Mahmud_YunusBagi kalangan sarjana pendidikan Islam Indonesia, nama Mahmud Yunus tidak asing lagi. Ia adalah salah satu tokoh pendidikan Islam di Indonesia. Mahmud lahir Pada tanggal 10 Februari 1899 di Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat.

Ia terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Yunus bin Incek dan Ibunya bernama Hafsah. Ayahnya sendiri berprofesi sebagai petani. Nuansa keagamaan di keluarga Mahmud yang kuat. Ayah Mahmud adalah bekas pelajar surau (pondok) dan memiliki kedalaman ilmu Islam sehingga diangkat menjadi Imam Nagari. Jabatan tersebut diberikan secara adat oleh anak nagari kepada warganya yang pantas untuk menduduki jabatan itu atas dasar ilmu agama yang dimilikinya. Di tengah masyarakat, ayah Mahmud dikenal sebagai pribadi yang taat dan jujur.

Mahmud adalah satu dari banyak tokoh intelektual Indonesia. Pemikiran dan karyanya sangat berpengaruh bagi perkembangan intelektual atau kehidupan ummat Islam Indonesia. Beberapa tulisannya masih kita dapati hingga saat ini. Ia memiliki perhatian dan komitmen yang tinggi terhadap pembangunan, peningkatan dan pengembangan pendidikan agama Islam bagi masyarakat Indonesia. Ia adalah pioner dalam bidang pendidikan, karena belum pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pendidikan Islam sebelumnya.

Aktif dan produktif dalam menulis, membuat Mahmud telah melahirkan tidak kurang dari 49 karya tulis yang dihasilkan dalam bahasa Indonesia. Tak hanya karya berbasa Indonesia, ada sekitar 26 karya tulis dalam bahasa Arab. Karya tersebut meliputi pokok-pokok pendidikan/pengajaran (diktat umum), metodik khusus pendidikan agama, sejarah pendidikan Islam  Indonesia, al-Adyan, Al-Masaail al-Fiqhiyah ‘ala Madzahib Al-Arbaah, at-Tarbiyah wa Ta’lim dan Ilmu an-Nafs.

Para pengkaji Mahmud memetakan pemikirannya, meliputi: pertama, dari segi tujuan pendidikan Islam, menghendaki agar lulusan pendidikan Islam tidak kalah dengan lulusan pendidikan yang belajar di sekolah-sekolah yang sudah maju, bahkan mutunya lebih baik dari sekolah-sekolah yang sudah maju tersebut dengan memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam bidang ilmu-ilmu umum, juga memiliki wawasan dan kepribadian Islam yang kuat, sehingga dapat memperoleh kabahagiaan dunia dan akhirat.

Kedua, dari segi kurikulum, memiliki pandangan dan gagasan yang pada masa itu tergolong baru, dan untuk masa sekarang tampak masih cukup relevan untuk digunakan, berkaitan dengan pengajaran bahasa Arab yang integrated antara satu cabang dengan cabang lainnya dalam ilmu Bahasa Arab. Anak didik diberikan cabang-cabang ilmu bahasa Arab yang dipadukan dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, dalam bidang kelembagaan, terlihat bahwa Mahmud Yunus termasuk orang yang mempelopori perlunya mengubah system pangajaran dari corak yang invidual kepada sistem yang pengajarannya klasikal.

Jasa-jasanya cukup banyak dalam pendidikan Islam di Indonesia antara lain;  pembaharuan metode pengajaran agama Islam dan bahasa Arab, memasukkan mata pelajaran umum ke dalam madrasah, membuat laboratorium fisika, mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA), memasukkan Pelajaran Agama ke Kurikulum Sekolah Pemerintah, mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam dan merintis IAIN. Atas jasanya ini, tak berlebihan jika ia disebut sebagai pahlawan pendidikan Islam.

*) artikel ini disarikan dari berbagai sumber.

Oleh: Tim Peringatan Hari Pendidikan Fabana.id