Sejak dini menulis, bukan diartikan harus kembali ke masa kecil. Tetapi rentang waktu yang ada saat ini mari digunakan sebaiknya untuk segera menulis. Bukan perkara baik atau tidak tulisan dihasilkan, berkualitas atau tidak-nya tulisan bergantung pada seberapa lama proses pembiasaan diri menghasilkan tulisan

FABANA.id. Buat apa juga menulis ? mending mengerjakan kegiatan mengasyikkan lainya. Menulis satu kalimat saja cukup menyulitkan, apalagi jika dipaksa menyusun 500 kata. Serasa mustahil untuk diwujudkan, terlebih bagi mereka yang hanya punya keinginan kuat, tapi tak dibarengi dengan aksi nyata. Kecenderungan menyalahkan keadaan, hingga kekosongan ide dan gagasan menjadi lontaran andalan diucapkan. Saat permulaan memang akan kebingungan, wajar saja karena ini memasuki dunia lain yang tak biasanya dilakukan.

Coba perhatikan tulisan-tulisan para penulis, kebanyakan mereka memulainya dari nol. Dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari tak biasa menjadi kebiasaan. Ini menunjukkan, bahwa menulis itu bukan perkara bagamaina agar menjadi penulis, tetapi membiasakan diri untuk menulis itu yang terpenting. Seiring sejalan kebiasaan menulis akan menggiring diri menuju kesempurnaan menjadi sosok penulis hebat.

Sangat disayangkan, tatkala banyak orang menggebu memaksa diri untuk menulis. Ternyata, mereka sendiri juga yang memaksa berhenti, entah karena kesibukan ataupun permasalahan lainya. Susah sekali, tradisi menulis sejak dini seharusnya sudah mulai ditumbuhkan.

Kenapa harus sejak dini ? bukankah kegiatan menulis itu tak pernah punya sekat usia. Banyak juga para penulis cilik bermunculan, Bahkan jumlah karya-nya sangat banyak. Para penulis cilik ini umumnya suka sekali menulis cerita harian, karena sesungguhnya dari situlah gerbang masuk kegemaran menulis dibenamkan. Apakah para penulis cilik itu sebelumnya belajar bagaimana cara menulis yang benar ?. tentu tidak, dengan polos mereka akan menulis terus sesuai masa pertumbuhanya. Anak kecil saja sudah biasa dan jago menulis, apalagi yang dewasa.

Sejak dini menulis, bukan diartikan harus kembali ke masa kecil. Tetapi rentang waktu yang ada saat ini mari digunakan sebaiknya untuk segera menulis. Bukan perkara baik atau tidak tulisan dihasilkan, berkualitas atau tidak-nya tulisan bergantung pada seberapa lama proses pembiasaan diri menghasilkan tulisan. Jangan berharap tulisan akan memiliki kualitas baik, jika proses hanya dilalui beberapa menit atau beberapa jam saja. Perlu proses panjang bisa jadi bulanan, bahkan hingga tahunan. Tulisan itu memiliki arti tersendiri bagi pembacanya, semakin memberi manfaat kepada pembacanya, maka akan semakin banyak orang menyukai tulisan-tulisan karya-nya.

Sejak dini menulis, memerlukan kesiapan mental baja. Sebab ketika seseorang memutuskan untuk menggeluti bidang kepenulisan, sejatinya dirinya akan melawan kemalasan serta tekanan dari berbagai pihak. Di satu sisi menulis itu memiliki unsur kelembutan, bahkan karena kelembutanya saat seseorang membaca tulisanya, tak akan pernah disangka jika air mata tiba-tiba saja menetes.

Disisi lain menulis memiliki unsur kasar, justru karena kasarnya itulah mampu memaksa dan menggerakkan banyak orang melakukan perlawanan. Berjuang menulis sama beratnya seperti berjuang di medan perang, jika di medan pertempuran para pasukan membawa berbagai senjata perang. Berbeda dengan menulis, senjata bawaanya hanyalah goresan kata-kata pemukul mundur para lawan. Sudahi saja kemalasan tidak menulis, karena sejak dini menulis harus mulai disemai lagi. Menulislah walau hanya satu kata.

 

Oleh: Charis Hidayat (Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya)