Pesantren Al-Hikam II  Depok  menjadi tempat peristirahatan terakhir Kiai Hasyim Muzadi setelah tutup usia, hari kamis 16 Maret 2017. Pada penghujung hayatnya, beliau tetap konsisten mengabdi pada umat dan bangsa. Perjalanan panjang hidupnya diisi dengan beragam aktivitas dakwah keumatan dan kebangsaan, hingga beliau bisa disebut sebagai sosok Kiai yang komplit. Saya mengenal Kiai Hasyim tidak secara langsung, tapi melalui tulisan dan dakwahnya di berbagai media. Secara pribadi saya simpatik dengan dakwah beliau karena sejuk, kontekstual dan konsisten dalam membela kebenaran. Memang pantas, kepiawaiannya dalam dakwah dan pemikirannya yang mendalam, diganjar dengan penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa (Dr. HC) dari IAIN Sunan Ampel dalam bidang Ilmu Peradaban Islam pada tahun 2006.

Sampai tiba awal Maret 2017 lalu, sahabat dekat saya, Pak Hasbi Sen Pembina Yayasan Nur Semesta yang berkebangsaan Turki menghubungi dan menyodorkan berbagai tema kepada saya terkait kajian dan kuliah umum yang rencanannya akan diselenggarakan di Pesantren al-Hikam Depok. Yayasan Nur Semesta bergerak dalam menyebarkan pemikiran dakwah ulama Turki era modern Bediuzzaman Said Nursi (1876-1960). Bukanlah suatu kebetulan, saya sendiri menulis disertasi tentang Nursi dengan judul ”Dakwah Komunitarian Ummatic Transnasional, Studi Konsepsi Dakwah Said Nursi dan Penerapannya di Indonesia.”

Yayasan Nur Semesta, Ciputat

Pengajian Risalah Nur di Kantor Yayasan Nur Semesta, Ciputat. Turut hadir Ustadz Husnu Bayram, murid Said Nursi yang masih hidup.

Tawaran untuk mengisi kajian di pesantren Al-Hikam atas kerjasama pesantren dan Yayasan Nur Semesta pun saya terima dengan senang hati, alih-alih bisa silaturahmi secara langsung dengan Kiai Hasyim. Sayangnya silaturahmi yang dimaksud tidak akan pernah tercapai dengan wafatnya beliau sebagai bagian dari misteri umur dalam kehidupan. Hasbi sendiri bertemu Kiai Hasyim dua kali.Melalui penanggung jawab pesantren al-Hikam, ustad Arif yang merupakan menantu Kiai, disepakatilah kajian rutin minggguan untuk menelaah dan mengkaji kitab karangan Said Nursi, Risalah Nur. Pemikiran Nursi dalam  Risalah Nur dianggap sesuai dengan semangat pesantren dan relevan dengan pemikiran-pemikiran Kiai Hasyim, ini mungkin alasan utama, mengapa kajian Risalah Nur mendapatkan tempat. Risalah Nur, memang penting, bahkan tidak jarang Nursi sendiri menyatakan,  ”membaca Risalah Nur, jauh lebih penting dan bermanfaat berbanding bertemu dengan saya, dan saya pun Tullab al-Nur (murid Risalah Nur) yang terus pula membacanya.”

Kembali pada sosok Kiai Hasyim. Pemikiran beliau, antara lain tercermin dan terangkum dalam artikel yang ditulis Mas Abdul Mu’ti sehari setelah beliau meninggal, 17 Maret 2017 yang dimuat dalam salah satu koran harian Nasional. Mas Mu’ti mengistilahkan pemikiran Kiai Hasyim dengan ”mimpi-mimpi,” sebuah istilah yang menunjukkan bahwa antara yang diinginkan dengan yang seharusnya belum sepenuhnya nyambung, dan bahkan masih meningalkan PR bagi umat Islam bersama. Dalam istilah lain, Kiai Hasyim menyebutnya dengan belum konsistensinya dan belum menyambungnya antara ajaran Iman dan tauhid yang dihayati dan diamalkan umat  dengan praktik  operasionalnya, yaitu pada tataran kesalehan sosial.

Magnet tulisan Mas Mu’ti begitu terasa, menginggat artikel tersebut ditulis saat bertakziah di pesantren al-Hikam II Depok. Pemikiran yang diimpikan Kiai Hasyim yang pertama adalah persatuan umat, yang Kiai sebut dengan istilah al-ukhuwwah bainal muslimin, dengan mengutip piagam Madinah saat disampaikannya pada acara Maulid Nabi 2015 di Istana Negara. Mimpi tersebut mendasari semangat dakwahnya yang dikenal santun, sederhana, moderat dan sejuk. Selanjutnya adalah mimpi membangun generasi Muslim yang kuat. Mimpi Kiai Hasyim yang terakhir adalah menjadikan Indonesia sebagai model Islam yang penuh kasih sayang, rahmatan lil’alamin, demikian ulas Mas Mu’ti.

Kiai Hasyim menyatakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan kebudayaan, bukan melalui jalur politik. Itulah yang menjadikan Islam di Indonesia ”awet” berbanding Islam yang pernah masuk ke Andalusia melalui peperangan. Pada saat Muslim kalah setelah berkuasa di Andalusia, Muslimpun dibumihanguskan. Pendekatan budaya, atau biasa dikenal dengan istilah dakwah kultural merupakan media efektif dalam membangun Islam yang berkemajuan ke depan.

Abdul Munir Mulkhan (2010) menyebut dakwah kultural merupakan proses penyadaran batin, rasionalisasi dan pragmatisasi. Lebih lanjut Mulkhan menyatakan, ”rasionalisasi ialah pengembangan tradisi sehingga berfungsi bagi pemecahan persoalan kehidupan kongkret. Pragmatisasi ialah fungsionalisasi tradisi dan institusi bagi pemecahan berbagai persoalan kehidupan sosial (pendidikan), ekonomi budaya dan politik umat secara pragmatis.” Dakwah model ini, dikembangkan Muhammadiyah dan NU sejak berdirinya, jauh sebelum bangsa kita merdeka. Kontribusi dua ormas tersebut tentulah besar dalam membangun umat dan menjaga NKRI. Pertanyaannya kemudian sudahkah bangsa yang kita cintai ini menjadi bangsa yang maju, bangsa yang sejahtera, bangsa yang bahagia? Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk dialamatkan ke siapapun atau institusi manapun, hanya sebagai perenungan bersama. Jawaban atas pertanyaan tersebut pun kita sudah mafhum bersama, kita masih tertinggal. Namun demikian, umat Islam hendaklah tetap optimis dan mampu bangkit, ”bahwa masa depan adalah milik Islam, karena Islam adalah agama yang mendorong pemeluknya untuk maju secara material dan juga spiritual,” demikian pernah disampaikan Said Nursi.

Empat Tahapan Dakwah

A.F. Bakti (2010), Guru Besar Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyebutkan bahwa ada empat tahapan dakwah untuk mencapai keberhasilannya, yaitu: tabliigh, taghyiir, takwiin al-ummah dan khairiyyah al-ummah. Tabliigh adalah menyampaikan ajaran Islam yang targetnya adalah pemahaman. Tabliigh menurut Mowlana (2007), harus memainkan peranan penting bagi kehidupan sosial. Ia pada tingkat individu dan sosial menjadi bersifat mendasar bagi berfungsinya ummah, karena hal itu menopang dan mendorong hubungan yang integral dan selaras antara Tuhan, individu dan masyarakat. Pada tahap ini, Kiai Hasyim sudah berusaha melakukan tabliigh sepanjang hidupnya, sesuai kapasitasnya. Kiai Hasyim ingin agar ajaran Islam dipedomani secara operasional, tidak sebatas ajaran-ajaran yang melangit.

Pada tahapan taghyiir, dakwah yang baik adalah yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini umat perlu memacu diri, berpartisipasi aktif memaknai pesan dan ajaran agama. Partisipasi aktif dalam konteks komunikasi relevan dengan teori Resepsi Aktif (Active Reception) dalam model Uses and Gratification. Menurut teori ini penerima pesan dalam kondisi aktif memaknai dan mengelola pesan yang diterima.   Model penerimaan pesan aktif sejalan dengan konsep tabliigh yang menyatakan bahwa sender (da’i) hanya sebagai penyampai pesan saja, bukan penentu hasil komunikasi (dakwah). Semangat taghyiir relevan dengan Q.S. Al-Ra’d: 11, ”sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Perubahan yang bersandar pada kesadaran diri (self buttom-up) diharapkan mampu mendapatkan perubahan yang positif yang tidak hanya berujung pada kepuasan, namun juga kebahagiaan. Dengan kata lain, taghyiir bukan hanya bersifat materi namun juga imateri. Materi tersebut dapat berupa ilmu pengetahuan, teknologi pembangunan dan ekonomi, sedangkan yang imateri adalah kepuasan, kebahagian dan spiritualitas. Sayangnya, tidak jarang pembangunan dan pembinaan menuju perubahan yang sejatinya berdampak positif, namun sebaliknya berdampak negatif serta melahirkan manusia-manusia serakah, sombong dan lalai. Dalam istilah Kiai Hasyim Indonesia tidak kekurangan orang pinter, namun minim orang benar. Walaupun terkesan candaan, namun ungkapan tersebut syarat dengan pesan moral. Pembangunan fisik penting, namun pembangunan non fisik, seperti pendidikan, mental dan spiritual juga sangat penting. Itulah pentingnya tahapan dakwah selanjutnya, takwiin al-ummah.

Pada tahapan ketiga, takwiin al-ummah, adalah spirit membangun umat dari berbagai aspeknya.  Konsep takwiin al-ummah selaras dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan usaha merealisasikan kebaikan dan usaha menjauhi kemungkaran dan kebatilan. Prinsip ini menurut Hamid Mowlana (1996) merupakan penegasan tentang tanggung jawab individual dan kelompok dalam menyiapkan generasi penerus untuk menerima ajaran-ajaran Islam dan mengambil manfaat darinya. Tanggung jawab dan bimbingan tersebut juga terkait dengan individu dan lembaga-lembaga dalam penyiaran dakwah Islam. Dalam tahapan takwiin al-ummah ini, Muhammadiyah memiliki peran yang strategis lewat amal usaha pendidikannya dengan terus berusaha meningkatkan kualitasnya di tengah persaingan global. Aspek strategis pendidikan moral dan mental melalui AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) perlu mendapat porsi lebih dengan kurikulum yang terukur dan guru serta dosen yang berkualitas.

Dalam tahapan dakwah ketiga ini, Kiai Hasyim juga berusaha mendedikasikan diri dengan mendirikan pesantren Al-Hikam I di kota Malang dan Al-Hikam II di Depok, yang spiritnya adalah membentuk generasi Muslim yang kuat, baik aspek material maupun spiritual. Dalam konteks dakwah Nur–istilah yang digunakan untuk murid-murid Said Nursi yang menyebarkan pemikirannya–takwiin al-ummah  dapat membentuk kepribadian kolektif atau jamaah (syakhsh Ma’nawii) yang berorientasikan pada kemajuan material yang keduniaan dan spiritual yang keakhiratan. ”Masa ini adalah zamannya berjamaah, bukan zamannya fardiyah,” ungkap Nursi. Said Nursi menghendaki keterbukaan komunitas (global communitarianism), bukan komunitas yang terjebak pada fanatisme buta (sectarian  communitarianism).

Pada tahapan terakhir dakwah, khariyyah al-ummah adalah upaya dalam mewujudkan umat yang terbaik dengan memedomani etika (akhlak). Dakwah yang dilandasi akhlak akan berdampak pada hasil komunikasi yang baik dan positif. Akhlak mendapat tekanan dan prioritas penting dalam Islam. Ia hadir dalam setiap aktivitas seorang Muslim, baik mulai terbangun hingga saat tidur. Akhlak  merupakan cerminan lahiriah dari iman.

Bangunan komunitas yang kokoh dan kuat dapat berlangsung dengan praktik akhlak yang baik. Hubungan yang harmonis dengan ikatan akhlak tidak hanya berlangsung dengan sesama anggota masyarakat saja, namun diajarkan pula dengan Sang Pencipta. Jika komunikasi hanya berjalan horizontal saja sesama manusia, dan renggang dengan Tuhan, maka seorang Muslim dianggap gagal. Hubungan selaras hendaklah terjalin dengan keduannya. Mimpi Kiai Hasyim tentang persatuan umat adalah merupakan salah satu ”buah” dari akhlak dan iman yang kokoh. Dengan kata lain, penghayatan akan nilai-nilai tauhid, iman, persaudaraan, keikhlasan, dan ikatan-ikatan nilai suci lainnya akan melahirkan sikap yang oleh Bediuzzaman Said Nursi disebut al-fanaa fil ikhwaan (melebur dalam diri diri orang lain). Dalam al-fanaa fil ikhwaan berarti jika suatu komunitas mencapai sesuatu keberhasilan, maka ungkapan yang dikatakan, ini bukanlah karena saya, tapi sebab kita bersama. Seseorang mampu mengalahkan egonya, dan merubah ”Aku” menjadi ”Kita.” Konsep kepribadian kolektif dan lebur dalam diri orang lain akan melahirkan solidaritas keumatan yang kokoh. Dari solidaritas tersebut, meminjam istilah Kiai Hasyim, maka konsep rahmatan lil’alamin akan melampaui rahmatan lilmuslimin.

Solidaritas keumatan yang kokoh, tentulah berpondasikan iman dan tauhid yang kokoh pula. Aspek penguatan iman, sebagai misi utama para Nabi dan Rasul takkan pernah berakhir dan lekang oleh waktu. Inilah pondasi Islam yang berkemajuan. Misi utama Risalah Nur adalah penyelamatan iman umat manusia di tengah terpaan modernitas. Jika bangsa Turki saat ini bisa disebut sebagai negara maju dengan penduduk mayoritas Muslim, maka hal penting yang melandasinya adalah iman masyarakat yang kokoh, hingga melahirkan pemimpin yang efektif. Itulah buah dari iman. Jangan berharap di kampung maling, yang akan terpilih pemimpin yang baik, bak peribahasa, jauh panggang dari api.

Dakwah kultural yang dibangun Kiai Hasyim, adalah usahannya dalam mewujudkan Islam yang penuh harmoni, Islam rahmatan lil’alamin. Ancaman dan tantangan dakwah dalam usaha merealisasikannya adalah perjuangan yang tidak boleh surut. Dalam mimpi-mimpi indah Kiai Hasyim, ada tanggung jawab untuk melanjutkan estafet perjuangannya. Hubungan harmonis NU-Muhammadiyah harapannya dapat membantu mewujudkannya. Kiai Hasyim telah merajutnya, mari bangkit, dari Indonesia kita bangun peradaban dunia. Selamat jalan KH. Hayim Muzadi, di alam barzakh yang penuh kedamaian.

Oleh: Edi Amin

Penulis adalah dosen IAIN Sultan Thaha Saifuddin, Jambi. Gelar doktor diraihnya dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada program studi Dakwah dan Komunikasi. Dapat dihubungi di email: ediamin76@gmail.com)