Akan tetapi, jika dilihat dari kacamata komunikasi. Secara implisit PMDG menerapkan strategi IMC. Salah satunya adalah kegiatan perpulangan santri saat liburan setiap dua tahun sekali. Setiap daerah membentuk Panitia Perpulangan Akhir/Awal Tahun (PPAT) yang diurus oleh anak-anak kelas 4 dan 3 Intensif KMI atau setara 1 SMA.

 

FABANA.id. Dalam ilmu komunikasi, yang saya tahu ada istilah Word Of Mouth. Kalo diartikan kedalam bahasa daerah artinya gethok tular atau tutur tinular. Maksudnya segala sesuatu baik dan buruk yang ada dalam suatu entitas, cenderung akan diceritakan kepada orang lain.

Jika entitas itu baik maka kabar yang terdengar ke semua orang adalah kebikan entitas tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika kualitas entitas tersebut tidak baik. Maka, orang akan cepat mengenal keburukan atau kejelekan entitas tersebut.

Begitu juga yang saya ketahui di PMDG. Secara eksplisit PMDG tidak pernah mengkampanyekan komunikasinya lewat strategi pemasaran Above The Line (ABL) seperti pasang iklan di berbagai media masa nasional. Ataupun lewat Below The Line (BTL) seperti mensponsori secara resmi berbagai kegiatan dalam suatu komunitas.

Meskipun kedua istilah tersebut menurut para pakar komunikasi dan brand, salah satunya Managing Director of Etnomark Consulting. Amalia E Maulana sudah tidak dipakai, diganti dengan istilah Integrated Marketing Communications (IMC). Singkatnya, lewat IMC ini sebuah entitas akan semakin dikenal public dan bisa mendapatkan tempat yang special di hati masyarakat.

Lalu apakah PMDG menerapkan strategi serupa? Untuk menjelaskan ini, saya pribadi tidak bisa meyimpulkannya, karena saya tulisan ini bukan ‘suara resmi’ dari PMDG. Hanya mencoba bersuara dari apa yang saya lihat dalam perjalanan selama ini.

Akan tetapi, jika dilihat dari kacamata komunikasi. Secara implisit PMDG menerapkan strategi IMC. Salah satunya adalah kegiatan perpulangan santri saat liburan setiap dua tahun sekali. Setiap daerah membentuk Panitia Perpulangan Akhir/Awal Tahun (PPAT) yang diurus oleh anak-anak kelas 4 dan 3 Intensif KMI atau setara 1 SMA.

Setiba di daerah masing-masing ada seremoni singkat antara santri dengan para wali santri dan beberapa tamu undangan lainnya. Di acara itu juga ada pertunjukan pentas seni yang diselenggarakan oleh santri. Mulai dari pantomime, wayang orang, drama kolosal dan berbagai atraksi-atraksi menghibur lainnya.

Namun kegiatan ini didasari sebagai bagian dari perhatian pondok untuk mengantarkan anak didiknya sampai ke rumah masing-masing dengan selamat. Tidak hanya itu juga, lewat kegiatan tersebut Pondok juga turut menyebarkan nilai-nilai pondok kepada para wali santri dan tamu undangan.

Disinilah arti silaturahim itu terjalin. Satu sama lain saling mengenal dan berhubungan dengan baik. Tidak sedikit pula, dalam acara ini sinergi antara sesama wali santri tercipta diberbagai lintas bidang. Apa yang dirasakan, dilihat, didengar dan dijalankan tersebut menjadi buah bibir bagi semua insan yang bersentuhan dengan PMDG.

Istilah word of mouth pun tanpa disengaja akan tercipta dengan sendirinya. Dengan suka rela dan tanpa dipaksa, orang yang merasakan langsung pendidikan di PMDG akan menyebarkan kepada orang lain tentang kualitas pendidikan di pondok pesantren.

Tidak sedikit pula yang ingin menerapkan sistem serupa diberbagai daerah supaya lembaga pendidikan yang sedang dirintis bisa berkembang dan maju pesat seperti PMDG. Namun dari berbagai uraian strategi komunikasi yang telah dijabarkan tadi yang lebih penting adalah niat dari awal mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Seperti yang disampaikan oleh Pimpinan PMDG, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA yang saya dapatkan lewat guru dan sahabat saya Ustad Syamsul Bahri.

“Luruskan niat. Pesantren adalah lautan perjuangan dan keikhlasan, maka kalian harus menjaga keikhlasan dan semangat juang kalian. Mendirikan pesantren jangan diniatkan untuk mencari kekayaan atau mendapatkan kewibawaan, popularitas atau kemuliaan. Jika itu niatnya maka pesantren itu sulit berkembang.” Jelas Kyai Syukri.

Terkait keikhlasan, Pimpinan PMDG lainnya, KH. Hasan Abdullah Sahal selalu menegaskan bahwa Pondok pesantren adalah sebuah negeri keikhlasan.

Kyai Hasan berpesan bahwa Pondok adalah pelayan umat, tapi tidak melayani semua ‘kemauan’ umat, karena Pondok didirikan untuk mengantarkan para santrinya mengenal arti berjuang dan memahami keikhlasan. Mempelajari, menghafalkan, mengamalkan Al-Qur’an juga mendalami Islam secara kaffah. Dan untuk mencapai hal itu semua dibutuhkan aturan, kedisiplinan, kepercayaan, juga keteladanan.

Setiap pesantren punya ciri dan sistem berbeda sesuai dengan ijtihad pendirinya. Tapi keseluruhannya menuju satu tujuan ‘mardhotillah’. Gontor berdiri hingga saat Ini semua diawali dari keikhlasan para pendirinya, dilanjutkan keikhlasan pengelolanya, keikhlasan guru-guru, ustadz-ustadznya, keikhlasan santri-santrinya dengan sistem juga pola kedisiplinan, keteladanan yang rinci dan jelas.

“Maka anak-anakku, tetaplah menjaga keikhlasan dalam belajar supaya ilmu dan amalanmu bermanfaat ‘li dien wa dunya wal akhirah,” ingat Kyai Hasan.