Indonesia, bisa! Sebagian orang bilang itu hanya slogan belaka. Tapi nggak sedikit dari kita sudah membuktikan benar-benar bisa.Ketika banyak anggapan muncul usaha-usaha Indonesia cuma jago kandang, Muhammad Ilham Nirwan membuktikan anggapan itu nggak sepenuhnya benar.

FABANA.id Usaha pakaian di negeri sendiri boleh jadi hal biasa. Tapi membuat produk lokal di negeri orang, hemm. Ini baru luar biasa. Muhammad Ilham Nirwan membuktikannya. Sejak lulus master di Hochschule Bremerhaven Jerman, Juni 2012 lalu, bersama sang isteri, Saskia Van Der Heijden, membangun usaha sepatu di Jerman, tepatnya di Hamburg.

Ilham tahu persis Jerman terkenal dengan teknologi maju. Tapi, Ilham ingin membuktikan, handmade Indonesia nggak kalah dengan mesin-mesin canggih di Jerman. Indonesia mempu menciptakan merek sendiri yang berkarakter serta berkualitas International.

Makin tertantang, ketika Ilham menyadari definisi `handmade`di Jerman berbeda dengan `handmade` versi Indonesia. Saking majunya teknologi di Jerman produk yang dibuat dari mesin pun disebut dengan `handmade`. Dari situlah Ilham tertantang memperlihatkan ke Jerman dan Eropa bagaimana `handmade` versi Indonesia. Lahirlah merek Marapulai.

“Alhamdulillah orang Jerman bilang Einzigartig (unik), beda, khas, rapi, nyaman dan berkualitas bagus,“ jelas Ilham di Jerman, saat dihubungi Janna.

Produk utama bermerek Marapulai, sepatu handmade seratus persen buatan Indonesia. Nama Marapulai diambil dari bahasa Minang, yang artinya baju kebesaran adat. Selain bermakna baju kebesaran adat, diharapkan menjadi pakaian kebanggaan untuk semua karena mempunyai karakteristik tersendiri dan khas.

Sekilas, nggak ada yang istemewa dari Marapulai. Tapi kalau diperhatikan dengan seksama, di bagian telapak sepatu bergambar peta Indonesia. Kata Ilham sebagai legitimasi konsep dan sepatu asal Indonesia, meski lahir di Hamburg.

Corak garis yang dipakai juga berbentuk lengkung. Gambaran dari kehidupan yang naik turun. Nuansa etnik Indonesia selalu melekat di Marapulai, agar dapat dinikmati oleh semua orang dari berbagai suku.

 

Sedang logo Marapulai bermakna, gabungan dari beberapa hewan dan tumbuhan. Tipikal negara tropis. Seperti kepala kerbau, burung hantu, kelelawar, kupu-kupu rama dan bunga sepatu. Representatif dari Bhinneka Tunggal Ika. Meski berbeda, tapi tetap harmonis. Dengan usaha kerasnya, nama dan logo Marapulai sudah terdaftar sebagai merek dagang di Jerman dan Indonesia.

“Bahan sepatu Marapulai nggak ada campuran dari kulit babi. Marapulai menggunakan kulit sapi untuk upper sepatu, insol dari kulit sapi atau kambing,” jelas pria yang sempat menjadi pelayan restoran di Jerman ini. Harga sepatu di bandrol mulai dari Rp 550 ribu sampai satu jutaan. Ke depan dia bakal produksi sepatu dengan kisaran harga Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu, sesuai dengan desain dan penggunaan materialnya. Tertarik? Like fan pagenya Marapulai Handmade.