FABANA.ID – Jika kita membuka lembaran sejarah peradaban manusia, kita akan mendapati banyak fakta terkait penyimpangan perilaku seksual menyimpang semacam LGBT seperti penyuka sesama jenis. Colin Spenser dalam bukunya de I’homosexualite mengawali tulisannya dengan membuktikan keberadaan kaum homoseksual pada peradaban kuno semisal Mesopotamia, Mesir dan China. Ia memberikan analisis terhadap mitologi dewa homo yang melakukan sodomi yaitu Horus dan Seth.

Berlanjut ke masa Yunani dan Romawi. Analisis terhadap kitab suci Yahudi dan Nasrani yang melaknat perbuatan homoseksual adalah bukti yang menegaskan bahwa pada masa itu memang terdapat kaum homo. Untuk menunjukkan gejala homo, lesbian atau biseksual dalam masyarakat Islam, ia merujuk pada cerita seribu satu malam dan syair dari Ahmed ibn Yusuf al Tayfasy yang mengandung unsur pembelaan terhadap pelaku seksual yang menyimpang. Di dalam masyarakat Eropa abad pertengahan pun demikian,  praktek homoseksual, lesbian dan biseksual tetap ada meskipun terselubung. Sebagai contohnya skandal seks Raja Henry III dari Prancis dan skandal Jacques dari Inggris.

Pada masa sekarang ini, homoseksual kembali ramai disuarakan bahkan secara lantang oleh beberapa pihak. Perkara yang dahulunya ditutup-tutupi, sekarang dijajakan kembali ke sana ke mari. Salah satu argumen yang dianggap masuk akal dan harus diterima oleh segenap masyarakat adalah anggapan bahwa homoseksual adalah alami dan normal sebagai bawaan sejak lahir.

Dalam perkuliahan fakultas psikologi di berbagai universitas, buku Diagnostic Statistical Manual digunakan sebagai panduan. Sejak tahun 1973, buku itu tidak memasukkan homoseksual sebagai gangguan mental. Hal ini berarti bahwa homoseksual adalah perbuatan yang normal. Sedangkan orang yang beranggapan bahwa homoseksual adalah menyimpang (homophobia) maka orang iu sendiri yang dianggap berkelainan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kasus homoseksual adalah dianggap normal dan alami. Hal yang diberikan Allah dan manusia tidak dapat menolaknya. Hal itu tidak bisa dianggap salah karena memang merupakan pengaruh gen  dan bawaan sejak lahir.

Kajian Para Ahli

Ilmuwan yang memperkenalkan teori “Gen Gay” adalah Magnus Hirscheld dari Jerman, Dalam The Origin of the Gay Liberation Movement, ia menegaskan bahwa homoseksual adalah bawaan. Hal senada diungkapkan oleh Havelock Ellis ilmuan kebangsaan Inggris dalam bukunya Sexual Invertion menyatakan bahwa kontrol utama perilaku homoseksual adalah pengaruh gen. Mereka kemudian menyerukan persamaan hukum untuk kaum homoseksual.

Kemudian banyak peneliti semacam Dr. Michael Bailey,  Dr. Richard Pillard, Dean Hamer, Prof. George Rice,  Prof. Alan Sanders mengadakan berbagai penelitian guna membuktikan kebenaran teori “Gen Gay” tersebut. Hasil dari penelitian tersebut tidak ada satupun yang dapat mengkonfirmasi kebenaran teori gen gaynya Magnus Hirscheld.

Meskipun demikian, penelitian terhadap homoseksual terus berlanjut, dengan arah yang baru. Menurut Simon Levay seorang psikolog pro-homoseksual mengatakan bahwa homoseksual dipengaruhi oleh faktor hormon biologis.  Sehingga orang yang tertarik kepada sesama jenis tidak termasuk kedalam golongan penyakit mental, tidak merugikan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Di lain sisi Dean Byrd, seorang Profesor Psikologi Klinis dari Unversity of Utah School of Medicine. Dalam studynya “Homosexuality: Innate and Immutable.” yang dipublikasikan pada tahun 2001 menyebutkan bahwa faktor lingkungan lebih dominan menyebabkan seseorang menjadi gay atau lesbi daripada faktor gen.

Dari pernyataan Byrd diatas, dapat disimpulkan bahwa adanya unsur genetika yang membawa “gay gen” pada seseorang, tidak otomatis membuatnya menjadi seorang homoseksual. Faktor terpenting adalah pola asuh pada keluarga dan lingkungannya. Pendapat Byrd diatas dipertegas oleh Neil N. Whitehead dengan membuktikan bahwa faktor lingkungan lebih dominan dari pada faktor alamiyah. Ia seorang ahli biokimia menyatakan bahwa homoseksual tidak dipengaruhi oleh faktor gen. Ia meneliti gay gen selama kurang lebih empat puluh tahun. Hasil penelitiannya pertama kali diterbitkan pada tahun 1999 dalam bukunya yang berjudul My Genes Made Me Do It!, lalu direvisi kemudian ditambah dengan bukti kemudian diterbitkan lagi pada tahun 2013 dengan judul My Genes Made Me Do It! Homosexuality and the Scientific Evidence. Dalam bukunya tersebut, ia membuktikan bahwa homoseksual bukan disebabkan oleh faktor gen/faktor biologis. Penelitiannya dilakukan terhadap dua saudara kembar twin studies. Dari penelitiannya tersebut membuktikan dari sembilan orang kembar identik yang ia teliti, hanya satu pasangan yang membuktikan bahwa keduanya adalah homoseksual.

Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat disimpulkan bahwa tidak ada manusia yang terlahir gay ataupun lesbi, sebagaimana tidak ada seorangpun manusia yang terlahir sebagai pencuri. Karena memang tidak ada gen pencuri. Oleh sebab itu tidak seharusnya bagi orang Islam latah ikut-ikutan mengamini argumentasi yang ternyata juga masih bermasalah tersebut. Argumentasi naturnya homoseksual telah dipatahkan oleh para ilmuan yang kompeten. Bagi orang yang telah berperilaku sebagai gay atau lesbi langkah terbaik untuk segera dilakukan adalah dengan melakukan penyembuhan dalam aspek Spiritualitas, Psikologis, Biologis dan Sosialnya dengan bimbingan para ahlinya.

Dalam Islam, tatanan hubungan antara laki-laki dan perempuan sudah diatur sedemikian serasi. Perilaku menyimpang homoseksual adalah diharamkan. Sehingga memang syari’at Islam selalu mengajarkan umatnya agar memilih pasangan hidup yang sama agamanya dan beda jenis kelaminnya, bukan yang  sama jenis kelaminnya beda agamanya. Wallahu ‘Alam Bish Shawab.

Oleh: Usmanul Hakim, Guru di PP Al-Ikhlas Taliwang, KSB, NTB.