David Lindsay dalam bukunya Scientific Writing menggambarkan bahwa 10 % dari banyaknya akademisi, menikmati kegiatan menulis ilmiah, sedangkan 90% lainya menganggap kegiatan menulis ilmiah hanya pilihan kebutuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya belum banyak akademisi sadar akan pentingnya menulis ilmiah.

“Your problem is not so much how you are going to start, but how you are going to finish.”

FABANA.id. Kesulitan untuk memulai menulis, bukanlah sekedar masalah memikirkan apa yang harus dikatakan dalam bentuk tulisan, tapi ketidakyakinan bagaimana mengatakanya menjadi sebuah tulisan. Menulis ilmiah atau biasa disebut sebagai menulis karya ilmiah memang susah-susah gampang, masih ada beberapa stigma negatif bertebaran terkait hal ini. Bahwa seseorang harus mempelajari dahulu bahasa ilmiah sebelum bisa menulis ilmiah dengan baik, tentunya itu tidak dibenarkan.

Bahwa menulis ilmiah perlu mempelajari sistematika penulisan memang demikian, agar keterkaitan antar tulisan dapat dengan mudah dijelaskan. Ada juga yang mengatakan bahwa penguasan bahasa inggris juga diperlukan, ingatlah bahwa bahasa tulisan, tidak pernah membatasi dirinya dengan sekat kedunian.

Bagi sebagian orang, kegiatan menulis ilmiah masih menjadi hal yang tidak mengasyikkan untuk dikerjakan. Terlebih bagi seorang akademisi, dengan tuntutan tridharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) mengharuskan untuk selalu dekat dengan kegiatan menulis ilmiah. Jika menilisik lebih dalam, diakui kemampuan tiap akademisi dalam menyajikan karya tulis ilmiah masih banyak terlihat kekurangan. Alhasil kegiatan menulis yang seharusnya sudah menjadi kewajiban, tak begitu berbekas hingga tataran menulis sebagai kebutuhan. Menulis ilmiah hanya dijadikan penggugur kewajiban dari setiap tuntutan pekerjaan.

Berbicara menulis ilmiah (scientific writing), tak akan pernah lepas dengan thinking in word (berpikir kata-kata). Ketakutan untuk memilih kata-kata ilmiah, akan selalu terpikirkan bagi penulis yang akan menyajikan karya tulisnya. Sesungguhnya tidak demikian, Bahwa bahasa tulis tidak selalu harus terdapat kata-kata ilmiah didalamnya. Justru bagaimana seorang penulis dapat menyajikan karyanya dengan baik, komunikatif, dan dapat dimengerti oleh pembacanya.

‘If you haven’t written it, you haven’t done it.’ Pepatah tersebut agaknya benar menggambarkan kondisi para akademisi beberapa tahun terakhir ini. Disaat mereka dituntut untuk menghasilkan karya, pun juga dituntut menulisnya, padahal mereka belum tentu tuntas menyelesaikan pekerjaanya.

Esensi menulis ilmiah pada dasarnya adalah ‘The spoken word evaporates but the written word stays on” (kata-kata yang terucap hanya akan menguap saja, tetapi kata-kata yang tertulis akan selalu menyala). Ini menunjukkan bagaimana pentingnya seorang akademisi menulis ilmiah, dikenal oleh karena gagasan dan idenya, serta bersifat sepanjang masa.

David Lindsay dalam bukunya Scientific Writing menggambarkan bahwa 10 % dari banyaknya akademisi, menikmati kegiatan menulis ilmiah, sedangkan 90% lainya menganggap kegiatan menulis ilmiah hanya pilihan kebutuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya belum banyak akademisi sadar akan pentingnya menulis ilmiah.

Bahkan Lindsay juga mengatakan ‘If you write it, but no one reads it, you still haven’t done it.’ (Jika kamu sudah menulisnya, namun tak ada satupun yang membacanya, kamu belum tuntas mengerjakanya), ‘If you write it up and it is read but not understood you still haven’t done it.’ (Jika kamu sudah menulisnya, dan dibaca, tetapi tidak dimengerti, kamu belum tuntas mengerjakanya). Kata-kata tersebut sengaja digunakan oleh Lindsay untuk memberi tahu bahwa menulis ilmiah merupakan pekerjaan peradaban, namun bukan mustahil untuk dilakukan.

Dalam menulis ilmiah, tidak ada keharusan untuk menulis diluar kebiasan menulis yang seringkali dilakukan. Menulis saja mengalir sesuai dengan kebiasaan, setidaknya ada 3 unsur yang dapat mewakili karakter menulis ilmiah yakni Precise (tepat), Clear (Jelas), dan Brief (singkat). Bagaimana cara menulis agar tepat, baik tepat sasaran pembacanya serta tepat topik yang sedang diangkatnya.

Memiliki Kejelasan, mulai dari bahasa serta struktur kalimatnya, tidak berbelit belit, hingga mudah dimengerti pembacanya. Singkat, tidak perlu terlalu banyak jumlah kata-katanya serta to the point. Sebab tujuan utama menulis ilmiah, adalah untuk memiliki sebanyak mungkin orang membacanya, memahaminya, dan dipengaruhi olehnya. Tunggu apalagi mulai sekarang mari menulis, walau hanya satu kata.

Oleh: Charis Hidayat (Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya)