Sebatas “learning” saja tidak cukup. Tapi juga “unlearning” yaitu mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya. Unlearning akan mengosongkan isi pikiran kita sebersih mungkin sebersih kanvas kosong.

 

FABANA.id. Survive dari disrupsi itu bukanlah semata masalah teknologi digital atau inovasi model bisnis. Yang terpenting justru adalah masalah mindset. Yaitu mindset yang menganggap bahwa kita telah “tahu semuanya”.

Dan celakanya, ketika kita sudah merasa tahu semuanya maka semakin sulit pula kita menanggalkannya. Bahkan ketika kita paham bahwa apa yang kita tahu itu telah obsolet dan tak relevan lagi. Di situlah bencana berawal.

Itu sebabnya disrupsi di industri otomotif bukan dilakukan oleh Ford atau Toyota yang “tahu semuanya” mengenai dunia otomotif, tapi oleh Tesla dan Google. Itu sebabnya disrupsi di dunia perhotelan bukan dilakukan Hilton atau Aston tapi oleh Airbnb. Itu sebabnya disrupsi di layanan taksi bukan dilakukan oleh Blue Bird tapi oleh Uber.

“Tahu semuanya” tentu saja merupakan berkah tak terhingga. Namun, ketika semua yang kita tahu itu sudah tak relevan lagi, sudah obsolet, sudah menjadi barang usang, maka ia justru menjadi racun mematikan. Ya, karena mindset “tahu semuanya” telah membutakan mata, hati, dan pikiran kita mengenai hal baru yang tidak kita ketahui.

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Artinya, kita tak cukup sebatas “learning” tapi juga “unlearning”yaitu mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya. Unlearning akan mengosongkan isi pikiran kita sebersih mungkin sebersih kanvas kosong.

 

Siklus Learn-Unlearn-Relearn
Proses terjadinya disrupsi saya bagi menjadi tiga fase yaitu: “old normal” (kenormalan lama), “disrupted normal” (kenormalan lama yang sudah dirusak secara eksponensial oleh teknologi atau model bisnis baru), dan “new normal” (keseimbangan dan kenormalan baru sebagai hasil dari disrupsi).

Di dalam kondisi old normal yang stabil, inkremental, dan linier maka learning dibutuhkan untuk mencapai ekspertis yang tak tertandingi oleh pesaing manapun. Itu sebabnya di tahun 1990an Peter Senge begitu populer dengan formulanya mengenai “learning organization”.

Namun sejak pertengahan 2000an tiba-tiba goncangan disrupted normal terjadi secara eksponensial, khaotik, dan nonlinier. Paradigma, formula, dan resep sukses lama tiba-tiba hancur-lebur tergantikan oleh hal yang sama sekali baru. Di sinilah saatnya unlearning dimana kita harus menanggalkan paradigma, formula, dan resep sukses lama yang telah obsolet dari otak kita.

Namun unlearning saja tak cukup. Dalam waktu singkat kita juga harus relearning untuk memahami dan menguasai paradigma, formula, dan resep sukses baru di fase new normal.

Di fase new normal banyak pemain inkumben jatuh berguguran, sebaliknya pemain-pemain startup yang fresh bermunculan mengambil alih kepemimpinan industri. Kenapa demikian? Karena pemain inkumben tak cepat unlearning. Mereka terus terkungkung formula kesuksesan lama. Mereka terjebak dalam comfort zone karena terbuai mindset “tahu semuanya”.

Sementara pemain startup lain ceritanya. Bermodal mindset “kanvas kosong” ia begitu cepat memutar siklus learn-unlearn-relearndengan tujuan untuk mewujudkan model bisnis baru yang relevan dengan kondisi new normal.

Jadi kunci sukses startup terletak pada kelincahan (agility) dalam merespons disrupsi. Dan kelincahan ini ditentukan oleh kemampuan mereka yang super cepat dalam memutar siklus learn-unlearn-relearn.

Balita = Unlearned + Curiosity
Untuk memutar siklus learn-unlearn-relearn dengan cepat, setiap pemain (baik inkumben maupun startup) harus memiliki apa yang saya sebut “balita mindset”. Sesuai namanya, sikap mental ini mengacu pada alam pikiran anak di bawah lima tahun.

Mengacu sifat dasar anak balita, ada dua kondisi yang membentuk balita mindset.

Pertama adalah ketidaktahuan (unlearned). Yaitu pola pikir “tak tahu semuanya” dengan menganggap diri kita tak tahu apa-apa mengenai paradigma, formula, dan resep sukses baru yang bakal membentuk new normal. Di sini kita menguras habis isi otak kita hingga kosong-melompong layaknya isi otak anak balita.

Kedua adalah keingintahuan (curiosity). Sebagai konsekuensi dari pola pikir “tak tahu semuanya” maka rasa keingintahuan kita menjadi begitu menyala-nyala. Layaknya balita, keingintahuan yang membara ini mendorong kita untuk terus-menerus mengekplorasi, bereksperimen, dan akhirnya menemukan formula untuk sukses di new normal.

Untuk menjadi agile learner sekaligus fast learner seperti halnya anak balita, kita harus memiliki mindset ketidaktahuan dan keingintahuan. Dengan mindset ketidaktahuan kita akan begitu lincah melahap berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk sukses di new normal. Sementara dengan keingintahuan kita akan super cepat menemukan formula sukses di new normal.

Singkatnya, dengan balita mindset kita akan lebih cepat memutar siklus learn-unlearn-relearn untuk merespons bahaya disrupsi. Dengan balita mindset kita lebih piawai melewati old normal, disrupted normal, dan new normal. Dengan balita mindset kita lebih mumpuni mengelola disrupsi.

Foto: Pixabay.com

Oleh: Yuswohadi  (Pengamat Marketing dan Penulis Produktif)