FABANA.id. Banyak konsep yang harus dibenahi terkait materi. Materi bisa mencakup padat, cair, dan gas. Pergeseran paradigma fisika sejak era 70-an, dari paradigma Newtonian menuju Quantum sesungguhnya menarik. Aliran Newtonian beranggapan bahwa pergerakan molekul-molekul bisa diukur secara pasti, maka lahirlah ribuan teori yang sifatnya baku. Sedangkan aliran Quantum beranggapan bahwa molekul bisa saja pergerakannya berubah-ubah berdasarkan quanta (kelompok) sehingga tidak ada teori yang benar-benar baku untuk memprediksinya.

Dalam ilmu sosial, fisika Newtonian melahirkan paradigma kuantitatif. Paradigma ini bersifat kaku dalam memahami realitas sosial. Yang diharapkan dari paradigma ini tentu saja untuk memprediksi, sehingga realitas sosial dapat dibaca dan dijadikan landasan untuk social engineering (rekayasa sosial). Tetapi sejak kemunculan fisika Quantum, juga turut mempengaruhi ilmu sosial.

Muncullah paradigma kualitatif menggeser kuantitatif. Sehingga ciri khas dari paradigma ini adalah kelenturannya memahami realitas sosial, sehingga teori-teori memiliki skala lokal tetapi lebih mendalam. Kemampuan prediksi pun hanya sebatas ranah tertentu.

Artinya, bahwa ilmu fisika turut memberi andil terhadap disiplin ilmu sosial. Di kesempatan lain saya akan menjelaskan bagaimana ilmu sosial juga dapat memberi efek kepada ilmu sains. Nah, pemahaman manusia terhadap materi itu sendiri memiliki perjalanan panjang. Ketepatan memahami materi juga memberikan ketepatan memahami terhadap apapun, karena seperti contoh di atas, pemahaman fisika terhadap materi juga turut mempengaruhi ilmu sosial terhadap realitas sosial. Pada akhirnya, dibutuhkan metode yang sungguh-sungguh pas dalam mencerna materi.

Misalnya terhadap raga ini. Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd mengatakan bahwa sejatinya raga ini benar-benar fana, bahkan dalam ukuran kasat mata dan inderawi di dunia. Keduanya sepakat bahwa raga manusia, sel-selnya selalu berganti. Satu sel mati lalu diganti sel baru. Sel yang mati dibuang karena tidak berguna lagi. Sel yang baru akan hidup dalam beberapa masa sampai akhirnya akan mati dan dibuang kembali. Begitu seterusnya, sehingga mana wujud raga manusia yang asli? Tidak ada. Raga saat ini berbeda dengan raga yang lalu dan raga di masa depan. Bahkan raga setiap menit akan selalu berbeda karena jutaan sel akan diganti terus. Jadi bisa anda bayangkan, bagaimana rapuhnya kita sebagai manusia.

Jasad atau raga atau badan ini memiliki fase pergantian yang sungguh tak terkira. Apa yang bisa kita banggakan dari raga ini? Wajah cantik, hidung mancung, suara indah, gagah besar? Tidak ada satupun. Bahkan jika sel-sel itu tidak diganti dengan sel baru maka dalam hitungan jam wajah kita akan keriput, punggung akan membungkuk, rambut beruban, dan segala macam perubahan yang tidak mungkin kita bayangkan akan terjadi.

Lalu siapa yang memerintah sel-sel itu berganti setiap detiknya? Anda sendiri bahkan tidak bisa. Lebih-lebih bagaimana caranya menghidupkan sel-sel dari zat mineral menjadi makhluk hidup? Oh, mekanisme apa yang terjadi, dari bahan anorganik menjadi organik? Kekuasaan siapa yang bisa melakukan hal tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak usah dijawab, tetapi hati kecil kita pasti mentok terhadap suatu hal di mana posisi kita sebagai manusia benar-benar tak berdaya.

Itu baru raga, materi. Belum lagi kita berbicara ruh, nyawa, hari kiamat, jin, malaikat, surga, neraka, alam barzakh, hari kebangkitan, padang makhsyar, alam dzurr, energi, frekuensi, titik koordinat alam semesta, dimensi empat hingga sembilan, dan lain-lain. Titik tolak apa yang bisa kita injak sehingga pengetahuan kita memiliki ketajaman dan presisi yang benar-benar tepat? Adakalanya manusia harus benar-benar belajar kepada Amoeba misalnya, sebagai duta perwakilan makhluk bersel satu. Tapi juga kadang manusia harus sowan ke galaksi Andromeda, untuk memperluas cakrawala pandang terhadap ruang, waktu, dan dimensi. Padahal bintang-bintang yang kita lihat di langit malam ini bisa jadi adalah hasil perjalanan cahaya jutaan tahun yang lalu. Lantas bintangnya sendiri, saat ini, detik ini, mungkin sudah musnah.

Juga bisa diagendakan untuk wawancara kepada bangsa jin sebagai senior bangsa manusia. Atau kepada malaikat, yang melihat langsung asal usul pembuatan manusia sehingga mereka mempertanyakan kebengisan manusia kepada Tuhan. Apalagi wawancara kepada Iblis, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj tentang hakikat fana dan sejati. Hingga pada akhirnya kita akan sampai pada suatu titik, bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah kefanaan saja. Sungguh-sungguh tiada. Bahwa yang sejatinya ada cuma Yang Esa, Dzat Sejati. Sedangkan kita, hanya makhluk fana yang mengaku-ngaku ada. Jadi, materi sesungguhnya fana. (MYM/F)