Siapakah sebenarnya sosok Abah Guru Sekumpul yang peringatan haulnya di Martapura, Kalimantan Selatan dihadiri oleh ratusan ribu orang?

Bagi masyarakat Banjar dan penduduk Kalimantan Selatan pada umumnya nama Abah Guru Sekumpul sungguh tidaklah asing.  Nama lengkapnya adalah KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, sedangkan sebutan “Sekumpul” merujuk pada nama kawasan di kota Martapura tempat ia mendirikan majelis taklim.

Abah Guru adalah pribadi panutan bagi masyarakat. Sosoknya yang kharismatik menarik perhatian dari para jamaah, tokoh masyarakat hingga pejabat pemerintahan. Isi pengajian rutinnya menjadi pegangan hidup umat muslim, tidak hanya dalam aspek spiritual tapi juga sisi sosial bermasyarakat. Para pejabat publik pun sering sowan untuk meminta wejangan dalam memimpin pemerintahan.

Tidak heran hampir di setiap rumah, toko atau warung milik orang Banjar, tergantung foto ulama yang tumbuh dari keluarga sederhana ini. Tradisi tersebut merupakan wujud penghormatan publik bagi sosoknya.

Hormat Pada Orang Tua dan Guru.
Meski keturunan dari tokoh besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Guru Sekumpul lahir dari keluarga bersahaja pada 11 Februari 1942. Ia adalah putra sulung dari paGuru Zainisangan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Sedari kecil ia dididik untuk disiplin terhadap ajaran agama, menghormati guru dan orang tua.

Sewaktu kecil, KH Zaini hidup dalam kekurangan. Bahkan saat kondisi keuangan keluarga morat-marit ia kadang makan satu nasi bungkus dengan lauk sebiji telur dibagi empat yang dibagi untuk anggota keluarganya.

Tanda-tanda keistimewaan tampak saat ia menghafal Al Quran di usia 7 tahun. Memasuki jenjang pendidikan menengah, kecerdasannya begitu kesohor di kalangan anak sebayanya di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura. Beberapa kitab kuning bahkan ia hafalkan di luar kepala.

Keuletannya mencari ilmu mengantarkannya belajar pada ulama-ulama besar. Tokoh membentuk kerangka keilmuannya itu adalah Syekh Seman Mulya, pamannya sendiri. Guru Semanlah mengarahkan Guru Zaini belajar ke para pakar ilmu-lmu agama secara langsung baik di Martapura maupun luar daerah.

Di antara ulama yang mengajar KH Zaini adalah Syekh Anang Sya’rani,  Syekh Amin Kutbi, Syekh Syarwani Abdan (Bangil), Syekh Salman Jalil, Kyai Falak (Bogor), Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani (Mekkah), Syekh Hasan Masyath, Syekh  Abdul Qadir Al Bar dan masih banyak lagi.

Di antara beberapa pesan Guru Sekumpul bagi masyarakat Banjar dan masyarakat Banjar yaitu:

  1. Menghormati ulama dan orang tua.
  2. Baik sangka terhadap muslimin.
  3. Murah harta.
  4. Manis muka.
  5. Jangan menyakiti orang lain.
  6. Mengampunkan kesalahan orang lain.
  7. Jangan bermusuh-musuhan.
  8. Jangan tamak atau serakah.
  9. Berpegang kepada Allah, segala hajat akan terkabul.
  10. Yakinlah bahwa keselamatan itu ada pada kebenaran.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Setelah dirawat cukup lama akibat sakit komplikasi gagal ginjal, Sang Guru pun dipanggil ke hadirat Ilahi. Peristiwa sedih itu terjadi pada hari Rabu, 10 Agustus 2005 pukul 05.10 pagi di usia 63 tahun.

Kabar wafatnya beliau berhembus dengan cepat. Kota Martapura sepi, masyarakat berduyun takziah ke komplek Mushala Ar-Raudhah, Sekumpul untuk menshalatkan Abah Guru sekaligus memberi penghormatan terakhir. Bahkan jamaah dari kota sekitar Kalimantan Selatan dan luar daerah pun berduyun-duyun.

.