Laporan penelitian yang ditulis dengan judul ‘A Way Back to School’ itu membuktikan bahwa anak-anak putus sekolah di Asia dapat menurunkan PDB negara hingga USD 34 miliar setiap tahunnya. Negara-negara Asia yang dimaksud adalah: Bangladesh, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand and Vietnam.

Fabana.id-Jakarta.  UNESCO mengemukakan data pada tahun 2016 bahwa jumlah anak dan remaja putus sekolah di dunia sudah mencapai 263 juta. Terdiri dari anak usia sekolah dasar sebanyak 61 juta jiwa, anak usia sekolah menengah pertama mencapai 60 juta jiwa dan anak usia sekolah menengah atas mencapai 142 juta jiwa.

Seiring dengan jumlah anak putus sekolah tersebut. Para ekonom menemukan bahwa Asia sebagai wilayah tercepat pertumbuhan ekonominya dapat menurun pendapatan PDBnya hingga 2% setiap tahunnya.

Hal tersebut didasari pada temuan sebuah studi tentang pendidikan dari Dr. PumsaranTongliemnak, analis kebijakan kementerian pendidikan di Thailand. Yang bekerjasama dengan beberapa mitra strategis seperti UNESCO, World Bank, Asian Development Bank dan UNICEF.

Laporan penelitian yang ditulis dengan judul ‘A Way Back to School’ itu membuktikan bahwa anak-anak putus sekolah di Asia dapat menurunkan PDB negara hingga USD 34 miliar setiap tahunnya. Negara-negara Asia yang dimaksud adalah: Bangladesh, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand and Vietnam.

Di tujuh negara tersebut, jumlah anak putus sekolah meningkat secara eksponensial ketika anak-anak tumbuh dewasa. Minimal 1 dari 3 anak yang putus sekolah tersebut saat masuk pada usia sekolah menengah.

Pumsaran mengingatkan, jika pemerintah maupun pihak swasta di wilayah Asia tidak segera mengambil kebijakan untuk mengurangi jumlah anak putus sekolah. Maka, wilayah dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat menjanjikan ini akan segera menghadapi kekurangan tenaga kerja yang signifikan. Dan berdampak pada pelemahan ekonomi dan pengembangan di masa depan.

“Sejarah telah membuktikan, ekonomi yang berkelanjutan di sebuah negara hanya dimiliki oleh mereka yang mampu menciptakan peluang pendidikan yang baik dan inovasi bagi setiap angkatan kerja,” jelas Pumsaran.

Sejalan dengan penelitian di atas. DHL, perusahan logistik milik dunia ikut andil memberdayakan anak putus sekolah di wilayah Asia. Melalui program DHL GoTeach, DHL ikut memberikan berbagai kesempatan pendidikan dan kejuruan bagi kaum mude kerja yang kurang beruntung di tujuh negara Asia Pasifik.

Dalam menjalankan perannya, DHL bekerjasama dengan non-governmental organization (NGO) global, Teach for All dan SOS Children’s Villages. Sebuah lembaga non profit global yang bekerja meningkatkan pendidikan, kesehatan dan personal anak di seluruh dunia melalui mentoring, pelatihan dan membuka peluang magang bagi anak muda yang membutuhkan.

Peran pendidikan lewat DHL GoTeach telah memberikan manfaat kepada 11.000 anak di Bangladesh, India, Malaysia dan Filipina pada tahun 2017. Diwaktu yang bersamaan, karyawan DHL telah meluangkan waktunya sebanyak 2.000 jam di program DHL GoTeach.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2017 lalu, DHL GoTeach telah menebar manfaat kepada 200 anak putus sekolah. Kemudian di Thailand DHL GoTeach telah mendampingi 106 anak putus sekolah. Begitu juga di negara lain: di Vietnam sebanyak 45 anak putus sekolah telah merasakan manfaat dari program DHL GoTeach, di Bangladesh sebanyak 4810 anak putus sekolah juga mendapat pendampingan melalui program DHL GoTeach.

Di India, program DHL GoTeach telah menebar manfaat kepada 3665 anak putus sekolah. Sebanyak 1556 anak putus sekolah di Malaysia pun telah merasakan manfaat program DHL GoTeach dan di Filipina sebanyak 892 anak putus sekolah telah merasakan manfaat program DHL GoTeach.

“Pihak yang gagal merespon isu anak putus sekolah akan berdampak pada pelemahan pendapatan PDB, atau bisa merasakan ketidakstabilan yang disebabkan oleh gap yang besar antara anak putus sekolah dengan yang tetap bersekolah,” jelas Pumsaran.