulis itu merupakan obat paling mujarab. Bak makanan yang bergizi tinggi, mengharuskan semua orang untuk mengkonsumsinya. Menulis menjadi obat paling terjangkau didapatkan, tak perlu lagi menguras kantong lebih dalam, cukup sediakan waktu dan niat baik secara bersamaan. Masih tidak percaya ? Coba saja buktikan sendiri !!

There’s only one way to learn to write – start writing

FABANA.id Bagi semua orang, karunia sehat yang diberikan oleh-Nya merupakan anugerah tak ternilai. Kesehatan menjadi barang berharga yang wajib dijaga. Sakit menjadi sebuah bencana besar, dan ditakuti banyak orang. Pikiran yang tak sehat menjadikan pintu masuk penyakit, agar tak leluasa meracuni, perlu upaya keras untuk menanggulangi penyebaranya.

Hampir semua penyakit yang banyak diderita oleh sebagian orang bersumber dari pikiran. Karena fungsi sentralnya, otak sebagai motor penggerak pikiran menjadi tumpuan untuk dibentengi dari bahaya virus mematikan. Sebab jika sampai pikiran terjangkit penyakit, maka akan susah sekali menemukan obat penangkalnya. Jikalau ada pasti harga obatnya pun tinggi menjulang.

Kini tak perlu lagi cemas, apalagi takut akan ketidakmampuan membeli obat, karena obat dari berbagai macam penyakit telah ditemukan. Siapa sangka, ternyata menulis itu merupakan obat paling mujarab. Bak makanan yang bergizi tinggi, mengharuskan semua orang untuk mengkonsumsinya. Menulis menjadi obat paling terjangkau didapatkan, tak perlu lagi menguras kantong lebih dalam, cukup sediakan waktu dan niat baik secara bersamaan. Masih tidak percaya ? Coba saja buktikan sendiri !!.

Dalam dunia kesehatan, kegiatan menulis dapat digunakan sebagai alternatif terapi penyembuhan berbagai macam penyakit. Sebut saja penyakit seperti lupa, stress, dan galau. Umumnya penyakit tersebut diderita oleh banyak orang, baik tua ataupun muda. Penyebabnya pun sangat beragam, lama proses penyembuhan-nya juga variatif. Bergantung pada kondisi serta jenis penyakit yang sedang diidapnya.

Sekalipun pergi berobat ke dokter, toh resep obat pemberian-nya terkadang juga seringkali tak memberikan dampak yang signifikan. Sebagaimana diutarakan oleh ahli psikologi Amerika James W. Pennebaker “Menulis tentang hal-hal negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega.” Ini membuktikan bahwa kegiatan menulis mampu membuang energi negatif pada diri dan menggantinya dengan ion-ion positif. Membuat seseorang lebih bergairah dan semangat kembali dalam menjalani rutinitas.

Kegiatan menulis apapun bentuk tulisannya, akan mampu menjadikan pikiran negatif berubah menjadi positif, merubah sakit menjadi sehat, senyampang apapun dilakukan dengan serius dan penuh keyakinan. Saat seseorang melakukan aktivitas menulis, secara tidak langsung dirinya pula mengasah ketenangan serta kesabaran. Maka dari sini kemampuan untuk berpikir jernih, daya tahan ingatan dan kebugaran pikiran akan semakin jauh dari sentuhan penyakit.

Berikut ada beberapa hal yang harus diperhatikan setiap orang agar mampu membuat terapi penyembuhan dengan menulis. Bahwa 1. Menulis merupakan jalan untuk mengkomunikasikan ide/gagasan/cerita penulis kepada pembacanya. 2. Penulis harus mampu menghadirkan tulisan dengan kalimat yang jelas dan dapat dimengerti secara mudah oleh pembacanya. 3. Selalu awali dengan pertanyaan-pertanyaan pada diri, tentang apa yang akan ditulis, 4. Jika sudah ditulis, maka akhiri dengan pertanyaan, apakah ada yang belum ditulis ?. lalu kemudian cobalah untuk dipublikasikan.

Lakukan hal ini setiap hari, untuk awal coba kerjakan selama 3-4 hari tanpa henti. pilih waktu dan tempat khusus untuk menulis, bisa saja saat pagi, siang atau malam. Berikan target waktu sekira 5-10 menit, dalam sehari coba tulis 1-2 halaman tidak lebih, kemudian coba perhatikan apa yang terjadi ?. Niscaya penyakit yang selama ini menghinggap akan dengan sendirinya pergi. Oleh karena itu, mari mulai saat ini menjadikan menulis sebagai kebiasan yang menyehatkan. Untuk membuat diri lebih kuat serta lebih banyak lagi menebar manfaat.

 

Oleh; Charis Hidayat (Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya)