Umumnya, lembaga pendidikan apalagi perusahaan untuk mendapatkan pasar sebanyak itu perlu gelontorkan dana hingga ratusan juga untuk menyebar iklan. Dengan harapan, agar banyak orang yang datang dan mendaftar menjadi “konsumen” setianya.

FABANA.id. Salah satu lembaga pendidikan yang terus bertahan diberbagai zaman adalah Pondok Pesantren. Jika dilihat pada usia berdirinya, beberapa Pondok Pesantren yang terus eksis dari generasi ke generasi usianya lebih tua dari Republik Indonesia. Pondok Pesantren juga menjadi ciri khas lembaga pendidikan yang ada di negeri ini.

Dari tahun ke tahun diberbagai tempat, lembaga yang menurut beberapa sumber adalah lembaga pendidikan warisan agama hindu ini, tidak pernah sepi peminat. Saking banyaknya jumlah pendaftar sebagia calon santri terpaksa belum bisa diterima.

Salah satu contohnya adalah Pondok Modern Darussalam Gonto (PMDG). Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pondok pesantren yang lain, karena bahan penulisan dan informasi yang banyak saya dapatkan adalah Pondok yang ada di kabupaten Ponorogo ini. Jadi, saya memulainya dari sini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa ada iklan di televisi, sebar brosur di tempat strategis, tidak pula pasang baleho di billboard. Namun, setiap tahun jumlah santri yang datang mendaftar terus bertambah.

Pada tahun ini Gontor menerima santri baru sebanyak 2236 orang dengan rincian kelulusan sebagai berikut: Gontor Pusat : 976 Orang, Gontor Kampus 2 Ponorogo : 260 Orang, Gontor Kampus 3 Kediri : 290 Orang, Gontor Kampus 5 Banyuwangi : 350 Orang, Gontor Kampus 6 Magelang : 360 Orang.
Sementara di Pondok Putri, dari 2.447 calon pelajar hanya 1.969 orang yang diterima sebagai pelajar Pondok Putri Gontor.

Menarik untuk dicermati, ribuan pemuda-pemudi dari berbagai wilayah di Indonesia bahkan ada yang datang dari luar negeri setiap tahunnya selalu datang untuk mendaftar.

Umumnya, lembaga pendidikan apalagi perusahaan untuk mendapatkan pasar sebanyak itu perlu gelontorkan dana hingga ratusan juga untuk menyebar iklan. Dengan harapan, agar banyak orang yang datang dan mendaftar menjadi “konsumen” setianya.

Tentu segala sesuatu butuh proses dan perjuangannya. Diusianya yang ke 90 tahun, PMDG telah kenyang dengan berbagai rintangan dan cobaan yang menghadang. Bahkan, dalam sejarahnya, saat peristiwa 19 Maret 1967 atau yang biasa dikenal dengan sebutan PERSEMAR, pondok ini pernah mengusir semua pelajarnya.

Bisa dibayangkan, apa yang dicari dari pondok ini? Jika diibaratkan dengan sebuah perusahaan, dari ratusan pelanggan yang sudah menjadi “pasar tetapnya” bukan dirawat atau “dimanja” tetapi malah “dibuang” begitu saja.

Tentu, tidak bijak jika mengibaratkan Pondok dengan sebuah perusahaan. Karena Pondok bukan berorientasi keuntungan, sementara perusahaan kalau tidak ada untung, pasti akan tenggelam di pasar.

Bersambung