Berbeda dengan keturunan Ibrahim dari trah Ishaq. Setelah Ishaq, akan banyak nabi yang muncul hingga berakhir pada kenabian Isa. Setelah itu, penutup para nabi adalah Muhammad SAW yang merupakan keturunan Ismail. Apa artinya ini?

Peristiwa Ibrahim dan Ismail diabadikan sedemikian rupa, diperingati, dan dilanjutkan terus-menerus hingga saat ini. Salah satu penyebabnya adalah peristiwa tersebut merupakan peristiwa luar biasa. Seorang bapak bermimpi dan meyakininya, untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Sang anak pun patuh dan taat, serta rela untuk disembelih.

Misalnya peristiwa tersebut kita reka ulang pada zaman ini, kira-kira bagaimana? Pertama, apakah anak-anak kita begitu tunduk dan patuh terhadap perintah kita. Jika misalnya pada suatu pagi kita mengabarkan kepada mereka bahwa kita semalam bermimpi untuk menyembelih mereka, apa kira-kira jawaban mereka? Apakah mereka siap atau justru merasa bahwa kita sedang bercanda, sedikit gangguan jiwa, atau meracau akibat himpitan ekonomi yang demikian beratnya? Ini menunjukkan satu hal, bahwa Ibrahim sanggup mendidik anaknya dengan keteguhan keyakinan. Mari kita pelajari, metode apa yang dipakai oleh Ibrahim sehingga mampu menghasilkan generasi yang demikian hebatnya.

Kita juga harus meneliti, apakah sistem pendidikan kita saat ini juga mampu menciptakan sosok demikian. Dengan berbagai kebijakan yang selalu diperbarui, metode pengajaran yang berganti-ganti, dan sejumlah infrastruktur pendidikan yang demikian canggihnya, apakah bisa berlaku demikian. Belum lagi anak-anak kita terancam dengan narkoba, internet, games, dan banyak hal lain yang justru menjadi anti-tesis dari dunia pendidikan. Kesungguhan kita benar-benar dinanti untuk mampu menghasilkan generasi berlandaskan tauhid, iman, islam, dan ihsan. Yang ciri utamanya adalah tawakkal.

Kedua, jika kita berlaku sebagai Ibrahim, apakah tega mengorbankan anak demi perintah Tuhan? Di era sekarang, justru yang terjadi adalah ketidaktegaan orang tua terhadap anak, meskipun itu untuk kebaikan sang anak. Bukankah banyak kita jumpai, dimana orang tua melaporkan guru sekolah karena sang guru menghukum anaknya? Padahal hukuman ini bersifat mendidik, tujuannya membuat anak menjadi disiplin. Sebagai orang tua pun kita sering luput, mana yang disebut pendidikan, mana yang disebut pengajaran.

Sehingga yang terjadi adalah para guru hanya melakukan perilaku mengajar di sekolah, tanpa mendidik. Salah satu penyebabnya adalah mereka takut dilaporkan oleh wali murid. Untuk apa menegakkan disiplin jika ujung-ujungnya berakhir di bui. Perilaku mengacuhkan para guru ini secara tidak langsung meruntuhkan paradigma guru sebagai pendidik. Yang tersisa sekarang, guru adalah sang pengajar, bukan pendidik.

Mohon anda juga tidak terlalu polos, sehingga peristiwa Ibrahim & Ismail ini menjadi legitimasi untuk melakukan perbuatan menghilangkan nyawa, hak, dan pribadi anak. Bukan itu penekanannya. Tapi, apakah sayang kepada anak itu selalu berkaitan dengan kelemahlembutan atau beberapa perilaku menghukum itu juga bagian dari pendidikan kepada anak? Toh orang tua jaman sekarang tidak sungguh-sungguh peduli. Yang penting anaknya tidak merengek, ngambek, atau menangis, dibolehkan saja. Padahal bisa jadi hal itu melemahkan mental si anak. Bahkan hal-hal yang melanggar norma agama dibiarkan dalam batas toleransi, atas nama sayang kepada anak.

Maka mari kita mengevaluasi keberadaan Ibrahim dan Ismail versi modern. Kerangka dan sistem apa yang harus disiapkan agar muncul Ibrahim dan Ismail sejati di era ini. Apakah Ibrahim dan kapaknya masih realistis? Apakah tantangan Ibrahim kepada Tuhan untuk ditunjukkan cara menghidupkan dari kematian masih berguna? Atau setiap dari kita harus mulai dari nol lagi dalam pencarian Tuhan, layaknya Ibrahim lari memeluk bintang, bulan, dan matahari?

Begitu pula dengan Ismail modern. Ia harus mampu menerjemahkan segala wahyu langit di fase tercepat perubahan. Era informasi yang sangat dahsyat ini turut melahirkan perubahan dinamis yang melompat dari satu fase ke fase lain dengan cepatnya. Maka Ismail modern harus sanggup mengakomodasi perubahan tersebut, menggabungkannya dengan wahyu, sehingga dihasilkan perpaduan yang dinamis. Wahyu langit tetap dapat diterima dan dijalankan dalam setiap jaman. Itulah tugas utama Ismail.

Ibrahim dan Ismail adalah cerminan dua generasi yang bertemu. Kelak, Ismail akan menjadi nenek moyang bangsa Arab. Satu hal yang dapat kita cermati dari Ismail dan keturunannya, bahwa dalam trah Ismail, tidak ada nabi lagi setelahnya dalam kurun waktu yang panjang. Meskipun nanti Rasulullah Muhammad berasal dari keturunan nasab Ismail, tetapi ada rentang waktu yang benar-benar panjang hingga kemunculan Kanjeng Muhammad.

Berbeda dengan keturunan Ibrahim dari trah Ishaq. Setelah Ishaq, akan banyak nabi yang muncul hingga berakhir pada kenabian Isa. Setelah itu, penutup para nabi adalah Muhammad SAW yang merupakan keturunan Ismail. Apa artinya ini? Bisa jadi, saya katakan dalam ranah kemungkinan, bahwa Ismail lebih sanggup untuk menata anak keturunannya dalam garis pakem ketuhanan daripada trah Ishaq. Meskipun, hak mengangkat nabi dan rasul adalah hak preogratif Tuhan. Tetapi salah satu hikmah mengapa suatu kaum diutus nabi dan rasul karena kaum tersebut melenceng dari garis pakem ketuhanan.

Jika demikian, maka mafhum mukholafahnya, logika terbaliknya adalah tatkala suatu kaum banyak diutus nabi dan rasul, menunjukkan betapa kaum tersebut sering melenceng dari garis pakem ketuhanan. Bisa juga disinyalir bahwa kaum tersebut tidak dapat bertahan dengan perubahan jaman. Kalau begitu, Ismail dan trah keturunannya, karena tidak ada nabi di antara Ismail dan Muhammad, mungkin lebih setia dalam garis pakem ketuhanan, sehingga tidak perlu diutus nabi dan rasul.

Maka, mari kita belajar kepada Ismail, Ishaq, dan Ibrahim. Wahyu harus selaras dengan jaman. Pendidikan harus setia terhadap wahyu. Sehingga generasi-generasi selanjutnya adalah generasi dalam pakem ketuhanan.