Selalu berusaha mencari kehidupan yang berkah memang selalu membutuhkan perjuangan, nilai-nilai inilah yang terkadang sudah banyak terkikis dari generasi masa kini. Kebanyakan mereka pandai berpangku tangan sembari menengadahkan kepala seolah kuat mengarungi kehidupan.

FABANA.id Dipinggiran jalan tempat biasa saya lalui sekelebat tampak sosok tua renta sedang menjajakan dagangan seblaknya, dengan memikul keranjang berbalut plastik dia coba jajakan daganganya kepada orang yang sedang berlalu lalang. Padahal terik matahari siang itu cukup menyengat, saya tidak bisa bayangkan bagaimana bisa dirinya menahan gempuran panas tanpa ada kain penutup yang menempel pada tubuh rentahnya.

Nurani saya bergerak menghampiri, bermaksud membeli sebungkus daganganya, sontak wajah ceria terpampang jelas pada raut mukanya, mungkin saja saya adalah orang pertama yang membeli dagangan seblaknya. Hanya dengan berbekal selembar uang lima ribu rupiah saya sudah bisa dapatkan sebungkus krupuk seblak buatan sang kakek.

Saya coba bertanya perihal dari mana asalnya, dirinya pun menjawab berasal dari sebuah kota di ujung timur pulau jawa. Sosok tua yang lebih tepatnya dipanggil kakek ini bernama Sutikno. Atau biasa dipanggil di desanya dengan panggilan Mbah No. Ingin rasanya saya membantu kakek tersebut menjajakan daganganya, namun niat baik itu oleh kakek malah tidak diperbolehkan.

Masih terngiang jelas di benak saya waktu itu beliau berpesan “sinau o sing tenan ngger, sok dadi wong bener. “ (belajarlah yang rajin agar jadi orang baik). Bagi saya ucapan tersebut layaknya sebuah petir menyambar di siang hari. Perjumpaan dengan sosok kakek yang bagi saya ibarat bertemu dengan malaikat itu, tampaknya memberikan sebuah suntikan semangat tersendiri. Di saat kondisinya mungkin tidak lebih baik dari kondisi yang sedang saya alami saat ini, dengan senyuman khasnya sang kakek masih berbaik hati memberi saya nasehat. Sembari meminta doa kepada kakek penjual seblak, saya pun berpamitan hendak melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan, saya pacu kendaraan dengan kecepatan sedang. saya coba untuk merefleksi pada kehidupan yang sedang dijalani saat ini, disaat banyak anak muda pergi meninggalkan orang tuanya demi mencari sesuap nasi ataupun demi menuntut ilmu. Terkadang mereka suka untuk tidak memperdulikan keadaan dari orang tuanya. Mungkin saja disaat mereka pergi, orang tua mereka bersusah payah untuk mencari rizki demi keberlangsungan hidup sang anak di kemudian hari.

Seringkali orang tua pandai menyimpan rahasia, sehingga terkadang seorang anak tidak mengetahui bahwa dibalik senyuman orang tua mereka terselip kepedihan dan kesusahan pada dirinya. Kepekaan seorang anak terhadap kesusahan orang tua tampaknya belum begitu banyak teruji. Mungkin saja sang anak sudah memiliki kedudukan atau bahkan sudah memiliki kehidupanya sendiri, namun perlu dicatat bahwa orang tua tetaplah peduli sekalipun anak mereka sudah tak sering menengoknya.

Dalam kesendirian-nya orang tua selalu mendoakan kesuksesan sang anak, tentunya bukan materi yang orang tua inginkan. Mereka hanya ingin selalu berada disisi anaknya, mereka hanya perlu perhatian layaknya perhatian seorang ibu pada sang anak diwaktu kecil.

Perjalanan siang itu begitu lama, sengaja demikian karena memang sedari tadi saya coba untuk merefleksikan diri pada kejadian yang baru saja saya temukan. Semangat sang kakek berjualan krupuk seblak seolah menjadi pemantik sekaligus cambukan bagi semua orang. Bahwa selalu berusaha mencari kehidupan yang berkah memang selalu membutuhkan perjuangan, nilai-nilai inilah yang terkadang sudah banyak terkikis dari generasi masa kini. Kebanyakan mereka pandai berpangku tangan sembari menengadahkan kepala seolah kuat mengarungi kehidupan.

Tiba-tiba saja cuaca panas terik itu berubah menjadi mendung, tak lama kemudian tetes demi tetes air berjatuhan dari awan. Lupa jika saya tak membawa persediaan jas hujan, lantas saya pinggirkan kendaraan ke sebuah bangunan kosong yang berada tepat disamping sebuah kuburan. Tak banyak orang yang berteduh di bangunan tersebut, terlihat hanya ada beberapa motor yang singgah di tempat yang sama.

Sambil menunggu hujan reda, saya coba perhatikan ke sekeliling bangunan. sepertinya bangunan ini lama tak dihuni oleh pemiliknya, hal itu terlihat dari warna dinding yang sudah kecoklatan ditambah lagi kondisi langit-langit yang sudah lapuk dimakan usia.

Saya coba berbicara pada diri, mungkin saja usia bangunan ini sama tuanya dengan sosok sang kakek penjual seblak yang saya temui beberapa waktu yang lalu. Diusianya yang semakin menua, bangunan yang melindungi saya dan beberapa orang dari derasnya curah hujan tetap setia memberi kenyamanan. Bisa saja tiba-tiba bangunan tempat saya berteduh itu, roboh atau mungkin justru bocor disana sini, namun bangunan tersebut tetap berusaha kuat menghadang serbuan air hujan.

Setali tiga uang dengan kondisi bangunan, sebagai kaca perbandingan, kondisi sang kakek penjual seblak pun demikian. Di masa usia senjanya tetap berusaha tegar mengarungi kehidupan dengan berjualan. Pikiran saya semakin menjadi kala itu, seolah saya mendapat sebuah pelajaran hidup maha dahsyat dari perjalanan siang itu. Entah saya juga tidak tahu, mengapa pada hari tersebut, seolah tubuh ini digerakkan untuk mengikuti kelas demi kelas kehidupan yang sudah dipersiapkan.

Lama berteduh dengan pikiran yang menerawang, hujan yang sedari tadi mengguyur akhirnya reda. Coba singsingkan celana agar saat berkendara di jalanan tidak terkena cipratan air, keadaan di jalanan masih basah dan banyak genangan. Saya pun tetap memacu kendaraan dengan perlahan. mencoba mengamati sekeliling, sambil menerka keadaan hidup kemudian.

Saya berpandangan bahwa, sukses di kemudian hari hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menghadapi tantangan dan resiko. Sebaliknya, para pemalas dan orang-orang yang selalu lari dari tantangan, hanya akan menjadi pengecut, suka mengeluh, dan menyalahkan keadaan. Karena terkadang kita akan tahu nilai sesungguhnya dari hal yang sudah kita miliki, saat hal itu sudah tidak lagi kita miliki. Maka mari menulis walau hanya satu kata.

 

Oleh: Charis Hidayat (Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya)