Selain membantu integrasi teknologi global yang tengah digarap oleh pemerintah. IABIE juga berperan sebagai badan pemikir, badan analis yang berorientasi pada kebijakan pembangunan nasional dan inisiatif kerakyatan.

 

FABANA.id-Jakarta. Bermacam persoalan bangsa, seperti masalah krisis produksi garam nasional hingga kelesuan sektor industri manufakturing merupakan esensi krisis multidimensi yang harus dituntaskan.

Terkait hal tersebut, Bimo Sasongko, Ketua Umum IABIE menjelaskan bahwa sebagai anak intelektual Prof.DR.Ing BJ Habibie, segenap anggota IABIE dituntut memiliki karakter unggul dan inklusif atau merakyat dalam berkarya maupun dalam menggeluti profesinya.

Meraih keunggulan dibidang Iptek dan nilai tambah segala bidang, serta selalu digaris depan depan dalam transformasi teknololgi dan industri. Semua itu merupakan karakter IABIE yang digariskan oleh BJ. Habibie.

“Visi IABIE adalah terdepan dan inklusif memajukan iptek, meningkatkan nilai tambah dan kapasitas inovasi di Tanah Air. Dengan modal alamiah berupa wadah perhimpunan alumni dengan bermacam portofolio kompetensi serta daya kreativitas dan inovasi,” jelas Bimo lewat keterangan resminya yang disampaikan kepada FABANA.id (4/8/2017).

Bimo melanjutkan, untuk mewujudkan kepemimpinan unggul khususnya kepemimpinan dalam domain Iptek dan dunia usaha. IABIE membentuk sinergi yang kuat antar anggota dan sesama anak bangsa.

Terus berjuang bersama meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan nasional di Indonesia. Khususnya strategi transformasi teknologi dan industri dengan wahana yang sesuai dengan semangat jaman.

IABIE memiliki program kerja membantu pemerintah mewujudkan integrasi teknologi global yang kini sedang dibangun oleh Presiden Joko Widodo. Juga berperan sebagai badan pemikir, badan analis yang berorientasi pada kebijakan pembangunan nasional dan inisiatif kerakyatan.

Aktivitas sebagai badan pemikir juga diwujudkan dalam seminar, pendidikan, latihan, dan penjabaran ide yang bersifat strategis untuk pembangunan bangsa.