Masjid Hidayatullah memadukan arsitektur Tiongkok, Arab dan Nusantara. Cagar budaya berhargar di tengah kepungan gedung-gedung bertingkat pencakar langit Jakarta.

Fabana.id. Terkepung gedung-gedung pencakar langit, keberadaan Masjid Hidayatullah bagaikan kurcaci yang dikelilingi para raksasa di kawasan jalan Sudirman dan Prof. Satrio. Masjid ini merupakan cagar budaya karena merupakan bangunan bersejarah yang dibangun lebih dari dua setengah abad yang lampau.

Pemakaman di Masjid Hidayatullah Jakarta

Pemakaman di Masjid Hidayatullah Jakarta

Lokasi tepatnya ada di Jalan Karet Depan, Kelurahan Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan. Bagi para pengunjung/peziarah yang ingin menyambangi masjid ini, bisa melewati Jalan Profesor Satrio yang mengarah ke Karet. Sebelum naik melewati jalan layang Kuningan, jangan naik jembatan layang tersebut tapi berbelok ke kiri. Nah, tidak jauh sebelum gedung Sampoerna Strategic ada jalan kecil dengan plang Masjid Hidayatullah.

Rute alternatif lain, masjid bisa dicapai dari Jalan Sudirman. Setelah melewati jembatan layang kuningan, ada plang yang menunjukkan alamat masjid, persis di samping gedung Sampoerna Strategic.

Azan Masjid Hidayatullah Jakarta

Pengurus masjid sedang mengumandangkan azan.

Setiap harinya terutama jam istirahat kerja, kawasan masjid ini banyak disinggahi orang. Baik karyawan yang makan siang di warung-warung sekitaran masjid atau para musafir yang melaksanakan shalat Zhuhur. Banyak pula para ojek online dan sopir taksi yang beristirahat di sini. Selain karena hawanya yang sejuk dikelilingi pepohonan, mencari tempat ibadah di sela area perkantoran tidaklah mudah, karena harus masuk ke komplek gedung. Keberadaan masjid ini amat disyukuri mereka yang sering singgah di sini.

Menurut catatan yang pengurus masjid, Masjid Hidayatullah didirikan sekitar tahun 1743 M. Adalah seorang saudagar bernama Muhammad Yusuf yang mewakafkan sebidang tanah untuk mesjid. Menurut salah seorang pengurus yang Fabana temui, Masjid ini menjadi salah satu tempat umat Islam Jakarta merencanakan perjuangan kemerdekaan.

Bangunan asli dari masjid tidak mengalami perubahan signifikan. Sedangkan untuk menampung jama’ah dan kegiatan keagamaan lainnya, didirikan sebuah bangunan tambahan tahun 1999 lalu. Meski begitu, gaya arsitektur bangunan baru diusahakan tidak jauh berbeda dari bangunan asli.

Corak perpaduan beberapa budaya membuat masjid ini memiliki keunikan tersendiri. Ciri arsitekturnya mendapat sentuhan budaya Betawi, Jawa, Tiongkok dan Arab. Nuansa asimilasi ini terlihat dari atap bersusun seperti kelenteng orang Tionghoa. Menaranya pun mirip pagoda. Sedangkan di dalamnya tiang-tiang pancang soko guru berukir ala Jawa dan jendela khas Betawi.  Bangunan

Ada puluhan makam di halaman bangunan asli masjid. Mereka yang disemayamkan di sini adalah para pendiri masjid beserta keluarga dan keturunannya. Terdapat pula makam ulama setempat  dan tokoh-tokoh masyarakat. Karena semakin sulitnya mencari tanah pemakaman, banyak di antara jenazah yang dimakamkan satu liang bersama dengan sanak famili yang terlebih dahulu meninggal.

Foto headline: kemenag.go.id